3. Upaya Mencuri Blegdaba



Dara adalah sebuah bandar kecil yang terletak di Sasaniyah, wilayah sebelah timur dari kerajaan Ngerum, salah satu negeri bawahan dari kerajaan Amir Ambyah, Kuparman. Meskipun kecil, karena terletak pada poros perlintasan dagang baik dari Ngerum ke Mekah, juga dari Mesir ke Kuristam, maka Dara menjadi bandar yang sibuk dan ramai. Belum lagi, karena juga terletak dekat Danau Telamis, Dara juga dijadikan tempat persinggahan para kafilah dagang. Penduduknya, kebanyakan, membuka usaha penginapan, kedai makanan dan minuman, serta menyediakan hewan-hewan pembawa beban dan pasukan, seperti unta, kuda, keledai, juga blegdaba.

Blegdaba adalah sejenis kerbau liar karena ia bertanduk, tapi bertubuh langsing dan bersurai seperti kuda. Warna kulitnya coklat gelap dan hitam. Otot-ototnya liat dan memiliki kemampuan berlari dengan sangat cepat. Dan itulah karunia Tuhan baginya yang membuat blegdaba menjadi binatang yang masih terus berkembang di daratan Afrika, sebab di padang-padang rumput di Ngabesin, blegdaba adalah makanan utama dari singa dan macan, selain rusa. Sedang di Mesir, blegdaba yang menyeberangi sungai Nil saat bermigrasi untuk menyesuaikan dengan cuaca dan curah hujan di bulan-bulan kering, adalah santapan buaya-buaya besar. Blegdaba bisa ada di wilayah Sasaniyah dan sekitarnya karena binatang itu didatangkan dari Ngabesin dan Mesir. Sebagai binatang liar, blegdaba lebih keras kepala dibandingkan dengan keledai. Perlu waktu cukup lama agar blegdaba siap dikendarai untuk perang atau mengangkut barang. Karena itulah ada sebagian kecil orang di Dara yang bekerja sebagai penjinak blegdaba. Mereka disebut sebagai saybinu.

Kehidupan seorang saybinu tak pernah lepas dari kandang blegdaba. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan blegdaba yang “sudah jinak tapi masih bisa galak” bagi pasukan kerajaan Ngerum begitu tinggi. Sewaktu, bersama-sama dengan Amir Ambyah, Ngerum menggempur kerajaan Biraji – yang dipimpin Aspandriya, raja setan berkulit tembaga, dan kakaknya, Mraja Baladikum, si penunggang garga (sejenis kuda terbang) – raja Ngerum mengerahkan satu keti (seratus ribu) pasukan penunggang blegdaba. Dan dalam peperangan itu akibat dari empasan angin ribut dari kibaran panji tunggul wulung milik Aspandriya, seribu ekor blegdaba mati sia-sia. Diterbangkan bagai serat-serat kapuk lepas dari pokok randu. Karena itu, di tahun ini saja, Ngerum minta disiapkan dua ribu ekor blegdaba, yang jinak, bisa ditunggangi, tapi juga bisa galak, mau diajak berperang!

Di sebuah kandang penjinakan blegdaba di Dara, tersebutlah seorang saybinu bernama Bandarjani. Ia sebenarnya bukan orang Dara, melainkan dari Ngalabani. Ayahnya bernama Daundari, dulunya seorang patih Ngalabani sewaktu diperintah oleh raja Masbahan. Daundari pada waktu Masbahan hendak menyerahkan tahtanya pada Maktal, puteranya, diperintahkan untuk mengiring Maktal mencari guru untuk ilmu politik, ilmu perang, ilmu pemerintahan, juga ilmu kedigdayaan. Di tengah perjalanan, Maktal, yang diiringi Daundari juga Sapardan, sepupu Maktal, berjumpa dengan kafilah dari Bani Abas, Abdullah, dan Abu Talib yang berangkat dari Mekah menuju ke Yaman untuk memberi upeti kepada raja Yaman, Badi Bahram. Tahu bahwa kafilah Arab itu membawa harta yang banyak, Maktal ingin mencoba kekuatannya, ia merampok mereka dan usahanya berhasil bahkan tanpa perlawanan berarti. Kafilah itu kembali ke Mekah. Sesampai di Mekah, kafilah itu minta bantuan pada Amir Ambyah dan Umarmaya untuk membalas perbuatan Maktal dan para pengiringnya. Amir Ambyah meminta kafilah itu, bersama dengan dirinya dan Umarmaya, kembali menuju Yaman untuk mencari para perampoknya. Ketika mereka bertemu dengan Maktal dan para pengiringnya itu, Amir Ambyah dan Umarmaya meminta dengan baik-baik agar harta yang dirampok dikembalikan. Permintaan Amir Ambyah ditolak Maktal, hingga terjadilah pertarungan yang membuat Sapardan mati. Maktal dan Daundari menyerah lalu diampuni oleh Amir Ambyah. Daundari disuruh pergi sementara Maktal dibiarkan meneruskan perjalanannya mencari guru untuk belajar sebelum menjadi raja di Ngalabani. Itu terjadi sebelum Kerajaan Yaman dilanda kebakaran besar.

Bandarjani sebagaimana saybinu yang lain, belajar menjinakkan blegdaba berdasarkan buku “Upaya Menangkap Wabru” yang mengisahkan bagaimana Hisyam seorang panglima perang dari pihak Raja Nusirwan berhasil menjinakkan seekor binatang liar dan buas yang disebut Wabru di pegunungan Jabalbeh. Tak jelas memang penggambaran orang tentang binatang ini, karena wabru memang sulit ditemukan atau ditangkap. Satu-satunya gambar wabru ada di Kuparman. Namun gambar itu sudah lama dibuat sehingga sudah tak utuh lagi. Hanya bercak-bercak tak berbentuk di salah satu dinding benteng kota, tempat dulu kulit wabru pernah dipajang. Wabru suka merusak tanaman-tanaman pertanian, dan tak segan menyerang penjaga ladang atau petani penggarapnya, dan saking banyaknya korban, wabru sering dikabarkan sebagai pemangsa manusia. Padahal itu tidak benar. Kulit wabru yang keras memang bisa melukai kulit manusia. Namun wabru tidak memakan manusia. Hisyam, konon, seperti halnya Umarmaya yang pernah bertemu dengan Baginda Soleman, bisa berbahasa binatang. Meski Hisyam seorang pemanah yang andal, Hisyam biasanya lebih dulu membujuk binatang buruan agar tetap diam saat dibidik. Diperdengarkannya suara merdunya seperti layaknya Nabi Dawud bernyanyi, maka binatang itu akan terdiam karena terpesona. Saat itulah Raja Nusirwan, yang ditemaninya untuk berburu, diberi tanda agar segera melepaskan anak panahnya.

Dalam buku Upaya Menangkap Wabru, Hisyam menuliskan mantra-mantra yang bisa membuat hewan merasa tenang, merasa tidak terganggu dengan kehadiran manusia, mau didekati dan akhirnya mau disentuh. Ada juga mantra yang dibuat khusus untuk membuat hewan merasa sangat mengantuk dan tertidur. Namun jarang yang mempraktekkan mantra ini karena tak hanya hewan yang mendengar mantra itu akan tertidur tetapi juga saybinu-saybinu dan orang-orang lain di sekitar saybinu yang merapalnya akan tertidur! Selain berisi mantra, buku itu juga berisi tanda-tanda hewan dalam keadaan sehat atau sakit. Ini penting karena hewan liar yang sakit justru kadang lebih sulit didekati daripada yang sehat. Ada juga tulisan tentang membedakan hewan liar yang jantan dan yang betina, yang dominan atau hanya pengikut setia dalam kelompoknya. Buku ini lebih penting dari primbon tentang arti mimpi bagi para pengalap berkah melalui angka karena selain untuk para pemburu dan saybinu, buku ini juga bisa digunakan oleh mantri hewan bahkan pekatik karena lengkapnya menceritakan gejala penyakit dan sebabnya, makanan, serta kesukaan hewan-hewan ini biasa berkeliaran, supaya hewan-hewan peliharaan tetap sehat dan bergembira.

Seperti biasa, setelah bangun tidur dan sarapan, Bandarjani segera pergi ke kandang. Ada tiga jenis kandang yang ada di rumah penjinakan. Orang menyebut kandang pertama, kandang untuk blegdaba liar yang baru didatangkan dari padang rumput Ngabesin atau belantara Mesir, yang disebut dengan “kalisli”. Kandang kedua, kandang untuk blegdaba yang sehat dan terpilih untuk dijinakkan disebut “dibek”. Lalu kandang ketiga, yang disebut “dinmar”, adalah kandang di mana blegdaba jinak yang sudah siap dijual berada. Tugas seorang saybinu adalah di dua kandang pertama, yang biasanya berukuran besar dan terletak di bagian belakang sebuah rumah penjinakan. Dinmar sebagai ruang etalase penjualan selalu ditempatkan di bagian depan rumah penjinakan.

Pagi ini, Bandarjani pergi terlebih dahulu melihat ke kandang Kalisli. Kemarin, ia merasa tiga ekor blegdaba di dibek sudah berhasil dibuat jadi lebih penurut. Hari ini, nanti siang, berarti tinggal ia pindahkan tiga ekor blegdaba itu dari dibek ke dinmar. Dan tak berapa lama, jika ketiganya laku, ia akan mendapatkan upah bagiannya. Sebagai saybinu, ia tahu bahwa berada di kalisli adalah melakukan pekerjaan paling berat. Di samping berhadapan dengan blegdaba-blegdaba liar, ia juga bersaing dengan saybinu-saybinu lain yang berharap mendapatkan blegdaba yang sehat dan kuat, tetapi mudah untuk dijinakkan. Karena itu ia berangkat ke kalisli pagi-pagi sekali. Berharap saybinu-saybinu lain masih tertidur di pondokannya.

Namun pagi ini kalisli di rumah penjinakan yang memperkerjakannya terlihat kosong. Belum datang rupanya kiriman blegdaba dari Mesir atau Ngabesin. “Sial!” Rutuknya, “Masak bulan ini aku hanya mendapatkan uang dari tiga ekor blegdaba saja?” Bandarjani mengacak-acak rambutnya. Padahal di akhir bulan ini ia sudah memimpikan berlibur, seharian duduk-duduk di pantai Kataniya, tepian Danau Telamis, menikmati udara yang sejuk sambil mencandai gadis-gadis Turki yang cantik yang lalu lalang di sana. Tiga ekor blegdaba berarti hanya berapa ratus ripis! Sangatn kurang untuk bisa berlibur dengan tenang dan senang.

Ia terdiam lama memikirkan beberapa kemungkinan seperti mencuri blegdaba di kalisli rumah penjinakan lain, atau mencuri uang saja dari siapa saja, atau membatalkan saja rencana liburannya. Yang terakhir agaknya tidak mau ia lakukan. Sebulan bekerja di rumah penjinakan sudah cukup untuk membuat tubuhnya terasa remuk dan berbau begitu busuk. Bau kotoran blegdaba. Ia harus bisa berlibur, bagaimanapun caranya.

Pilihannya tinggal dua; mencuri beberapa blegdaba dari rumah penjinakan lain atau mencuri uang. Mencuri uang tentu hal yang mudah, tapi jika ketahuan ia bisa dipotong tangan. Mencuri blegdaba tentu merepotkan, tapi jika ketahuan ia masih bisa beralasan blegdaba itu melepaskan diri dari kandang. Toh, blegdaba itu hewan liar. Ya! Pilihannya sudah mantap. Ia akan mencuri blegdaba.

Namun kemudian ia berpikir lagi, jika ingin mencuri beberapa ekor blegdaba, lebih baik dari kandang yang mana? Kalau dari kalisli berarti mencuri blegdaba liar, ini jelas sulit dilakukan. Kalau dari dinmar akan sulit beralibi bahwa blegdaba itu melarikan diri karena masih liar. Yang paling mungkin baginya hanyalah mencuri beberapa ekor blegdaba dari dibek -dibek di rumah penjinakan lain, karena blegdaba dalam dibek sudah tidak begitu liar meskipun belum tentu juga sudah jinak.

Bandarjani mengambil sikap bersedekap untuk merapal mantra memulai perburuan yang ditulis Hasyim dalam buku Upaya Menangkap Wabru yang berbunyi, “Sirwendo, Sriwindu, karena perintah Gusti Pangeran, janganlah sombong kepadaku. Datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Setelah itu ia segera berlari mencari dibek-dibek yang berisi blegdaba di rumah-rumah penjinakan seantero Dara.

Comments