13. Di Saloniki



Setelah melalui Edim dan menyusuri pantai selatan Odris, sampailah Daundari dan Bandarjani di sebuah bandar pelabuhan besar bernama Saloniki, yang masuk ke dalam wilayah negara-negara di Atas Angin. Lurus ke barat sekitar dua hari, mereka akan sampai di Ngalabani. Sambil menyesap minuman dari sari jeruk dan madu, mereka memandangi menara putih yang menjulang. Menara dari batuan kapur berbentuk silinder besar, seperti raksasa tengah menantang mahluk dari kedalaman lautan Agiyan.

“Apakah kamu tahu kalau ungkapan ‘Jauh di mata tetapi dekat di hati’ itu lahirnya di kota ini?” Tanya Daundari pada anaknya.

“Ah, yang benar, Ayah?”

“Benar. Seorang guru yang berhasil membuat orang-orang di daerah Saloniki dan seluruh Makduni bisa menyembah dewa yang belum pernah mereka sembah sebelumnya, yaitu Tuhan, adalah orang yang pertama-tama mengatakan hal itu.”

“Maksudnya, orang-orang di sini sebelumnya menyembah dewa-dewa, Ayah? Lalu bagaimana ceritanya guru itu bisa mengatakan soal jauh di mata dekat di hati itu?”

“Benar. Dulu orang-orang di sini menyembah beragam dewa untuk beragam hal yang kuat, indah, megah, dan menakjubkan. Ares Dewa Perang, misalnya. Atau Atin Dewa Ilmu Pengetahuan. Lalu, datanglah guru yang bernama Bulus itu ke negeri ini. Di dekat sebuah kolam yang dipajang aneka macam bentuk pahatan dewa-dewa, ia meletakkan sepotong tembikar dengan gambar ikan. Orang-orang bingung, antara ingin marah karena perbuatan Guru Bulus itu seperti merendahkan kepercayaan mereka, tapi mereka juga tidak bisa menolak jika potongan tembikar bergambar ikan adalah dewa bagi Guru Bulus dan pengikutnya. Ketika didesak untuk menjelaskan perbuatannya, Guru Bulus mengatakan bahwa ia ingin memperkenalkan dewa yang lain daripada dewa-dewa yang ada di dalam kepercayaan masyarakat Saloniki selama ini. Lebih lanjut Guru Bulus menjelaskan mengenai Tuhan yang bisa mendiamkan badai di lautan, menyembuhkan orang buta, membangkitkan orang mati, bahkan menjadikan dirinya yang tadinya jahat menjadi penuh pengertian akan maksud ajaran-ajaran agama. Mendengar cerita Guru Bulus, orang-orang Saloniki menjadi heran karena selama ini bayangan mereka akan dewa yang haus kekuasaan dan bisa saling mengalahkan bahkan menggunakan manusia untuk mencapai tujuan tertentu sangatlah berbeda dengan dewa yang disebut Tuhan oleh Guru Bulus itu. Mereka memperbolehkan Guru Bulus dan pengikutnya menetap di Saloniki. Lambat laun, pengikut Guru Bulus menjadi banyak. Terlebih Guru Bulus juga ternyata punya kemampuan menyembuhkan orang sakit seperti Tuhan yang ia ceritakan. Akhirnya Guru Bulus mendirikan tempat ibadah yang besar di Saloniki. Satu saat, Guru Bulus didatangi temannya Guru Jin. Guru Jin tahu kalau pengikut Guru Bulus yang berasal dari Saloniki dan sekitarnya itu belumlah menjalani upacara khusus agar dianggap sebagai pengikut Tuhan yang sejati. Guru Jin meminta Guru Bulus untuk mengumumkan perlunya upacara tersebut kepada pengikutnya. Guru Bulus menolak. Memberi persyaratan tambahan kepada mereka yang sudah menjadi pengikut Tuhan menurut Guru Bulus adalah perbuatan sia-sia. Guru Jin tidak mau mendebat Guru Bulus, tetapi yang ia lakukan adalah meminta Guru Jin mengikut dirinya berangkat ke negeri-negeri di bagian utara Atas Angin. Maksudnya adalah agar Guru Bulus bisa belajar pada Guru Jin bagaimana menjadikan seorang pengikut Tuhan patuh mulai dari menjalani upacara khusus itu sebelum dibasuh dengan air suci dan berikrar menjadi pengikut Tuhan. Nah, dari perantauan itulah Guru Bulus menulis surat kepada para pengikutnya di Saloniki ini yang di dalamnya terdapat ungkapan ‘Jauh di mata tetapi dekat di hati’ itu.”

“Lalu, Guru Bulus itu bisa kembali ke Saloniki, Ayah?”

“Tidak. Guru Bulus tidak kembali ke Saloniki. Ia meninggal, tepatnya dibunuh oleh penguasa Ngerum, setelah sekian lama mengembara dan dipenjara.”

Bandarjani menggaruk kepalanya. Sinar matahari siang di pesisir pantai begitu terik. Meskipun telah meneguk dua gelas sari jeruk dan madu, ia merasa masih kegerahan. Ia berdiri dan mengibaskan pasir di pantat celananya lalu mengajak ayahnya untuk kembali melanjutkan perjalanan.

“Ayah, mari kita berangkat ke Ngalabani!”

Daundari tertegun sejenak. Matanya masih memandang kejauhan.

“Ayah, ayo!”

Kepala Daundari menoleh sekali lagi ke arah laut sebelum ia berjalan pelan menghampiri Bandarjani. Melihat Daundari begitu, Bandarjani merasa kuatir.

“Apakah Ayah sakit? Atau hanya lelah? Bagaimana kalau kita mencari tempat untuk istirahat dulu?”

Daundari tersenyum terpaksa.

“Aku tidak apa-apa. Hanya memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika kita sudah sampai di Ngalabani. Jika Raja Maktal meminta kita tinggal, tentu kita harus segera menjemput ibumu. Jika tidak, aku akan benar-benar merasa kehilangan tanah kelahiranku.”

Bandarjani lega karena ayahnya ternyata hanya tengah dilanda semacam melankolia. Namun karena masih sedikit kuatir, Bandarjani mengusulkan pada ayahnya untuk mencari tempat penginapan. Ayahnya menolak, katanya, “Jangan di sini kita menginap. Kita lanjutkan dulu perjalanan sampai Janitsah, baru beristirahat.”

Comments