Di
Jabres, Raja Jobin membeli seekor kuda, sekantung roti manis, dan mengisi wadah
kantung kulitnya dengan air sebelum ia melanjutkan perjalanannya dengan berkuda
melintasi Kuristam lurus ke barat, melewati kota Sirit, Mardin, dan Ngurup, dan
bermalam di kota Jemurtalak di negeri Ngerum. Ia berpacu dengan laju pasukan
Kuparman yang hendak mengarah ke Kuristam. “Sebelum pasukan Amir Ambyah sampai
ke Damsyik, aku harus sudah berada di Ngerum atau Abeja,” begitu tekadnya.
Kuristam
adalah sebuah wilayah kecil sedikit ke selatan dari Turki. Diapit Laut Hitam
dan Laut Mediterania. Turki saat itu dikuasai oleh Ngerum. Namun karena kontur
lahan Kuristam yang berbukit-bukit dan kebanyakan orang Kuristam adalah gembala
domba dan nomaden, Kuristam dianggap hanya seperti lahan kosong yang tak perlu
dikuasai atau dibangun sebuah benteng di sana. Orang Ngerum rupanya tidak
menyadari akan adanya perubahan besar yang terjadi pada Kuristam. Seorang dari
timur bernama Bahuman, kakek dari Raja Bahman, datang dan mempersatukan para
gembala yang mendiami wilayah Kuristam. Ia menampakkan diri pada sepuluh orang
gembala pada suatu malam ketika mereka hendak tidur di padang belantara menjaga
domba-domba mereka dari terkaman serigala. Para gembala itu melihat Bahuman seperti
bintang yang sangat bercahaya pada malam itu. Padahal yang terjadi adalah
Bahuman membawa lentera berbahan kotoran kelelawar yang dibakar. Nyala kotoran
itu hijau-biru terang sekali karena mengandung banyak fosfor.
“Apakah
kau hantu?” Teriak seorang gembala setelah Bahuman dekat pada mereka.
“Atau kau
malaikat?” jerit yang lain.
“Mungkinkah
Ia Tuhan?” ada lagi yang menimpali sambil menyembunyikan wajahnya karena silau.
“Tenanglah.
Jangan takut. Aku membawa kabar baik untuk kalian semua,” kata Bahuman dengan
suara yang teduh.
“Kabar
baik apa? Bagi kami, semua domba-domba yang ada di padang ini tak ada satupun
yang dimangsa serigala atau beruang itu adalah kabar baik.”
“Kalian
tidak ingin hidup sebagai bangsa yang besar seperti orang-orang di Ngabesin atau
di Ngerum?”
“Apa yang
bisa kau lakukan dengan Kuristam yang hanya padang rumput dan bukit-bukit?
Domba, serigala, beruang, dan orang-orang tanpa ilmu perang dan pengalaman
seperti kami?”
“Asal
kalian mau, aku bisa mewujudkannya. Kita bisa hidup lebih dari sekadar gembala
dan peternak.” Bahuman menurunkan kantung besar yang dari tadi ia panggul.
Isinya adalah kitab-kitab tentang bangunan, senjata, dan pertanian. Para
gembala itu merubungi Bahuman dan mendesaknya untuk menceritakan lebih lanjut
tentang rencananya membuat Kuristam menjadi sama seperti Ngerum atau Ngabesin.
Berita
tentang kedatangan Bahuman segera menyebar ke seluruh pelosok Kuristam. Dari
sepuluh gembala yang mengikut dan setuju rencana Bahuman, berkembang menjadi
seratus. Dari seratus ke seribu, dan akhirnya seluruh gembala di Kuristam
setuju mendukung rencana Bahuman. Pertama-tama mereka bahu membahu mendirikan
tembok benteng lengkap dengan menara jaganya di sebelah barat Tihran untuk
mengusir serigala. Lalu didirikan lagi tembok benteng di sebelah utara Bakdad,
ini untuk menjaga gembalaan dari serbuan para perampok. Kemudian sebuah tembok
benteng lagi didirikan di sebelah selatan Siblisi, ini untuk mengusir beruang.
Lama-lama,
pada tiap menara benteng yang ada itu tumbuhlah kota-kota kecil. Ada Mihabad
yang di barat Tihran, ada Musli yang di utara Bakdad, dan ada Karsi-Agri di
selatan Siblisi. Kota-kota kecil itu tumbuh jadi kota besar. Mihabad dijadikan
ibukota dan diganti namanya menjadi Mahabad. Bahuman diangkat sebagai raja
pertama Kuristam dan dijuluki Adiyahman, karena berhasil menyatukan seluruh
rakyat Kuristam.
Bahuman
atau Adiyahman mempunyai anak bernama Bakridiya yang juga berjasa besar bagi
Kuristam karena ialah raja yang berhasil membuat Kuristam cukup disegani oleh
para perampok dari Bakdad, para pencuri dari Parsi, atau para petualang dari
Ngabesin. Bakridiya membentuk beberapa regu pasukan berkuda yang trengginas
dalam mengatasi kerusuhan. Dengan kegesitan regu-regu pasukan berkuda yang
mudah dan cepat bergerak untuk beraksi, Kuristam aman tenteram.
Adanya
kerajaan baru di Kuristam membuat Ngerum akhirnya mengirim utusan untuk
menanyakan sikap raja Kuristam terhadap raja Ngerum. Karena Bakridiya sadar
bahwa pasukan-pasukan berkudanya tidak mungkin bisa menghadapi berlaksa-laksa
pasukan yang dimiliki Ngerum, Bakridiya memberikan seribu ekor domba jantan
sebagai upeti kepada raja Ngerum. Hal inilah yang kemudian menjadikan Kuristam
sempat dilanda prahara politik dalam negeri karena sebagian dari petinggi di
Kuristam mengira Bakridiya menyerahkan Kuristam sebagai negara jajahan Ngerum
sama seperti Turki, Gerika, atau Ngalabani. Namun Bakridiya tidak tinggal diam
terhadap rongrongan atas kekuasaannya. Dengan restu Bahuman yang belum
meninggal saat itu, Bakridiya mengeksekusi para Menteri dan petinggi kerajaan
yang mencemooh dirinya, dan setelahnya ia mengganti gelarnya menjadi Raja
Bahuman II.
Dalam
upacara penggantian gelarnya, potongan-potongan tubuh para Menteri dan petinggi
kerajaan yang dieksekusi disebarkan ke seluruh padang di lembah Solum sebagai
makanan untuk burung elang dan dubuk di sana. Sejak itu lembah Solum yang
artinya “Pengingat pada diri sendiri” dalam bahasa Kuristam, diganti namanya
menjadi Mawsul yang berarti “Yang dikaitkan” karena potongan-potongan tubuh
para Menteri pembangkang itu ketika hendak dilemparkan pada elang atau
dubuk-dubuk itu, diikat dengan tali yang diberi pengait, seperti mata kail
besar. Raja Bahuman II karena kekejamannya itu tidak hanya disegani di dalam
negeri saja tetapi juga ditakuti oleh penduduk di negara tetangga. Orang Ngerum
tidak ada yang mau datang ke Kuristam jika tidak terpaksa untuk urusan dagang
khususnya daging dan susu serta bulu wol. Demikian juga orang Uru dan orang
Parsi. Kuristam selalu dianggap lubang hitam dari percakapan politik dan
perdagangan, meski tidak sepenuhnya benar. Semacam pengucilan dari negara lain
ini membuat Raja Bahuman akhirnya bersedih dan meninggal dunia. Tak berselang
lama dari kejadian itu, Raja Bahuman II menyatakan turun tahta. Pada saat itu,
Amir Ambyah telah menguasai Kuparman dan negara-negara lain, tapi Raja Bahuman
II tidak peduli. Ia yakin perjanjiannya dengan Ngerum dan negara-negara lain
akan melindungi negerinya dari penjajahan oleh Wong Agung Jayengrono itu. Dan
hal itu terbukti benar sampai Raja Bahman, anaknya, mendeklarasikan peperangan
dengan Amir Ambyah setelah mendengar cerita dari Raja Jobin bahwa Amir Ambyah
bisa dilukai dan berdarah-darah.
Di
Jemurtalak, ada seorang mantan perampok dan pencuri yang sekarang menjadi
seorang guru. Namanya Dail Aliyad. Ia bertobat berhenti dari pekerjaannya
merampok dan mencuri karena ia mendengar pemilik rumah yang hendak dirampoknya
itu berseru, “Kapan, Ya Tuhan, Kau tundukkan hati orang yang mengaku beriman
untuk mengingat-Mu dan seluruh kebenaran-Mu?”
Dalam
hati Dail Aliyad, orang yang hendak dirampoknya ini tengah putus asa karena
sesuatu yang berkenaan dengan orang yang dianggap beriman. Mungkin ia habis
ditipu. Dail Aliyad sadar bahwa penjahat yang sebenarnya dalam kehidupan ini
adalah orang yang dianggap lebih mulia tetapi justru dalam hatinya penuh dengan
keinginan untuk menguasai harta atau kepunyaan orang lain. Orang-orang yang
bermental korup. Penjahat seperti dirinya yang hidup dari merampok dan mencuri
harta orang lain hanyalah penjahat biasa yang seringkali hukumannya lebih berat
dibandingkan jika orang-orang yang mulia itu jika tertangkap. Mereka bisa
mendapatkan berbagai kemudahan dan fasilitas selama dalam penjara, sedangkan
dirinya bisa beradu fisik hanya untuk urusan tidur atau makan dengan para
penjahat lain. Maka setelah Dail Aliyad mendengar orang yang hendak dirampoknya
berkata demikian, ia memutuskan untuk menghentikan seluruh perbuatan jahatnya.
Dail
Aliyad pergi ke seorang guru bernama Samangi yang memberinya nasihat, ”Apa-apa
yang akan menyebabkan turunnya rezeki ke atasmu, itu sudah tergambar di langit.
Sudah ditentukan bagimu. Kau tinggal menjalankan hidup dengan baik.”
Berbekal
nasihat Samangi itu, Dail Aliyad mulai menyediakan dirinya untuk membantu siapa
saja yang membutuhkan tenaganya. Mulai dari angkut barang di pasar, menjadi
tukang bangunan, dan hampir semua pekerjaan yang melibatkan fisik dijalaninya.
Saat malam hari, ia berkeliling kota untuk menyampaikan nasihat-nasihat tentang
kebaikan dan berusaha menyadarkan para pencuri dan perampok yang berkeliaran.
Orang-orang di Jemurtalak pun menyukai perbuatan Dail Aliyad. Rumah mereka
aman, dan banyak orang jahat disadarkan akan perbuatan mereka. Dan karena
nasihat-nasihatnya akan kebaikan itulah, Dail Aliyad kemudian dianggap juga
sebagai guru.
Kisah
bertobatnya Dail Aliyad ini ada juga yang mengatakan bahwa Dail Aliyad menjadi
bertobat karena hendak merampok Guru Samangi. Entah kisah mana yang benar, bagi
Raja Jobin tidaklah penting. Ia hanya tahu bahwa Dail Aliyad adalah mantan
perampok yang bisa ia manfaatkan untuk merekrut banyak orang untuk menjadi
pasukan pengacau keamanan. Karena itulah ia datang ke rumah Dail Aliyad.
Di depan
Dail Aliyad, Raja Jobin memperkenalkan dirinya sebagai Sayid Gopar, seorang
kaya dari Ngubedah, “Kedatangan saya untuk meminta bantuan dari Guru Dail
Aliyad yang terkenal seantero Ngerum.”
“Jangan
memuji berlebihan. Saya hanya seorang guru yang murid-muridku hanya berasal
dari seputaran Jemurtalak. Katakan saja bantuan apa yang Anda harapkan dari
seorang guru seperti saya?”
Sayid
Gopar mengangsur sekantung solid Ngerum ke hadapan Dail Aliyad, “Terima kasih
atas kebaikan Guru menerima permohonan saya, sebagai tanda terima kasih saya,
mohon bisa diterima yang tak seberapa ini.”
Sayid
Gopar ingin menguji apakah Dail Aliyad dengan kedudukannya sekarang masih mau
menerima uang sebagai imbalan atas pertolongan kepadanya. Sebab ia mendengar
cerita bahwa Dail Aliyad tidak pernah menerima upah berupa uang untuk mengajar
kebaikan pada murid-muridnya melainkan murid-muridnya yang sudah mendapatkan
penghasilan akan membelikan aneka kebutuhan hidupnya sehari-hari mulai dari
tepung, minyak, rempah, dan lainnya sebagai ganti dari uang.
Dail
Aliyad bergeming. Meski terlihat tenang, sempat matanya melirik pada kantung
uang itu. Sebuah senyum terkembang. Tangannya tetap bersidekap.
“Apa-apaan
itu? Setiap tamu harus ditemui dan dijamu. Itu aturan penting dalam hidup
bermasyarakat. Meskipun mungkin kita seringnya kesulitan untuk menjamu tamu
karena keadaan. Pernah dengar kisah seorang perempuan tua dan anaknya yang
hampir mati kelaparan tapi malah membuatkan dua buah roti bulat untuk seorang
paderi? Mereka diberkati luar biasa oleh Tuhan karena kebaikannya itu. Tepung
dan minyak tak habis-habis bertambah dari buli-buli yang mereka punya.
Sampai-sampai bisa dijual pada para tetangga. Dan akhirnya mereka jadi kaya
raya. Begitulah utamanya menerima tamu.”
Sayid
Gopar pun bergeming. Ia tak berusaha menarik kantung uang itu.
“Itu
tidak seberapa, Guru. Mungkin Tuan Guru pernah mendengar kisah seorang pemuda
kaya yang ingin masuk surga? Ia diperintahkan menjual seluruh harta bendanya
dan memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan. Saya lihat Guru belum
punya ashram. Ruang belajar. Mungkin uang itu bisa Guru manfaatkan untuk
membeli sebidang tanah dan mendirikannya.”
Lagi-lagi
Dail Aliyad bergeming. Ia mempersilakan Sayid Gopar mencecap secangkir teh
mawar, “Silakan diminum dulu tehnya. Ini teh mawar yang membuat orang-orang
selalu kangen dengan Jemurtalak. Teh yang wangi dan punya rasa manis yang
ringan meski tidak diberi gula. Cocok untuk segala suasana. Minum hangat di
malam begini, atau bisa diminum dingin waktu panas siang hari. Konon teh ini
ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang pengelana yang katanya diutus oleh
Tuhan untuk memberi nasihat kepada penduduk kota di Nimwah. Pernah dengar
ceritanya?”
Sambil
mengangkat cangkir, Sayid Gopar menekuk leher ke arah pundak, sehingga
kepalanya bergerak sedikit miring dan berkata, “Silakan diceritakan. Saya
senang mendengar aneka petuah dan cerita.”
“Cerita
singkat saja ya? Biar tidak kemalaman Sayid Gopar nanti pulangnya. Kalau di
Jemurtalak sudah pasti aman. Sayid Gopar tinggal bilang saja kalau Anda tamu
dari saya. Pasti tidak ada yang mau mengganggu. Namun di kota lain? Saya tidak
bisa menjamin. Jadi, ketika pengelana itu sampai di Nimwah, seluruh penduduk
kota sudah tahu kalau ia mau datang. Disambutnya pengelana itu seperti seorang
yang amat mulia. Pengelana itu heran karena sebelumnya, ia sempat lari dari perintah
untuk menyampaikan pesan kebenaran dari Tuhan di kota Nimwah itu. Lucunya, ia
marah sama Tuhan. Sudah disuruh jauh-jauh ke Nimwah yang katanya penduduknya
membangkang pada Tuhan, tapi sampai di sana malah ia disambut dengan baik.
Akhirnya ia lari ke pantai. Tinggal di sana sementara waktu. Karena Tuhan
sayang sama dia ditumbuhkannya rumpun mawar yang rindang sebagai naungan buat
Si Pengelana ini beristirahat. Penduduk Nimwah sering datang membujuknya untuk
tinggal di kota Nimwah. Pengelana ini bergeming. Ia merasa telah gagal diutus
oleh Tuhan untuk menyampaikan kebenaran. Kalau ia ke kota itu untuk apa lagi?
Penduduk Nimwah sudah tahu tentang Tuhan. Akhirnya Tuhan mengirimkan ulat-ulat
yang gemuk untuk menggeret dedaunan mawar itu. Sampai habislah semua semak
mawar yang rimbun itu. Tersisa hanya bunga-bunganya saja. Pengelana itu makin
marah kepada Tuhan. Dicerabutnya bunga-bunga mawar itu lalu dilemparkan ke
laut. Yang terjadi selanjutnya laut itu menjadi berwarna merah muda dan berbau
harum. Akhirnya dia sadar bahwa jika Tuhan mengutus untuk sesuatu hal pasti ada
maksudnya. Ia pun mau datang ke kota Nimwah untuk mengajar sebagai guru. Dan
untuk mengenang peristiwa di pantai itu, Pengelana itu membuat teh mawar.
Begitulah kira-kira asal-usul teh mawar ini, Sayid Gopar.”
Sayid
Gopar manggut-manggut. Ia kira dapat menangkap hal penting dari cerita Guru
Dail Aliyad itu. Maka ia pun sambil tersenyum berkata, “Kiranya Tuhan pun punya
rencana yang baik atas kedatangan saya ke hadapan Tuan Guru.”
Dail
Aliyad balas tersenyum sebelum akhirnya ia tertawa.
“Anda
mahir mempermainkan kata-kata, Sayid Gopar. Sungguh saya harus hati-hati bicara
dengan Anda. Baiklah sampaikan secara terus terang maksud dari kedatangan Anda,
Sayid Gopar. Saya hanya seorang guru bukan peramal.”
Sayid
Gopar alias Raja Jobin akhirnya mengatakan bahwa ia datang untuk meminta
bantuan sejumlah orang untuk dijadikan pasukan pengacau keamanan terutama di
wilayah Medayin dan Kuparman. Wajah Dail Aliyad memerah menahan amarah. Ia
merasa perkataan Sayid Gopar telah merendahkan dirinya. Ia sudah bertobat
menjadi penjahat, tetapi Sayid Gopar datang untuk meminta dirinya merekrut para
penjahat. Melihat perubahan air muka Dail Aliyad, Sayid Gopar memelankan nada
bicaranya dan mengatakan bahwa ia tidak ingin mengembalikan orang baik menjadi
jahat, karena yang ingin ia hancurkan adalah kekuasaan yang membuat banyak
orang baik menjadi jahat.
“Apakah
salah jika yang jahat itu kita lawan dengan kekerasan, Guru? Dan yang saya
inginkan sebenarnya juga bukan peperangan tetapi menghancurkan konsentrasi
pasukan-pasukan yang ingin menjajah negara-negara lain. Ngerum dulunya juga
penjajah, tapi setelah Amir Ambyah datang dengan pasukannya, Ngerum adalah
negara jajahan. Yang hendak saya lawan dengan pasukan itu adalah orang-orang
yang sangat berambisi menjadikan seluruh dunia berada di bawah telapak kakinya.
Ia yang telah mengusik perdamaian.”
Sayid
Gopar mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan, “Guru Dail Aliyad boleh
saja telah berdamai dengan diri sendiri lalu mengajar kebaikan pada semua
orang. Saya masih gelisah, Guru. Saya ingin semua orang bisa hidup damai tanpa
harus berada dalam kekuasaan orang lain.”
Dail
Aliyad terdiam. Ucapan Sayid Gopar kembali mengaduk-aduk perasaannya. Tak bisa
dipungkiri bahwa Sayid Gopar memang seseorang yang pandai berkata-kata. Benar
bahwa ia telah berdamai dengan kehidupan lamanya. Tapi benarnya ia telah
mencapai perdamaian itu bagi semua orang? Dengan nada gemetar, Dail Aliyad
berkata, “Dulu ada seorang guru di sebuah kampung kecil. Ia dituntut oleh
masyarakat di sekelilingnya untuk menjadi seorang pembebas negerinya dari
jajahan Ngerum karena ia begitu berkarisma. Semua orang kagum atas
perkataannya. Semua yang memandang dia merasa hidupnya disempurnakan. Saat
didesak begitu, ia tidak mengiyakan juga tidak menolak. Ia hanya bicara bahwa
ada yang lebih besar daripada urusan hidup. Yaitu saling mengasihi sesama.”
Kali ini
Sayid Gopar terdiam. Ia tahu opsi pertama dari rencana ke Jemurtalak telah
gagal. Opsi untuk membujuk Dail Aliyad dengan baik-baik agar membantunya
mengumpulkan pasukan. Dengan demikian, tinggal satu rencana lagi yaitu
menantang bertarung Dail Aliyad dan jika Dail Aliyad kalah, ia harus mau jadi
pengikutnya. Maka tiba-tiba saja kaki Sayid Gopar bergerak menghancurkan meja
kecil di hadapannya. Teko dan cangkir teh mawar pecah berserakan di lantai.
Sambil berteriak menantang, Sayid Gopar melepas topengnya.
“HADAPILAH
AKU, DAIL ALIYAD! Aku Raja Jobin memintamu jadi pengikutmu. Kalau kau menang
bertarung denganku, seumur-umur aku tidak akan menginjakkan kaki di Jemurtalak
lagi. Bahkan silakan kau ambil negeri Kaos sebagai hadiah kemenanganmu.”
Dail
Aliyad sontak mundur dan memasang kuda-kuda. Dan begitu tahu yang ia hadapi
adalah Raja Jobin, ia merasa ajalnya sudah dekat. Meskipun berkali-kali kalah
dari Amir Ambyah, Raja Jobin termasuk seseorang yang bisa melukai Amir Ambyah
yang sakti dan digdaya. Tentu Raja Jobin bukanlah tandingan bagi mantan
perampok Jemurtalak ini. Dan belum sempat Dail Aliyad berpikir panjang, Raja
Jobin sudah mencecarnya dengan beberapa pukulan. Dail Aliyad pun ambruk.
Demikianlah Raja Jobin mendapatkan anggota pasukan silumannya yang pertama.

Comments
Post a Comment