12. Dail Aliyad

 


 

Di Jabres, Raja Jobin membeli seekor kuda, sekantung roti manis, dan mengisi wadah kantung kulitnya dengan air sebelum ia melanjutkan perjalanannya dengan berkuda melintasi Kuristam lurus ke barat, melewati kota Sirit, Mardin, dan Ngurup, dan bermalam di kota Jemurtalak di negeri Ngerum. Ia berpacu dengan laju pasukan Kuparman yang hendak mengarah ke Kuristam. “Sebelum pasukan Amir Ambyah sampai ke Damsyik, aku harus sudah berada di Ngerum atau Abeja,” begitu tekadnya.

Kuristam adalah sebuah wilayah kecil sedikit ke selatan dari Turki. Diapit Laut Hitam dan Laut Mediterania. Turki saat itu dikuasai oleh Ngerum. Namun karena kontur lahan Kuristam yang berbukit-bukit dan kebanyakan orang Kuristam adalah gembala domba dan nomaden, Kuristam dianggap hanya seperti lahan kosong yang tak perlu dikuasai atau dibangun sebuah benteng di sana. Orang Ngerum rupanya tidak menyadari akan adanya perubahan besar yang terjadi pada Kuristam. Seorang dari timur bernama Bahuman, kakek dari Raja Bahman, datang dan mempersatukan para gembala yang mendiami wilayah Kuristam. Ia menampakkan diri pada sepuluh orang gembala pada suatu malam ketika mereka hendak tidur di padang belantara menjaga domba-domba mereka dari terkaman serigala. Para gembala itu melihat Bahuman seperti bintang yang sangat bercahaya pada malam itu. Padahal yang terjadi adalah Bahuman membawa lentera berbahan kotoran kelelawar yang dibakar. Nyala kotoran itu hijau-biru terang sekali karena mengandung banyak fosfor.

“Apakah kau hantu?” Teriak seorang gembala setelah Bahuman dekat pada mereka.

“Atau kau malaikat?” jerit yang lain.

“Mungkinkah Ia Tuhan?” ada lagi yang menimpali sambil menyembunyikan wajahnya karena silau.

“Tenanglah. Jangan takut. Aku membawa kabar baik untuk kalian semua,” kata Bahuman dengan suara yang teduh.

“Kabar baik apa? Bagi kami, semua domba-domba yang ada di padang ini tak ada satupun yang dimangsa serigala atau beruang itu adalah kabar baik.”

“Kalian tidak ingin hidup sebagai bangsa yang besar seperti orang-orang di Ngabesin atau di Ngerum?”

“Apa yang bisa kau lakukan dengan Kuristam yang hanya padang rumput dan bukit-bukit? Domba, serigala, beruang, dan orang-orang tanpa ilmu perang dan pengalaman seperti kami?”

“Asal kalian mau, aku bisa mewujudkannya. Kita bisa hidup lebih dari sekadar gembala dan peternak.” Bahuman menurunkan kantung besar yang dari tadi ia panggul. Isinya adalah kitab-kitab tentang bangunan, senjata, dan pertanian. Para gembala itu merubungi Bahuman dan mendesaknya untuk menceritakan lebih lanjut tentang rencananya membuat Kuristam menjadi sama seperti Ngerum atau Ngabesin.

Berita tentang kedatangan Bahuman segera menyebar ke seluruh pelosok Kuristam. Dari sepuluh gembala yang mengikut dan setuju rencana Bahuman, berkembang menjadi seratus. Dari seratus ke seribu, dan akhirnya seluruh gembala di Kuristam setuju mendukung rencana Bahuman. Pertama-tama mereka bahu membahu mendirikan tembok benteng lengkap dengan menara jaganya di sebelah barat Tihran untuk mengusir serigala. Lalu didirikan lagi tembok benteng di sebelah utara Bakdad, ini untuk menjaga gembalaan dari serbuan para perampok. Kemudian sebuah tembok benteng lagi didirikan di sebelah selatan Siblisi, ini untuk mengusir beruang.

Lama-lama, pada tiap menara benteng yang ada itu tumbuhlah kota-kota kecil. Ada Mihabad yang di barat Tihran, ada Musli yang di utara Bakdad, dan ada Karsi-Agri di selatan Siblisi. Kota-kota kecil itu tumbuh jadi kota besar. Mihabad dijadikan ibukota dan diganti namanya menjadi Mahabad. Bahuman diangkat sebagai raja pertama Kuristam dan dijuluki Adiyahman, karena berhasil menyatukan seluruh rakyat Kuristam.

Bahuman atau Adiyahman mempunyai anak bernama Bakridiya yang juga berjasa besar bagi Kuristam karena ialah raja yang berhasil membuat Kuristam cukup disegani oleh para perampok dari Bakdad, para pencuri dari Parsi, atau para petualang dari Ngabesin. Bakridiya membentuk beberapa regu pasukan berkuda yang trengginas dalam mengatasi kerusuhan. Dengan kegesitan regu-regu pasukan berkuda yang mudah dan cepat bergerak untuk beraksi, Kuristam aman tenteram.

Adanya kerajaan baru di Kuristam membuat Ngerum akhirnya mengirim utusan untuk menanyakan sikap raja Kuristam terhadap raja Ngerum. Karena Bakridiya sadar bahwa pasukan-pasukan berkudanya tidak mungkin bisa menghadapi berlaksa-laksa pasukan yang dimiliki Ngerum, Bakridiya memberikan seribu ekor domba jantan sebagai upeti kepada raja Ngerum. Hal inilah yang kemudian menjadikan Kuristam sempat dilanda prahara politik dalam negeri karena sebagian dari petinggi di Kuristam mengira Bakridiya menyerahkan Kuristam sebagai negara jajahan Ngerum sama seperti Turki, Gerika, atau Ngalabani. Namun Bakridiya tidak tinggal diam terhadap rongrongan atas kekuasaannya. Dengan restu Bahuman yang belum meninggal saat itu, Bakridiya mengeksekusi para Menteri dan petinggi kerajaan yang mencemooh dirinya, dan setelahnya ia mengganti gelarnya menjadi Raja Bahuman II.

Dalam upacara penggantian gelarnya, potongan-potongan tubuh para Menteri dan petinggi kerajaan yang dieksekusi disebarkan ke seluruh padang di lembah Solum sebagai makanan untuk burung elang dan dubuk di sana. Sejak itu lembah Solum yang artinya “Pengingat pada diri sendiri” dalam bahasa Kuristam, diganti namanya menjadi Mawsul yang berarti “Yang dikaitkan” karena potongan-potongan tubuh para Menteri pembangkang itu ketika hendak dilemparkan pada elang atau dubuk-dubuk itu, diikat dengan tali yang diberi pengait, seperti mata kail besar. Raja Bahuman II karena kekejamannya itu tidak hanya disegani di dalam negeri saja tetapi juga ditakuti oleh penduduk di negara tetangga. Orang Ngerum tidak ada yang mau datang ke Kuristam jika tidak terpaksa untuk urusan dagang khususnya daging dan susu serta bulu wol. Demikian juga orang Uru dan orang Parsi. Kuristam selalu dianggap lubang hitam dari percakapan politik dan perdagangan, meski tidak sepenuhnya benar. Semacam pengucilan dari negara lain ini membuat Raja Bahuman akhirnya bersedih dan meninggal dunia. Tak berselang lama dari kejadian itu, Raja Bahuman II menyatakan turun tahta. Pada saat itu, Amir Ambyah telah menguasai Kuparman dan negara-negara lain, tapi Raja Bahuman II tidak peduli. Ia yakin perjanjiannya dengan Ngerum dan negara-negara lain akan melindungi negerinya dari penjajahan oleh Wong Agung Jayengrono itu. Dan hal itu terbukti benar sampai Raja Bahman, anaknya, mendeklarasikan peperangan dengan Amir Ambyah setelah mendengar cerita dari Raja Jobin bahwa Amir Ambyah bisa dilukai dan berdarah-darah.

Di Jemurtalak, ada seorang mantan perampok dan pencuri yang sekarang menjadi seorang guru. Namanya Dail Aliyad. Ia bertobat berhenti dari pekerjaannya merampok dan mencuri karena ia mendengar pemilik rumah yang hendak dirampoknya itu berseru, “Kapan, Ya Tuhan, Kau tundukkan hati orang yang mengaku beriman untuk mengingat-Mu dan seluruh kebenaran-Mu?”

Dalam hati Dail Aliyad, orang yang hendak dirampoknya ini tengah putus asa karena sesuatu yang berkenaan dengan orang yang dianggap beriman. Mungkin ia habis ditipu. Dail Aliyad sadar bahwa penjahat yang sebenarnya dalam kehidupan ini adalah orang yang dianggap lebih mulia tetapi justru dalam hatinya penuh dengan keinginan untuk menguasai harta atau kepunyaan orang lain. Orang-orang yang bermental korup. Penjahat seperti dirinya yang hidup dari merampok dan mencuri harta orang lain hanyalah penjahat biasa yang seringkali hukumannya lebih berat dibandingkan jika orang-orang yang mulia itu jika tertangkap. Mereka bisa mendapatkan berbagai kemudahan dan fasilitas selama dalam penjara, sedangkan dirinya bisa beradu fisik hanya untuk urusan tidur atau makan dengan para penjahat lain. Maka setelah Dail Aliyad mendengar orang yang hendak dirampoknya berkata demikian, ia memutuskan untuk menghentikan seluruh perbuatan jahatnya.

Dail Aliyad pergi ke seorang guru bernama Samangi yang memberinya nasihat, ”Apa-apa yang akan menyebabkan turunnya rezeki ke atasmu, itu sudah tergambar di langit. Sudah ditentukan bagimu. Kau tinggal menjalankan hidup dengan baik.”

Berbekal nasihat Samangi itu, Dail Aliyad mulai menyediakan dirinya untuk membantu siapa saja yang membutuhkan tenaganya. Mulai dari angkut barang di pasar, menjadi tukang bangunan, dan hampir semua pekerjaan yang melibatkan fisik dijalaninya. Saat malam hari, ia berkeliling kota untuk menyampaikan nasihat-nasihat tentang kebaikan dan berusaha menyadarkan para pencuri dan perampok yang berkeliaran. Orang-orang di Jemurtalak pun menyukai perbuatan Dail Aliyad. Rumah mereka aman, dan banyak orang jahat disadarkan akan perbuatan mereka. Dan karena nasihat-nasihatnya akan kebaikan itulah, Dail Aliyad kemudian dianggap juga sebagai guru.

Kisah bertobatnya Dail Aliyad ini ada juga yang mengatakan bahwa Dail Aliyad menjadi bertobat karena hendak merampok Guru Samangi. Entah kisah mana yang benar, bagi Raja Jobin tidaklah penting. Ia hanya tahu bahwa Dail Aliyad adalah mantan perampok yang bisa ia manfaatkan untuk merekrut banyak orang untuk menjadi pasukan pengacau keamanan. Karena itulah ia datang ke rumah Dail Aliyad.

Di depan Dail Aliyad, Raja Jobin memperkenalkan dirinya sebagai Sayid Gopar, seorang kaya dari Ngubedah, “Kedatangan saya untuk meminta bantuan dari Guru Dail Aliyad yang terkenal seantero Ngerum.”

“Jangan memuji berlebihan. Saya hanya seorang guru yang murid-muridku hanya berasal dari seputaran Jemurtalak. Katakan saja bantuan apa yang Anda harapkan dari seorang guru seperti saya?”

Sayid Gopar mengangsur sekantung solid Ngerum ke hadapan Dail Aliyad, “Terima kasih atas kebaikan Guru menerima permohonan saya, sebagai tanda terima kasih saya, mohon bisa diterima yang tak seberapa ini.”

Sayid Gopar ingin menguji apakah Dail Aliyad dengan kedudukannya sekarang masih mau menerima uang sebagai imbalan atas pertolongan kepadanya. Sebab ia mendengar cerita bahwa Dail Aliyad tidak pernah menerima upah berupa uang untuk mengajar kebaikan pada murid-muridnya melainkan murid-muridnya yang sudah mendapatkan penghasilan akan membelikan aneka kebutuhan hidupnya sehari-hari mulai dari tepung, minyak, rempah, dan lainnya sebagai ganti dari uang.

Dail Aliyad bergeming. Meski terlihat tenang, sempat matanya melirik pada kantung uang itu. Sebuah senyum terkembang. Tangannya tetap bersidekap.

“Apa-apaan itu? Setiap tamu harus ditemui dan dijamu. Itu aturan penting dalam hidup bermasyarakat. Meskipun mungkin kita seringnya kesulitan untuk menjamu tamu karena keadaan. Pernah dengar kisah seorang perempuan tua dan anaknya yang hampir mati kelaparan tapi malah membuatkan dua buah roti bulat untuk seorang paderi? Mereka diberkati luar biasa oleh Tuhan karena kebaikannya itu. Tepung dan minyak tak habis-habis bertambah dari buli-buli yang mereka punya. Sampai-sampai bisa dijual pada para tetangga. Dan akhirnya mereka jadi kaya raya. Begitulah utamanya menerima tamu.”

Sayid Gopar pun bergeming. Ia tak berusaha menarik kantung uang itu.

“Itu tidak seberapa, Guru. Mungkin Tuan Guru pernah mendengar kisah seorang pemuda kaya yang ingin masuk surga? Ia diperintahkan menjual seluruh harta bendanya dan memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan. Saya lihat Guru belum punya ashram. Ruang belajar. Mungkin uang itu bisa Guru manfaatkan untuk membeli sebidang tanah dan mendirikannya.”

Lagi-lagi Dail Aliyad bergeming. Ia mempersilakan Sayid Gopar mencecap secangkir teh mawar, “Silakan diminum dulu tehnya. Ini teh mawar yang membuat orang-orang selalu kangen dengan Jemurtalak. Teh yang wangi dan punya rasa manis yang ringan meski tidak diberi gula. Cocok untuk segala suasana. Minum hangat di malam begini, atau bisa diminum dingin waktu panas siang hari. Konon teh ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang pengelana yang katanya diutus oleh Tuhan untuk memberi nasihat kepada penduduk kota di Nimwah. Pernah dengar ceritanya?”

Sambil mengangkat cangkir, Sayid Gopar menekuk leher ke arah pundak, sehingga kepalanya bergerak sedikit miring dan berkata, “Silakan diceritakan. Saya senang mendengar aneka petuah dan cerita.”

“Cerita singkat saja ya? Biar tidak kemalaman Sayid Gopar nanti pulangnya. Kalau di Jemurtalak sudah pasti aman. Sayid Gopar tinggal bilang saja kalau Anda tamu dari saya. Pasti tidak ada yang mau mengganggu. Namun di kota lain? Saya tidak bisa menjamin. Jadi, ketika pengelana itu sampai di Nimwah, seluruh penduduk kota sudah tahu kalau ia mau datang. Disambutnya pengelana itu seperti seorang yang amat mulia. Pengelana itu heran karena sebelumnya, ia sempat lari dari perintah untuk menyampaikan pesan kebenaran dari Tuhan di kota Nimwah itu. Lucunya, ia marah sama Tuhan. Sudah disuruh jauh-jauh ke Nimwah yang katanya penduduknya membangkang pada Tuhan, tapi sampai di sana malah ia disambut dengan baik. Akhirnya ia lari ke pantai. Tinggal di sana sementara waktu. Karena Tuhan sayang sama dia ditumbuhkannya rumpun mawar yang rindang sebagai naungan buat Si Pengelana ini beristirahat. Penduduk Nimwah sering datang membujuknya untuk tinggal di kota Nimwah. Pengelana ini bergeming. Ia merasa telah gagal diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan kebenaran. Kalau ia ke kota itu untuk apa lagi? Penduduk Nimwah sudah tahu tentang Tuhan. Akhirnya Tuhan mengirimkan ulat-ulat yang gemuk untuk menggeret dedaunan mawar itu. Sampai habislah semua semak mawar yang rimbun itu. Tersisa hanya bunga-bunganya saja. Pengelana itu makin marah kepada Tuhan. Dicerabutnya bunga-bunga mawar itu lalu dilemparkan ke laut. Yang terjadi selanjutnya laut itu menjadi berwarna merah muda dan berbau harum. Akhirnya dia sadar bahwa jika Tuhan mengutus untuk sesuatu hal pasti ada maksudnya. Ia pun mau datang ke kota Nimwah untuk mengajar sebagai guru. Dan untuk mengenang peristiwa di pantai itu, Pengelana itu membuat teh mawar. Begitulah kira-kira asal-usul teh mawar ini, Sayid Gopar.”

Sayid Gopar manggut-manggut. Ia kira dapat menangkap hal penting dari cerita Guru Dail Aliyad itu. Maka ia pun sambil tersenyum berkata, “Kiranya Tuhan pun punya rencana yang baik atas kedatangan saya ke hadapan Tuan Guru.”

Dail Aliyad balas tersenyum sebelum akhirnya ia tertawa.

“Anda mahir mempermainkan kata-kata, Sayid Gopar. Sungguh saya harus hati-hati bicara dengan Anda. Baiklah sampaikan secara terus terang maksud dari kedatangan Anda, Sayid Gopar. Saya hanya seorang guru bukan peramal.”

Sayid Gopar alias Raja Jobin akhirnya mengatakan bahwa ia datang untuk meminta bantuan sejumlah orang untuk dijadikan pasukan pengacau keamanan terutama di wilayah Medayin dan Kuparman. Wajah Dail Aliyad memerah menahan amarah. Ia merasa perkataan Sayid Gopar telah merendahkan dirinya. Ia sudah bertobat menjadi penjahat, tetapi Sayid Gopar datang untuk meminta dirinya merekrut para penjahat. Melihat perubahan air muka Dail Aliyad, Sayid Gopar memelankan nada bicaranya dan mengatakan bahwa ia tidak ingin mengembalikan orang baik menjadi jahat, karena yang ingin ia hancurkan adalah kekuasaan yang membuat banyak orang baik menjadi jahat.

“Apakah salah jika yang jahat itu kita lawan dengan kekerasan, Guru? Dan yang saya inginkan sebenarnya juga bukan peperangan tetapi menghancurkan konsentrasi pasukan-pasukan yang ingin menjajah negara-negara lain. Ngerum dulunya juga penjajah, tapi setelah Amir Ambyah datang dengan pasukannya, Ngerum adalah negara jajahan. Yang hendak saya lawan dengan pasukan itu adalah orang-orang yang sangat berambisi menjadikan seluruh dunia berada di bawah telapak kakinya. Ia yang telah mengusik perdamaian.”

Sayid Gopar mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan, “Guru Dail Aliyad boleh saja telah berdamai dengan diri sendiri lalu mengajar kebaikan pada semua orang. Saya masih gelisah, Guru. Saya ingin semua orang bisa hidup damai tanpa harus berada dalam kekuasaan orang lain.”

Dail Aliyad terdiam. Ucapan Sayid Gopar kembali mengaduk-aduk perasaannya. Tak bisa dipungkiri bahwa Sayid Gopar memang seseorang yang pandai berkata-kata. Benar bahwa ia telah berdamai dengan kehidupan lamanya. Tapi benarnya ia telah mencapai perdamaian itu bagi semua orang? Dengan nada gemetar, Dail Aliyad berkata, “Dulu ada seorang guru di sebuah kampung kecil. Ia dituntut oleh masyarakat di sekelilingnya untuk menjadi seorang pembebas negerinya dari jajahan Ngerum karena ia begitu berkarisma. Semua orang kagum atas perkataannya. Semua yang memandang dia merasa hidupnya disempurnakan. Saat didesak begitu, ia tidak mengiyakan juga tidak menolak. Ia hanya bicara bahwa ada yang lebih besar daripada urusan hidup. Yaitu saling mengasihi sesama.”

Kali ini Sayid Gopar terdiam. Ia tahu opsi pertama dari rencana ke Jemurtalak telah gagal. Opsi untuk membujuk Dail Aliyad dengan baik-baik agar membantunya mengumpulkan pasukan. Dengan demikian, tinggal satu rencana lagi yaitu menantang bertarung Dail Aliyad dan jika Dail Aliyad kalah, ia harus mau jadi pengikutnya. Maka tiba-tiba saja kaki Sayid Gopar bergerak menghancurkan meja kecil di hadapannya. Teko dan cangkir teh mawar pecah berserakan di lantai. Sambil berteriak menantang, Sayid Gopar melepas topengnya.

“HADAPILAH AKU, DAIL ALIYAD! Aku Raja Jobin memintamu jadi pengikutmu. Kalau kau menang bertarung denganku, seumur-umur aku tidak akan menginjakkan kaki di Jemurtalak lagi. Bahkan silakan kau ambil negeri Kaos sebagai hadiah kemenanganmu.”

Dail Aliyad sontak mundur dan memasang kuda-kuda. Dan begitu tahu yang ia hadapi adalah Raja Jobin, ia merasa ajalnya sudah dekat. Meskipun berkali-kali kalah dari Amir Ambyah, Raja Jobin termasuk seseorang yang bisa melukai Amir Ambyah yang sakti dan digdaya. Tentu Raja Jobin bukanlah tandingan bagi mantan perampok Jemurtalak ini. Dan belum sempat Dail Aliyad berpikir panjang, Raja Jobin sudah mencecarnya dengan beberapa pukulan. Dail Aliyad pun ambruk. Demikianlah Raja Jobin mendapatkan anggota pasukan silumannya yang pertama.

Comments