Jobin,
namanya, namun karena ia seorang raja dari sebuah kerajaan bernama Kaos, sering
disebut sebagai Raja Jobin. Jobin berarti lantai, atau bisa juga teras rumah.
Nama ini disematkan lantaran ia hanya dianggap sebagai raja taklukan, tidak
lagi memiliki kerajaannya sendiri. Kaos sekarang diperintah oleh Kobat Sarehas,
anak Amir Ambyah dari Dewi Retna Muninggar. Raja Jobin ditaklukkan oleh Amir
Ambyah justru ketika ia hendak menyerbu Jazirah Arab. Meskipun sebenarnya ia
tidak kalah oleh Amir Ambyah, bahkan dalam pertempuran itu ia berhasil membuat
Amir Ambyah terluka parah. Pedangnya, Kiai Kalamunggar, mengiris kening Amir
Ambyah. Darah yang mengucur membasahi wajah Amir Ambyah membuat Jobin bisa
berkali-kali memukuli raja Kuparman itu, hingga nyaris tewas. Andai saja saat
itu tidak ada Kalisehak, kuda warisan nabi Iskak, tentu Amir Ambyah sudah
koyak-moyak dihajar Jobin dengan pedangnya. Kekalahan Raja Jobin dari Kuparman
itu lantaran kecerdikan Umar Maya yang berhasil menyelinap ke perkemahan
pasukan Jobin, itu karena ia memakai jubah nabi Kilir yang membuatnya tak
kasatmata, lalu meracuni makanan pasukan Jobin yang tengah mengepung Kuparman.
Padahal dalam pengepungan berhari-hari itu, Jobin sudah berhasil membuat
pasukan dan rakyat Kuparman makan apa saja yang hidup dan mudah ditangkap, belalang,
tikus, ular, katak, kelinci bahkan bangkai bagal atau keledai dan unta. Dalam
kondisi keracunan, Jobin dan patihnya, Bestak, dibawa ke hadapan Amir Ambyah
yang masih belum pulih dari luka-lukanya. Meski oleh Amir Ambyah, mereka
dibiarkan hidup dan disuruh pulang ke negerinya, Umar Maya merobek-robek
pakaian Jobin dan Bestak, bahkan keduanya pun digunduli sebelum dikembalikan ke
dalam perkemahannya. Sepulangnya dari peperangan itu, Raja Jobin memutuskan
pergi ke Demis. Dan tak lama setelah Amir Ambyah tahu bahwa ia pergi ke Demis,
Kuparman pun menyerbu Demis. Di hari pertama pertempuran Kuparman dan Demis,
Umar Maya, dengan jubah Nabi Iskak miliknya berhasil menyeludup ke dalam istana
dan mencuri mahkota raja Demis untuk dipersembahkan pada Amir Ambyah. Namun
pertempuran itu, Amir Ambyah yang ditinggal oleh Umar Maya dan juga dalam
keadaan masih belum pulih dari luka-lukanya, kembali dilukai oleh Raja Jobin,
hingga – lagi-lagi – kuda Kalisehak menyelamatkannya dan membawa Amir Ambyah
lari ke negeri Katijah. Di negeri itu, Amir Ambyah bertemu dengan Maryunani,
anak pertamanya dari hasil pernikahannya dengan Sekar Kedhaton, sebelum ia
menikah dengan Dewi Retna Muninggar. Maryunani kemudian memimpin perang melawan
Demis dan memenanginya. Raja Jobin lalu pergi ke Kuristam sampai sekarang.
Jobin
tahu bahwa saat ini ia sedang dicari-cari untuk ditangkap. Bahkan mungkin akan
dibunuh. Namun sebagai raja, ia punya banyak teman dan kerabat yang siap
melindunginya. Raja Kuristam, Bahman, melindungi Raja Jobin saat ini. Ia adalah
salah satu raja yang tidak suka dengan ekspansi besar-besaran Amir Ambyah dan
Umarmaya ke wilayah Manca Negara. Raja Bahman. “Harus ada upaya besar dari
negara-negara dan kerajaan-kerajaan di wilayah ini untuk membendung Amir
Ambyah. Entah dengan mendeklarasikan perang secara langsung atau menggalang
kekuatan-kekuatan secara sembunyi-sembunyi.” Begitulah usul Raja Bahman di
hadapan raja-raja Manca Negara. Dan ketika Raja Bahman didesak untuk memimpin,
ia pun langsung mendeklarasikan perang terhadap Amir Ambyah. Jobin meskipun
mendukung, ia sadar jika Amir Ambyah dan pasukannya datang ke Kuristam, maka
kemungkinannya hanya ada dua; mati atau menyerah. Karena itu, ia setuju usul
kedua dari Raja Bahman harus ada penggalangan kekuatan secara sembunyi-sembunyi
dari seluruh wilayah negara-negara jajahan Kuparman atau Puseur Bumi. Kekuatan
pasukan yang terlatih tetapi liar karena mereka akan terus bergerak untuk
membuat pasukan-pasukan Kuparman terpecah konsentrasinya dari menyerang
negara-negara di Manca Negara.
“Raja
Bahman, jika boleh saya usul, biarlah saya sendiri yang akan mencari dan
melatih serta memimpin pasukan itu,” ujar Raja Jobin selesai Raja Bahman
melakukan deklarasi perang terhadap Amir Ambyah.
“Begitukah?
Kau tidak ingin berada di sisiku saat aku bertarung dengan Amir Ambyah?” Sebuah
senyum simpul dengan sebelah bibir sedikit ditarik dibuat oleh Raja Bahman saat
ia mendengar usulan itu. Ia mengira Raja Jobin takut untuk bertempur menghadapi
Amir Ambyah atau Umarmaya.
“Tentu
saya ingin sekali lagi mencederai Amir Ambyah di medan perang dan bertempur
bersama-sama dengan Anda, tapi jika kita berdua terlalu fokus dengan opsi
pertama, lantas siapa yang akan menjalankan opsi kedua dari deklarasi
perlawanan negara-negara Manca terhadap Amir Ambyah? Anda? Jika Anda tak berada
di pertempuran di Kuristam ini, pasti Anda akan dianggap melarikan diri,
bukan?” Raja Jobin membalas dengan senyum mengejek juga pada Raja Bahman.
“Baiklah.
Baiklah. Silakan kau jalankan tugasmu. Dan rasanya, aku tak perlu mengantar kau
untuk mengembara, bukan? Ha..ha..ha.” Tangan kanan Raja Bahman terentang
mengarah ke kejauhan. Tanda ia mempersilakan Raja Jobin untuk segera
meninggalkan istana Kuristam.
***
Mencari
orang-orang kuat dan setengah putus asa bagi orang seperti Raja Jobin yang
masih punya kedudukan dan harta, tentulah mudah. Para begal, perampok, pencuri
bisa segera Raja Jobin temukan di sudut-sudut ibu kota Kuristam dengan bantuan
kaki tangannya yang setia, Ki Demang Jagalawuk. Namun hal ini belum memuaskan
Raja Jobin.
“Kita
harus mencari orang-orang yang punya pandangan sama, bahwa kedamaian tidaklah
bisa dibuat dengan cara yang kuat dan besar menguasai hidup yang kecil dan
lemah, lalu mengaturnya, menertibkannya. Melarangnya berbuat ini dan itu. Yang
akan kita buat adalah kekacauan yang bisa melemahkan supremasi. Membuat orang
yang kuat dan besar itu tidak nyaman. Sekaligus tidak mengancam kehidupan yang
kecil dan lemah. Aku bukan hendak membuat kelompok perampok dan pencuri,” Raja
Jobin meminta senapatinya itu agar bisa dengan lebih baik memilih orang-orang
yang hendak diajaknya bergabung dengan pasukan siluman ini.
“Jadi
orang-orang seperti apa, Yang Mulia?”
“Mereka
yang ingin perubahan besar bagi seluruh kawasan baik di Atas Angin atau di
Manca. Mereka yang menolak supremasi Wong Agung Jayengrono! Sebab ia manusia
biasa, sama seperti kita, dan tak seharusnya ia dijunjung tinggi begitu rupa
mengalahkan manusia-manusia yang lain. Mereka yang percaya bahwa Amir Ambyah
bisa kalah!” Raja Jobin melangkah mondar-mandir di teras kamar rumah tamu
istana Kuristam dengan gelisah. Jagalawuk tertunduk dalam-dalam menatap lantai
marmar itali yang memantulkan warna langit kebiruan.”
“Bagaimana
jika saya coba mencari tahu dari kalangan para pangeran dan raja-raja muda yang
saat ini tahtanya terancam tak bisa diturunkan pada mereka karena semua harus
tunduk aturan dari Puseur Bumi?” Usul Jagalawuk diucapkan lirih agar tidak
mengusik kegelisahan Raja Jobin.
“Ya,
benar!” Sebuah senyum merekah di wajah Raja Jobin tanda ia setuju dengan usulan
Jagalawuk itu. “Hal itu sangati bisa untuk dicoba. Namun jangan bawa-bawa
namaku langsung. Sebab, kau tahu, saat ini aku tengah dicari-cari. Namaku
seperti wabah penyakit yang orang pasti hindari.”
“Baiklah,
Yang Mulia. Titahmu aku laksanakan.” Hormat Jagalawuk memohon diri.
Raja
Jobin mengibas telapak tangannya, menyuruh Jagalawuk segera pergi. Meski dalam
hatinya masih ada kegelisahan; bagaimana seandainya rencana ini gagal?

Comments
Post a Comment