11. Pembentukan Pasukan Siluman



Jobin, namanya, namun karena ia seorang raja dari sebuah kerajaan bernama Kaos, sering disebut sebagai Raja Jobin. Jobin berarti lantai, atau bisa juga teras rumah. Nama ini disematkan lantaran ia hanya dianggap sebagai raja taklukan, tidak lagi memiliki kerajaannya sendiri. Kaos sekarang diperintah oleh Kobat Sarehas, anak Amir Ambyah dari Dewi Retna Muninggar. Raja Jobin ditaklukkan oleh Amir Ambyah justru ketika ia hendak menyerbu Jazirah Arab. Meskipun sebenarnya ia tidak kalah oleh Amir Ambyah, bahkan dalam pertempuran itu ia berhasil membuat Amir Ambyah terluka parah. Pedangnya, Kiai Kalamunggar, mengiris kening Amir Ambyah. Darah yang mengucur membasahi wajah Amir Ambyah membuat Jobin bisa berkali-kali memukuli raja Kuparman itu, hingga nyaris tewas. Andai saja saat itu tidak ada Kalisehak, kuda warisan nabi Iskak, tentu Amir Ambyah sudah koyak-moyak dihajar Jobin dengan pedangnya. Kekalahan Raja Jobin dari Kuparman itu lantaran kecerdikan Umar Maya yang berhasil menyelinap ke perkemahan pasukan Jobin, itu karena ia memakai jubah nabi Kilir yang membuatnya tak kasatmata, lalu meracuni makanan pasukan Jobin yang tengah mengepung Kuparman. Padahal dalam pengepungan berhari-hari itu, Jobin sudah berhasil membuat pasukan dan rakyat Kuparman makan apa saja yang hidup dan mudah ditangkap, belalang, tikus, ular, katak, kelinci bahkan bangkai bagal atau keledai dan unta. Dalam kondisi keracunan, Jobin dan patihnya, Bestak, dibawa ke hadapan Amir Ambyah yang masih belum pulih dari luka-lukanya. Meski oleh Amir Ambyah, mereka dibiarkan hidup dan disuruh pulang ke negerinya, Umar Maya merobek-robek pakaian Jobin dan Bestak, bahkan keduanya pun digunduli sebelum dikembalikan ke dalam perkemahannya. Sepulangnya dari peperangan itu, Raja Jobin memutuskan pergi ke Demis. Dan tak lama setelah Amir Ambyah tahu bahwa ia pergi ke Demis, Kuparman pun menyerbu Demis. Di hari pertama pertempuran Kuparman dan Demis, Umar Maya, dengan jubah Nabi Iskak miliknya berhasil menyeludup ke dalam istana dan mencuri mahkota raja Demis untuk dipersembahkan pada Amir Ambyah. Namun pertempuran itu, Amir Ambyah yang ditinggal oleh Umar Maya dan juga dalam keadaan masih belum pulih dari luka-lukanya, kembali dilukai oleh Raja Jobin, hingga – lagi-lagi – kuda Kalisehak menyelamatkannya dan membawa Amir Ambyah lari ke negeri Katijah. Di negeri itu, Amir Ambyah bertemu dengan Maryunani, anak pertamanya dari hasil pernikahannya dengan Sekar Kedhaton, sebelum ia menikah dengan Dewi Retna Muninggar. Maryunani kemudian memimpin perang melawan Demis dan memenanginya. Raja Jobin lalu pergi ke Kuristam sampai sekarang.

Jobin tahu bahwa saat ini ia sedang dicari-cari untuk ditangkap. Bahkan mungkin akan dibunuh. Namun sebagai raja, ia punya banyak teman dan kerabat yang siap melindunginya. Raja Kuristam, Bahman, melindungi Raja Jobin saat ini. Ia adalah salah satu raja yang tidak suka dengan ekspansi besar-besaran Amir Ambyah dan Umarmaya ke wilayah Manca Negara. Raja Bahman. “Harus ada upaya besar dari negara-negara dan kerajaan-kerajaan di wilayah ini untuk membendung Amir Ambyah. Entah dengan mendeklarasikan perang secara langsung atau menggalang kekuatan-kekuatan secara sembunyi-sembunyi.” Begitulah usul Raja Bahman di hadapan raja-raja Manca Negara. Dan ketika Raja Bahman didesak untuk memimpin, ia pun langsung mendeklarasikan perang terhadap Amir Ambyah. Jobin meskipun mendukung, ia sadar jika Amir Ambyah dan pasukannya datang ke Kuristam, maka kemungkinannya hanya ada dua; mati atau menyerah. Karena itu, ia setuju usul kedua dari Raja Bahman harus ada penggalangan kekuatan secara sembunyi-sembunyi dari seluruh wilayah negara-negara jajahan Kuparman atau Puseur Bumi. Kekuatan pasukan yang terlatih tetapi liar karena mereka akan terus bergerak untuk membuat pasukan-pasukan Kuparman terpecah konsentrasinya dari menyerang negara-negara di Manca Negara.

“Raja Bahman, jika boleh saya usul, biarlah saya sendiri yang akan mencari dan melatih serta memimpin pasukan itu,” ujar Raja Jobin selesai Raja Bahman melakukan deklarasi perang terhadap Amir Ambyah.

“Begitukah? Kau tidak ingin berada di sisiku saat aku bertarung dengan Amir Ambyah?” Sebuah senyum simpul dengan sebelah bibir sedikit ditarik dibuat oleh Raja Bahman saat ia mendengar usulan itu. Ia mengira Raja Jobin takut untuk bertempur menghadapi Amir Ambyah atau Umarmaya.

“Tentu saya ingin sekali lagi mencederai Amir Ambyah di medan perang dan bertempur bersama-sama dengan Anda, tapi jika kita berdua terlalu fokus dengan opsi pertama, lantas siapa yang akan menjalankan opsi kedua dari deklarasi perlawanan negara-negara Manca terhadap Amir Ambyah? Anda? Jika Anda tak berada di pertempuran di Kuristam ini, pasti Anda akan dianggap melarikan diri, bukan?” Raja Jobin membalas dengan senyum mengejek juga pada Raja Bahman.

“Baiklah. Baiklah. Silakan kau jalankan tugasmu. Dan rasanya, aku tak perlu mengantar kau untuk mengembara, bukan? Ha..ha..ha.” Tangan kanan Raja Bahman terentang mengarah ke kejauhan. Tanda ia mempersilakan Raja Jobin untuk segera meninggalkan istana Kuristam.

***

Mencari orang-orang kuat dan setengah putus asa bagi orang seperti Raja Jobin yang masih punya kedudukan dan harta, tentulah mudah. Para begal, perampok, pencuri bisa segera Raja Jobin temukan di sudut-sudut ibu kota Kuristam dengan bantuan kaki tangannya yang setia, Ki Demang Jagalawuk. Namun hal ini belum memuaskan Raja Jobin.

“Kita harus mencari orang-orang yang punya pandangan sama, bahwa kedamaian tidaklah bisa dibuat dengan cara yang kuat dan besar menguasai hidup yang kecil dan lemah, lalu mengaturnya, menertibkannya. Melarangnya berbuat ini dan itu. Yang akan kita buat adalah kekacauan yang bisa melemahkan supremasi. Membuat orang yang kuat dan besar itu tidak nyaman. Sekaligus tidak mengancam kehidupan yang kecil dan lemah. Aku bukan hendak membuat kelompok perampok dan pencuri,” Raja Jobin meminta senapatinya itu agar bisa dengan lebih baik memilih orang-orang yang hendak diajaknya bergabung dengan pasukan siluman ini.

“Jadi orang-orang seperti apa, Yang Mulia?”

“Mereka yang ingin perubahan besar bagi seluruh kawasan baik di Atas Angin atau di Manca. Mereka yang menolak supremasi Wong Agung Jayengrono! Sebab ia manusia biasa, sama seperti kita, dan tak seharusnya ia dijunjung tinggi begitu rupa mengalahkan manusia-manusia yang lain. Mereka yang percaya bahwa Amir Ambyah bisa kalah!” Raja Jobin melangkah mondar-mandir di teras kamar rumah tamu istana Kuristam dengan gelisah. Jagalawuk tertunduk dalam-dalam menatap lantai marmar itali yang memantulkan warna langit kebiruan.”

“Bagaimana jika saya coba mencari tahu dari kalangan para pangeran dan raja-raja muda yang saat ini tahtanya terancam tak bisa diturunkan pada mereka karena semua harus tunduk aturan dari Puseur Bumi?” Usul Jagalawuk diucapkan lirih agar tidak mengusik kegelisahan Raja Jobin.

“Ya, benar!” Sebuah senyum merekah di wajah Raja Jobin tanda ia setuju dengan usulan Jagalawuk itu. “Hal itu sangati bisa untuk dicoba. Namun jangan bawa-bawa namaku langsung. Sebab, kau tahu, saat ini aku tengah dicari-cari. Namaku seperti wabah penyakit yang orang pasti hindari.”

“Baiklah, Yang Mulia. Titahmu aku laksanakan.” Hormat Jagalawuk memohon diri.

Raja Jobin mengibas telapak tangannya, menyuruh Jagalawuk segera pergi. Meski dalam hatinya masih ada kegelisahan; bagaimana seandainya rencana ini gagal?

Setelah Jagalawuk pergi, Raja Jobin segera menutup pintu kamar rumah tamu istana Kuristam, dan tak lama kemudian, Raja Jobin keluar dengan pakaian seperti seorang abdi. Dengan sedikit langkah tergesa, Raja Jobin menuju ke gerbang istana sebelah timur, tempat di mana para prajurit istana ke luar-masuk untuk bergantian jaga. Seorang prajurit yang terkejut melihat ada abdi membawa pedang dan panah berusaha untuk menghentikannya. Namun setelah Raja Jobin memperlihatkan wajahnya, prajurit itu segera mempersilakan Raja Jobin untuk meneruskan perjalanannya. Wajah Raja Jobin memang terkenal karena sejak ia dianggap lari dari perang di mana ia berhasil melukai Amir Ambyah, banyak sekali disebarkan peringatan di seluruh negara jajahan untuk segera melaporkan keberadaan Raja Jobin lengkap dengan gambar wajah Raja Jobin pada selebaran itu. Maka sebelum Raja Jobin tiba di gerbang luar, tangannya merogoh kantung dan mengeluarkan sebuah topeng yang dibuat dari selembar kulit tipis, hiasan rambut, dan dilengkapi dengan sebuah benang tali berwarna hitam. Begitu ia menggunakan topeng itu, wajahnya kelihatan berbeda. Hidungnya jadi lebih besar dan agak bengkok, dengan alis tebal, kumis yang baplang, serta brewok. Ia terus berjalan dari gerbang timur menuju utara ibu kota Kuristam, Mahabad, di mana ada sebuah pasar besar bernama Jabres.

Comments