15. Suara Tawa dari Porocan



Hari sudah kembali gelap ketika menurunkan muatan dari bagal-bagal mereka dan meletakkannya di depan ruang penerima tamu sebuah penginapan. Walmara nama penginapan itu. Artinya danau-danau biru dalam bahasa Ngalabani. Seorang pria kurus tinggi bertopi merah menyambut kedatangan mereka. Daundari masuk ke ruang penerima tamu sementara Bandarjani membawa bagal-bagal mereka ke kandang yang terletak di samping ruang penerima tamu.

Tanpa setahu Bandarjani, Daundari memperlihatkan lencana kepatihan Ngalabani untuk memesan kamar terbaik di penginapan itu. Melihat lencana kepatihan itu, pria kurus tinggi bertopi merah yang tadi menyambut mereka terkejut dan tergopoh untuk mengambilkan kunci yang segera diberikan kepada Daundari.

“Maafkan hamba, Tuan. Saya tidak tahu kalau Tuan Patih berkunjung ke tempat hamba yang sederhana. Ampuni jika banyak kekurangan dari kami.”

Tangannya bergetar ketika menyerahkan kunci kamar kepada Daundari.

Daundari tersenyum dan menepuk pundak pria itu.

“Tidak apa. Saya justru senang bisa berada di sini. O, ya. Kalau bisa saya minta sebotol rakia. Saya ingin mengenang masa muda dan kejayaan Ngalabani di masa Raja Masbahan bertahta.”

Sambil menunduk, pria kurus tinggi itu mengatakan bahwa Raja Masbahan sudah lama mangkat.

“Ya. Aku sudah lama mengetahuinya. Dan aku begitu sedih karena tidak mungkin aku bisa datang pada waktu upacara pemakaman beliau. Sebab ketika itu, aku masih harus menjalani hukum buang dan jika aku datang lalu bertemu dengan Amir Ambyah atau Umarmaya, tentu aku akan segera menyusul Raja Masbahan.”

Malam itu, Bandarjani mencicipi rakia. Mungkin karena belum biasa, ia menjadi mabuk dan mengantuk. Sedangkan ayahnya membuka tirai pada tingkap kamar dan memandang bulan yang cahayanya dipantulkan oleh dua sebuah telaga biru di kejauhan.

“Ngalabani memang indah.” Desisnya sambil meneguk rakia pada cangkirnya. Tak lama kemudian, ia pun menyusul Bandarjani tidur.

Siang hari, setelah sekitar tiga jam dari penginapan Walmara, tibalah ayah beranak itu di gerbang kerajaan Ngalabani. Sama seperti ketika di penginapan, Daundari memberikan lencana kepatihan pada petugas jaga yang lantas membukakan pintu gerbang untuk mereka. Seorang prajurit lain mendekat. Prajurit pembuka gerbang membisikkan sesuatu kepada prajurit yang mendekat itu. Prajurit itu sejenak memandang ke arah Daundari dan Bandarjani lalu menunduk dan berlari ke dalam istana. Rupanya ia diminta oleh prajurit pembuka pintu untuk menyampaikan pesan kepada pejabat istana bahwa Patih Daundari telah kembali.

Seorang prajurit lain datang. Ia menghormat pada Patih Daundari lalu mempersilakan kedua tamu istana itu untuk mengekorinya menuju bangunan utama dari istana. Raja Maktal sudah mendapat kabar dari pejabat istana bahwa Patih Daundari, yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri telah kembali ke Ngalabani. Pada bangunan di mana prajurit membawa Daundari dan Bandarjani untuk menunggu, Raja Maktal akan menjumpai mereka.

Bangunan itu disebut Porocan. Dalam bahasa setempat berarti tempat datangnya sahabat. Sebuah bangunan berbentuk persegi dengan atap tinggi. Sebuah kipas tembaga besar berputar untuk mengatur sirkulasi udara agar orang-orang yang berada di dalamnya tidak merasa gerah.

Begitu Daundari dan Bandarjani memasuki Porocan, mereka melihat Raja Maktal yang gagah itu membentangkan tangan dengan senyum yang lebar.

“Selamat datang, Patih Daundari yang terkasih. O, lama sekali kita tak berjumpa. Betapa rindu aku pada yang sudah aku anggap saudaraku tertua.”

Daundari menyongsong pelukan Raja Maktal dan membalas memeluknya. Terdengar suara isak di antara tawa mereka. Setelah merenggangkan pelukan, dan duduk bersisian, Patih Daundari menyatakan beberapa hal, mulai dari penyesalannya tidak bisa menghadiri pemakaman Raja Masbahan, petualangannya hingga sampai menetap di Dara, sampai perjalanannya kembali ke Ngalabani karena perintah yang disampaikan oleh para telik sandi, juga tidak lupa diceritakannya perjumpaannya dengan Raja Lamdahur. Bandarjani merasa dirinya begitu asing dalam pertemuan itu. Namun itu tak berlangsung lama, ketika Raja Maktal menunjuk padanya sambil berkata, “Sudah berapa blegdaba yang kaujinakkan, Anak Muda?”

Sambil tersenyum malu-malu, Bandarjani menghormat pada Raja Maktal lalu memaksakan suaranya keluar dari tenggorokan yang terasa lengket.

“Baru seratus delapan puluh tiga, Yang Mulia.”

Suaranya yang terdengar aneh itu disambut oleh ketawa keras Raja Maktal.

Lalu kata Raja Maktal kepadanya, “Jangan kuatir. Aku tak akan memintamu menjinakkan blegdaba di sini. Kemarilah mendekat. Jangan duduk jauh-jauh. Kalau ayahmu sudah kuanggap saudara tuaku, maka kau pun kuanggap sebagai kemenakanku sendiri.”

Akhirnya dari Porocan terdengar suara tawa yang lebih riuh. Karena kini Bandarjani ikut tertawa mendengar kisah-kisah lucu saat Raja Maktal muda dan mengembara sampai negeri Hisyam, termasuk kenakalannya. Kisah yang sebenarnya membawa kepedihan pada keluarga kerajaan Ngalabani karena pada akhirnya ia bertemu dengan Amir Ambyah dan menjalani hukuman sampai sekarang. Ia tidak boleh keluar dari Ngalabani jika tidak diizinkan atau diperintah oleh Amir Ambyah. Sekalinya diizinkan keluar dari Ngalabani pasti diminta membantu Wong Agung berperang.

“Hei Bandarjani, tinggallah di sini, dan aku akan ajari kau ilmu perang. Supaya kau bisa menjadi orang yang sakti seperti aku. Ya?”

Bandarjani tersenyum senang. Namun, senyum itu segera hilang ketika ia sadar bahwa yang diminta tinggal hanyalah dirinya. Bagaimana dengan ayahnya?

“Maaf, Yang Mulia. Jika saya diminta tinggal di sini, apakah berarti ayah dan ibuku juga diminta pindah ke Ngalabani?”

Raja Maktal merubah parasnya yang tadinya gembira menjadi begitu datar. Seperti sekelompok awan hitam tiba-tiba datang ketika matahari sedang cerah bersinar. Dan dengan suara yang datar pula, ia berkata, “Maafkan aku Bandarjani. Aku tidak bisa meminta ayah dan ibumu tinggal di sini. Sebab jika Amir Ambyah atau Umarmaya tahu bahwa Patih Daundari sudah kembali ke Ngalabani, ayah dan ibumu bisa dibunuh mereka.”

“Kenapa mereka begitu kejam?” Protes Bandarjani.

“Bukan begitu, Bandarjani, keponakanku. Janji adalah janji. Hukuman lain lagi. Aku dan ayahmu telah berjanji untuk melaksanakan hukuman yang diberikan atas kejahatan kami di masa lalu. Kami harus terus menepatinya.”

“Tidak ada keringanan?”

Raja Maktal menghela nafas panjang sebelum menjawab, “Entahlah, Bandarjani, keponakanku. Entahlah. Yang aku tahu sebagai satria, aku juga ayahmu harus bisa bersetia pada janji.”

“Kalau begitu, aku pun tak mau tinggal di sini, Yang Mulia.”

Daundari memberi tanda dengan tangan supaya Raja Maktal berhenti merespon ucapan anaknya.

“Biar aku saja yang menjelaskan kepadanya, Yang Mulia. Maklum dia masih muda. Darahnya masih penuh gejolak. Saat ini mungkin dia anggap berpisah dengan orang tua itu menyedihkan. Besok pasti lain lagi. Berpisah dengan kekasih akan menyakitkannya.”

Mendengar perkataan Daundari, Raja Maktal kembali tertawa. Bahkan tertawa lebih keras sampai seorang prajurit jaga mengira mereka bertiga yang berada dalam Porocan itu telah meneguk berbotol-botol rakia.

Comments