Hari
sudah kembali gelap ketika menurunkan muatan dari bagal-bagal mereka dan
meletakkannya di depan ruang penerima tamu sebuah penginapan. Walmara nama
penginapan itu. Artinya danau-danau biru dalam bahasa Ngalabani. Seorang pria
kurus tinggi bertopi merah menyambut kedatangan mereka. Daundari masuk ke ruang
penerima tamu sementara Bandarjani membawa bagal-bagal mereka ke kandang yang
terletak di samping ruang penerima tamu.
Tanpa
setahu Bandarjani, Daundari memperlihatkan lencana kepatihan Ngalabani untuk
memesan kamar terbaik di penginapan itu. Melihat lencana kepatihan itu, pria
kurus tinggi bertopi merah yang tadi menyambut mereka terkejut dan tergopoh
untuk mengambilkan kunci yang segera diberikan kepada Daundari.
“Maafkan
hamba, Tuan. Saya tidak tahu kalau Tuan Patih berkunjung ke tempat hamba yang
sederhana. Ampuni jika banyak kekurangan dari kami.”
Tangannya
bergetar ketika menyerahkan kunci kamar kepada Daundari.
Daundari
tersenyum dan menepuk pundak pria itu.
“Tidak
apa. Saya justru senang bisa berada di sini. O, ya. Kalau bisa saya minta
sebotol rakia. Saya ingin mengenang masa muda dan kejayaan Ngalabani di masa
Raja Masbahan bertahta.”
Sambil
menunduk, pria kurus tinggi itu mengatakan bahwa Raja Masbahan sudah lama
mangkat.
“Ya. Aku
sudah lama mengetahuinya. Dan aku begitu sedih karena tidak mungkin aku bisa
datang pada waktu upacara pemakaman beliau. Sebab ketika itu, aku masih harus
menjalani hukum buang dan jika aku datang lalu bertemu dengan Amir Ambyah atau
Umarmaya, tentu aku akan segera menyusul Raja Masbahan.”
Malam
itu, Bandarjani mencicipi rakia. Mungkin karena belum biasa, ia menjadi mabuk
dan mengantuk. Sedangkan ayahnya membuka tirai pada tingkap kamar dan memandang
bulan yang cahayanya dipantulkan oleh dua sebuah telaga biru di kejauhan.
“Ngalabani
memang indah.” Desisnya sambil meneguk rakia pada cangkirnya. Tak lama
kemudian, ia pun menyusul Bandarjani tidur.
Siang
hari, setelah sekitar tiga jam dari penginapan Walmara, tibalah ayah beranak
itu di gerbang kerajaan Ngalabani. Sama seperti ketika di penginapan, Daundari
memberikan lencana kepatihan pada petugas jaga yang lantas membukakan pintu
gerbang untuk mereka. Seorang prajurit lain mendekat. Prajurit pembuka gerbang
membisikkan sesuatu kepada prajurit yang mendekat itu. Prajurit itu sejenak
memandang ke arah Daundari dan Bandarjani lalu menunduk dan berlari ke dalam
istana. Rupanya ia diminta oleh prajurit pembuka pintu untuk menyampaikan pesan
kepada pejabat istana bahwa Patih Daundari telah kembali.
Seorang
prajurit lain datang. Ia menghormat pada Patih Daundari lalu mempersilakan
kedua tamu istana itu untuk mengekorinya menuju bangunan utama dari istana.
Raja Maktal sudah mendapat kabar dari pejabat istana bahwa Patih Daundari, yang
sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri telah kembali ke Ngalabani. Pada
bangunan di mana prajurit membawa Daundari dan Bandarjani untuk menunggu, Raja
Maktal akan menjumpai mereka.
Bangunan
itu disebut Porocan. Dalam bahasa setempat berarti tempat datangnya sahabat.
Sebuah bangunan berbentuk persegi dengan atap tinggi. Sebuah kipas tembaga
besar berputar untuk mengatur sirkulasi udara agar orang-orang yang berada di
dalamnya tidak merasa gerah.
Begitu Daundari
dan Bandarjani memasuki Porocan, mereka melihat Raja Maktal yang gagah itu
membentangkan tangan dengan senyum yang lebar.
“Selamat
datang, Patih Daundari yang terkasih. O, lama sekali kita tak berjumpa. Betapa
rindu aku pada yang sudah aku anggap saudaraku tertua.”
Daundari
menyongsong pelukan Raja Maktal dan membalas memeluknya. Terdengar suara isak
di antara tawa mereka. Setelah merenggangkan pelukan, dan duduk bersisian,
Patih Daundari menyatakan beberapa hal, mulai dari penyesalannya tidak bisa
menghadiri pemakaman Raja Masbahan, petualangannya hingga sampai menetap di
Dara, sampai perjalanannya kembali ke Ngalabani karena perintah yang
disampaikan oleh para telik sandi, juga tidak lupa diceritakannya perjumpaannya
dengan Raja Lamdahur. Bandarjani merasa dirinya begitu asing dalam pertemuan
itu. Namun itu tak berlangsung lama, ketika Raja Maktal menunjuk padanya sambil
berkata, “Sudah berapa blegdaba yang kaujinakkan, Anak Muda?”
Sambil
tersenyum malu-malu, Bandarjani menghormat pada Raja Maktal lalu memaksakan
suaranya keluar dari tenggorokan yang terasa lengket.
“Baru
seratus delapan puluh tiga, Yang Mulia.”
Suaranya
yang terdengar aneh itu disambut oleh ketawa keras Raja Maktal.
Lalu kata
Raja Maktal kepadanya, “Jangan kuatir. Aku tak akan memintamu menjinakkan
blegdaba di sini. Kemarilah mendekat. Jangan duduk jauh-jauh. Kalau ayahmu
sudah kuanggap saudara tuaku, maka kau pun kuanggap sebagai kemenakanku
sendiri.”
Akhirnya
dari Porocan terdengar suara tawa yang lebih riuh. Karena kini Bandarjani ikut
tertawa mendengar kisah-kisah lucu saat Raja Maktal muda dan mengembara sampai
negeri Hisyam, termasuk kenakalannya. Kisah yang sebenarnya membawa kepedihan
pada keluarga kerajaan Ngalabani karena pada akhirnya ia bertemu dengan Amir
Ambyah dan menjalani hukuman sampai sekarang. Ia tidak boleh keluar dari
Ngalabani jika tidak diizinkan atau diperintah oleh Amir Ambyah. Sekalinya
diizinkan keluar dari Ngalabani pasti diminta membantu Wong Agung berperang.
“Hei
Bandarjani, tinggallah di sini, dan aku akan ajari kau ilmu perang. Supaya kau
bisa menjadi orang yang sakti seperti aku. Ya?”
Bandarjani
tersenyum senang. Namun, senyum itu segera hilang ketika ia sadar bahwa yang
diminta tinggal hanyalah dirinya. Bagaimana dengan ayahnya?
“Maaf,
Yang Mulia. Jika saya diminta tinggal di sini, apakah berarti ayah dan ibuku
juga diminta pindah ke Ngalabani?”
Raja
Maktal merubah parasnya yang tadinya gembira menjadi begitu datar. Seperti
sekelompok awan hitam tiba-tiba datang ketika matahari sedang cerah bersinar. Dan
dengan suara yang datar pula, ia berkata, “Maafkan aku Bandarjani. Aku tidak
bisa meminta ayah dan ibumu tinggal di sini. Sebab jika Amir Ambyah atau
Umarmaya tahu bahwa Patih Daundari sudah kembali ke Ngalabani, ayah dan ibumu
bisa dibunuh mereka.”
“Kenapa
mereka begitu kejam?” Protes Bandarjani.
“Bukan
begitu, Bandarjani, keponakanku. Janji adalah janji. Hukuman lain lagi. Aku dan
ayahmu telah berjanji untuk melaksanakan hukuman yang diberikan atas kejahatan
kami di masa lalu. Kami harus terus menepatinya.”
“Tidak
ada keringanan?”
Raja
Maktal menghela nafas panjang sebelum menjawab, “Entahlah, Bandarjani,
keponakanku. Entahlah. Yang aku tahu sebagai satria, aku juga ayahmu harus bisa
bersetia pada janji.”
“Kalau
begitu, aku pun tak mau tinggal di sini, Yang Mulia.”
Daundari
memberi tanda dengan tangan supaya Raja Maktal berhenti merespon ucapan
anaknya.
“Biar aku
saja yang menjelaskan kepadanya, Yang Mulia. Maklum dia masih muda. Darahnya
masih penuh gejolak. Saat ini mungkin dia anggap berpisah dengan orang tua itu
menyedihkan. Besok pasti lain lagi. Berpisah dengan kekasih akan
menyakitkannya.”

Comments
Post a Comment