Setelah
melalui Edim dan menyusuri pantai selatan Odris, sampailah Daundari dan Bandarjani
di sebuah bandar pelabuhan besar bernama Saloniki, yang masuk ke dalam wilayah
negara-negara di Atas Angin. Lurus ke barat sekitar dua hari, mereka akan
sampai di Ngalabani. Sambil menyesap minuman dari sari jeruk dan madu, mereka
memandangi menara putih yang menjulang. Menara dari batuan kapur berbentuk
silinder besar, seperti raksasa tengah menantang mahluk dari kedalaman lautan
Agiyan.
“Apakah
kamu tahu kalau ungkapan ‘Jauh di mata tetapi dekat di hati’ itu lahirnya di
kota ini?” Tanya Daundari pada anaknya.
“Ah, yang
benar, Ayah?”
“Benar.
Seorang guru yang berhasil membuat orang-orang di daerah Saloniki dan seluruh
Makduni bisa menyembah dewa yang belum pernah mereka sembah sebelumnya, yaitu
Tuhan, adalah orang yang pertama-tama mengatakan hal itu.”
“Maksudnya,
orang-orang di sini sebelumnya menyembah dewa-dewa, Ayah? Lalu bagaimana
ceritanya guru itu bisa mengatakan soal jauh di mata dekat di hati itu?”
“Benar.
Dulu orang-orang di sini menyembah beragam dewa untuk beragam hal yang kuat,
indah, megah, dan menakjubkan. Ares Dewa Perang, misalnya. Atau Atin Dewa Ilmu
Pengetahuan. Lalu, datanglah guru yang bernama Bulus itu ke negeri ini. Di
dekat sebuah kolam yang dipajang aneka macam bentuk pahatan dewa-dewa, ia
meletakkan sepotong tembikar dengan gambar ikan. Orang-orang bingung, antara
ingin marah karena perbuatan Guru Bulus itu seperti merendahkan kepercayaan
mereka, tapi mereka juga tidak bisa menolak jika potongan tembikar bergambar
ikan adalah dewa bagi Guru Bulus dan pengikutnya. Ketika didesak untuk
menjelaskan perbuatannya, Guru Bulus mengatakan bahwa ia ingin memperkenalkan
dewa yang lain daripada dewa-dewa yang ada di dalam kepercayaan masyarakat
Saloniki selama ini. Lebih lanjut Guru Bulus menjelaskan mengenai Tuhan yang
bisa mendiamkan badai di lautan, menyembuhkan orang buta, membangkitkan orang
mati, bahkan menjadikan dirinya yang tadinya jahat menjadi penuh pengertian
akan maksud ajaran-ajaran agama. Mendengar cerita Guru Bulus, orang-orang
Saloniki menjadi heran karena selama ini bayangan mereka akan dewa yang haus
kekuasaan dan bisa saling mengalahkan bahkan menggunakan manusia untuk mencapai
tujuan tertentu sangatlah berbeda dengan dewa yang disebut Tuhan oleh Guru
Bulus itu. Mereka memperbolehkan Guru Bulus dan pengikutnya menetap di Saloniki.
Lambat laun, pengikut Guru Bulus menjadi banyak. Terlebih Guru Bulus juga
ternyata punya kemampuan menyembuhkan orang sakit seperti Tuhan yang ia
ceritakan. Akhirnya Guru Bulus mendirikan tempat ibadah yang besar di Saloniki.
Satu saat, Guru Bulus didatangi temannya Guru Jin. Guru Jin tahu kalau pengikut
Guru Bulus yang berasal dari Saloniki dan sekitarnya itu belumlah menjalani
upacara khusus agar dianggap sebagai pengikut Tuhan yang sejati. Guru Jin
meminta Guru Bulus untuk mengumumkan perlunya upacara tersebut kepada
pengikutnya. Guru Bulus menolak. Memberi persyaratan tambahan kepada mereka
yang sudah menjadi pengikut Tuhan menurut Guru Bulus adalah perbuatan sia-sia.
Guru Jin tidak mau mendebat Guru Bulus, tetapi yang ia lakukan adalah meminta Guru
Jin mengikut dirinya berangkat ke negeri-negeri di bagian utara Atas Angin.
Maksudnya adalah agar Guru Bulus bisa belajar pada Guru Jin bagaimana
menjadikan seorang pengikut Tuhan patuh mulai dari menjalani upacara khusus itu
sebelum dibasuh dengan air suci dan berikrar menjadi pengikut Tuhan. Nah, dari
perantauan itulah Guru Bulus menulis surat kepada para pengikutnya di Saloniki
ini yang di dalamnya terdapat ungkapan ‘Jauh di mata tetapi dekat di hati’
itu.”
“Lalu,
Guru Bulus itu bisa kembali ke Saloniki, Ayah?”
“Tidak.
Guru Bulus tidak kembali ke Saloniki. Ia meninggal, tepatnya dibunuh oleh
penguasa Ngerum, setelah sekian lama mengembara dan dipenjara.”
Bandarjani
menggaruk kepalanya. Sinar matahari siang di pesisir pantai begitu terik.
Meskipun telah meneguk dua gelas sari jeruk dan madu, ia merasa masih
kegerahan. Ia berdiri dan mengibaskan pasir di pantat celananya lalu mengajak
ayahnya untuk kembali melanjutkan perjalanan.
“Ayah,
mari kita berangkat ke Ngalabani!”
Daundari
tertegun sejenak. Matanya masih memandang kejauhan.
“Ayah,
ayo!”
Kepala
Daundari menoleh sekali lagi ke arah laut sebelum ia berjalan pelan menghampiri
Bandarjani. Melihat Daundari begitu, Bandarjani merasa kuatir.
“Apakah
Ayah sakit? Atau hanya lelah? Bagaimana kalau kita mencari tempat untuk
istirahat dulu?”
Daundari
tersenyum terpaksa.
“Aku
tidak apa-apa. Hanya memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika kita sudah
sampai di Ngalabani. Jika Raja Maktal meminta kita tinggal, tentu kita harus
segera menjemput ibumu. Jika tidak, aku akan benar-benar merasa kehilangan
tanah kelahiranku.”

Comments
Post a Comment