Sampai
Janitsah, hari sudah jatuh malam. Sebuah penginapan kecil masih menyisakan satu
kamar untuk mereka.
“Satu setengah
solid Ngerum atau tujuh drak Makduni. Tidak termasuk sarapan.” Jelas penerima
tamu kepada Bandarjani ketika bertanya besarnya tarif untuk menginap.
Sambil
meletakkan dua keping uang solid, Bandarjani kembali bertanya, “Kenapa tidak
termasuk sarapan? Di tempat lain setiap menginap pasti sudah termasuk sarapan.”
“Janitsah
ini sangat terkenal dengan campuran daging sapi dan daging babi untuk diolah
bersama. Irisan campuran daging itu dipanggang dan diberi saus untuk diletakkan
di antara dua keping roti. Makanan itu disebut butabuta. Bisa dimakan pagi,
siang, sore, malam. Silakan membelinya di loksandra kami kapan pun Anda mau,”
penerima tamu itu berkata dengan irama yang cepat dan tangannya bergerak
menunjuk-nunjuk sekitar. Ketika ia berkata “loksandra” telunjuknya mengarah
pada sebuah meja panjang di ujung ruang penerimaan tamu. Di seberang meja itu
ada semacam tungku bulat menempel di dinding dengan bagian terbuka menghadap ke
luar. Tungku itu ada di atas bentukan persegi di mana terdapat pintu besi. Di
samping-sampingnya banyak kayu bakar. Rupanya bagian persegi itu adalah bagian
pembakaran. Sedangkan bagian pemanggangan ada pada bagian berbentuk bulat
dengan lubang terbuka itu. Seseorang beberapa kali tampak menempelkan adonan
tepung dan mengambil roti yang sudah mekar pada bagian dalam tungku bulat itu.
Seorang yang lain beberapa kali memasukkan loyang persegi dengan cincangan
daging dan membolak-baliknya serta menambahkan saus pada loyang. Roti yang
sudah matang dibelah jadi dua. Segera setelah diberi isian cincangan daging
bersaus itu, belahan roti itu ditangkupkan untuk kemudian diberikan pada
orang-orang yang berdiri menunggu di depan meja panjang. Bandarjani
menyimpulkan kalau yang dimaksud dengan loksandra itu adalah kedai untuk
berjualan makanan. Entah benar atau tidak.
Setelah
tidur dengan pulas, pagi harinya, Bandarjani dan Daundari bersiap untuk
melanjutkan perjalanan ke Ngalabani. Namun sebelum pergi, Bandarjani penasaran
dengan rasa butabuta yang semalam diperkenalkan namanya oleh penerima tamu.
Dengan penuh semangat, Bandarjani mengantre pada jajaran orang yang berdiri di
depan meja panjang. Dari riuhnya permintaan orang pada dua orang pelayan
loksandra itu, Bandarjani yakin sekali yang dinamakan butabuta itu enak untuk
dinikmati sebagai sarapan.
“Berapa,
Pak?” tanya pelayan yang mencincang daging dan memberi saus pada tumpukan
cincangan daging di dalam loyang.
“Dua,”
jawab Bandarjani sambil mengacungkan telujuk dan jari tengah.
“Tiga
Drak.” Pelayan itu menengadahkan telapak tangan yang berkilatan lemak daging.
Bandarjani
kikuk. Ia bingung apakah keping uang itu akan ia taruh pada telapak tangan
pelayan itu atau di atas meja. Pelayan itu mendesakkan telapak tangannya tanda
ia meminta Bandarjani segera meletakkan uang pada telapak tangannya.
Bandarjani
menurut. Diletakkannya uang dua keping pada telapak tangan pelayan itu. Begitu
uang itu diterima, pelayan tadi melanjutkan tugasnya mencincang daging sambil
berteriak pada seorang pelayan yang membuat bulatan adonan dan menjadikannya
roti, “Tambah dua!”
Sepanjang
menunggu, Bandarjani memperhatikan betapa cekatan dua pelayan itu bekerja
menyiapkan roti berisi cincangan daging bersaus itu. Begitu roti yang sudah
matang diambil oleh pelayan pembuat roti, pelayan pencincang daging segera
membelah roti itu dan mengisinya dengan cincangan daging yang tadi sudah
dipanggang dengan saus dalam sebuah loyang persegi. Kemudian ia memberinya
potongan-potongan berbentuk dadu kecil-kecil dari sayuran dan terakhir sesendok
pasta yang seperti terbuat dari kuning telur yang direbus. Roti isi itu lalu
dimasukkan ke dalam kantong kertas lalu diberikan pada pembeli. Sebelum
diberikan, biasanya pelayan itu bertanya apakah pembeli menginginkan butabuta
itu pedas atau tidak. Jika dijawab pedas, tangan pelayan segera menjimpit pasta
kemerahan dalam sebuah mangkuk untuk dioleskan di atas pasta kuning pucat itu.
Yang
membuat Bandarjani merasa makin tidak berselera untuk menunggu roti butabuta
itu disajikan untuknya adalah ketika melakukan semua kegiatan mulai dari
menerima uang sampai mengoles pasta pedas dilakukan oleh pelayan pencincang
daging itu dengan tangan telanjang yang berkilat-kilat kena lemak daging.
Tiba-tiba Bandarjani merasa mual. Namun ia pikir barangkali kebiasaannya
sebagai saybinu yang berkalang debu dan kotoran blegdaba bisa membuat dirinya
terutama perutnya bisa menerima makanan yang kurang bersih penyajiannya itu.
Ketika ia
sampai pada ayahnya. Terlihat Daundari tengah menyesap sesuatu. Baunya kuat dan
harum.
“Apa yang
kau minum itu Ayah?”
“Oh. Ini
rakia. Terbuat dari rempah dan fermentasi buah. Ini minuman khas Makduni. Kau
tahu, rakia ini dibuat untuk menandingi kopi dan teh mawar. Dan banyak orang
bilang kalau sebenarnya rakia ini racun. Karena punya efek memabukkan, dan
kalau terlalu banyak atau kau sedang tidak sehat, bisa-bisa kau pingsan saat
meminumnya. Kalau sedikit seperti ini, punya khasiat untuk menghangatkan badan
dan memperlancar peredaran darah. Kau mau coba?”
Meski
tertarik dari baunya, Bandarjani tak punya keinginan untuk mencoba. Ia masih
terbayang pembuatan butabuta.
“Mana
makananku?” Tanya Daundari.
Sambil
dalam hati berharap ayahnya bisa tahan terhadap kekurangbersihan pembuatannya,
Bandarjani mengulurkan kantung kertas berisi roti butabuta itu kepada ayahnya.
Meski ia sebenarnya tidak tega. Ia takut ayahnya yang sudah tua itu akan
menderita sakit pencernaan dan tak bisa melanjutkan perjalanan ke Ngalabani. Ke
tanah kelahirannya.

Comments
Post a Comment