14. Butabuta dan Rakia



Sampai Janitsah, hari sudah jatuh malam. Sebuah penginapan kecil masih menyisakan satu kamar untuk mereka.

“Satu setengah solid Ngerum atau tujuh drak Makduni. Tidak termasuk sarapan.” Jelas penerima tamu kepada Bandarjani ketika bertanya besarnya tarif untuk menginap.

Sambil meletakkan dua keping uang solid, Bandarjani kembali bertanya, “Kenapa tidak termasuk sarapan? Di tempat lain setiap menginap pasti sudah termasuk sarapan.”

“Janitsah ini sangat terkenal dengan campuran daging sapi dan daging babi untuk diolah bersama. Irisan campuran daging itu dipanggang dan diberi saus untuk diletakkan di antara dua keping roti. Makanan itu disebut butabuta. Bisa dimakan pagi, siang, sore, malam. Silakan membelinya di loksandra kami kapan pun Anda mau,” penerima tamu itu berkata dengan irama yang cepat dan tangannya bergerak menunjuk-nunjuk sekitar. Ketika ia berkata “loksandra” telunjuknya mengarah pada sebuah meja panjang di ujung ruang penerimaan tamu. Di seberang meja itu ada semacam tungku bulat menempel di dinding dengan bagian terbuka menghadap ke luar. Tungku itu ada di atas bentukan persegi di mana terdapat pintu besi. Di samping-sampingnya banyak kayu bakar. Rupanya bagian persegi itu adalah bagian pembakaran. Sedangkan bagian pemanggangan ada pada bagian berbentuk bulat dengan lubang terbuka itu. Seseorang beberapa kali tampak menempelkan adonan tepung dan mengambil roti yang sudah mekar pada bagian dalam tungku bulat itu. Seorang yang lain beberapa kali memasukkan loyang persegi dengan cincangan daging dan membolak-baliknya serta menambahkan saus pada loyang. Roti yang sudah matang dibelah jadi dua. Segera setelah diberi isian cincangan daging bersaus itu, belahan roti itu ditangkupkan untuk kemudian diberikan pada orang-orang yang berdiri menunggu di depan meja panjang. Bandarjani menyimpulkan kalau yang dimaksud dengan loksandra itu adalah kedai untuk berjualan makanan. Entah benar atau tidak.

Setelah tidur dengan pulas, pagi harinya, Bandarjani dan Daundari bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Ngalabani. Namun sebelum pergi, Bandarjani penasaran dengan rasa butabuta yang semalam diperkenalkan namanya oleh penerima tamu. Dengan penuh semangat, Bandarjani mengantre pada jajaran orang yang berdiri di depan meja panjang. Dari riuhnya permintaan orang pada dua orang pelayan loksandra itu, Bandarjani yakin sekali yang dinamakan butabuta itu enak untuk dinikmati sebagai sarapan.

“Berapa, Pak?” tanya pelayan yang mencincang daging dan memberi saus pada tumpukan cincangan daging di dalam loyang.

“Dua,” jawab Bandarjani sambil mengacungkan telujuk dan jari tengah.

“Tiga Drak.” Pelayan itu menengadahkan telapak tangan yang berkilatan lemak daging.

Bandarjani kikuk. Ia bingung apakah keping uang itu akan ia taruh pada telapak tangan pelayan itu atau di atas meja. Pelayan itu mendesakkan telapak tangannya tanda ia meminta Bandarjani segera meletakkan uang pada telapak tangannya.

Bandarjani menurut. Diletakkannya uang dua keping pada telapak tangan pelayan itu. Begitu uang itu diterima, pelayan tadi melanjutkan tugasnya mencincang daging sambil berteriak pada seorang pelayan yang membuat bulatan adonan dan menjadikannya roti, “Tambah dua!”

Sepanjang menunggu, Bandarjani memperhatikan betapa cekatan dua pelayan itu bekerja menyiapkan roti berisi cincangan daging bersaus itu. Begitu roti yang sudah matang diambil oleh pelayan pembuat roti, pelayan pencincang daging segera membelah roti itu dan mengisinya dengan cincangan daging yang tadi sudah dipanggang dengan saus dalam sebuah loyang persegi. Kemudian ia memberinya potongan-potongan berbentuk dadu kecil-kecil dari sayuran dan terakhir sesendok pasta yang seperti terbuat dari kuning telur yang direbus. Roti isi itu lalu dimasukkan ke dalam kantong kertas lalu diberikan pada pembeli. Sebelum diberikan, biasanya pelayan itu bertanya apakah pembeli menginginkan butabuta itu pedas atau tidak. Jika dijawab pedas, tangan pelayan segera menjimpit pasta kemerahan dalam sebuah mangkuk untuk dioleskan di atas pasta kuning pucat itu.

Yang membuat Bandarjani merasa makin tidak berselera untuk menunggu roti butabuta itu disajikan untuknya adalah ketika melakukan semua kegiatan mulai dari menerima uang sampai mengoles pasta pedas dilakukan oleh pelayan pencincang daging itu dengan tangan telanjang yang berkilat-kilat kena lemak daging. Tiba-tiba Bandarjani merasa mual. Namun ia pikir barangkali kebiasaannya sebagai saybinu yang berkalang debu dan kotoran blegdaba bisa membuat dirinya terutama perutnya bisa menerima makanan yang kurang bersih penyajiannya itu.

Ketika ia sampai pada ayahnya. Terlihat Daundari tengah menyesap sesuatu. Baunya kuat dan harum.

“Apa yang kau minum itu Ayah?”

“Oh. Ini rakia. Terbuat dari rempah dan fermentasi buah. Ini minuman khas Makduni. Kau tahu, rakia ini dibuat untuk menandingi kopi dan teh mawar. Dan banyak orang bilang kalau sebenarnya rakia ini racun. Karena punya efek memabukkan, dan kalau terlalu banyak atau kau sedang tidak sehat, bisa-bisa kau pingsan saat meminumnya. Kalau sedikit seperti ini, punya khasiat untuk menghangatkan badan dan memperlancar peredaran darah. Kau mau coba?”

Meski tertarik dari baunya, Bandarjani tak punya keinginan untuk mencoba. Ia masih terbayang pembuatan butabuta.

“Mana makananku?” Tanya Daundari.

Sambil dalam hati berharap ayahnya bisa tahan terhadap kekurangbersihan pembuatannya, Bandarjani mengulurkan kantung kertas berisi roti butabuta itu kepada ayahnya. Meski ia sebenarnya tidak tega. Ia takut ayahnya yang sudah tua itu akan menderita sakit pencernaan dan tak bisa melanjutkan perjalanan ke Ngalabani. Ke tanah kelahirannya.

Kekuatiran Bandarjani rupanya tak beralasan. Setelah melanjutkan perjalanan dari Janitsah dan menginap di Kursi, sebuah kota kecil di kaki pegunungan Baba, akhirnya mereka berdua sampailah di Ilbasan. Kota kedua yang terbesar di Ngalabani sebelum ibukotanya Tiharana, tempat istana Raja Maktal berada. Wajah Daundari terlihat berseri-seri sekali begitu mereka lepas dari hutan Tomori tadi sebelum mereka sampai Ilbasan.

Comments