6. Tiga Ratus Ripis



Seekor burung terbang melintas di atas kepala Bandarjani yang siang ini mengarahkan kembali pulang ke rumah penjinakan blegdaba milik Amuda majikannya. Tak sekadar melintas, burung itu menjatuhkan miliknya yang paling tak berharga tepat di atas rambut ikal Bandarjani.

“Ais! Sial! Sial!”

Bandarjani menggerutu begitu merasa sedikit rambutnya basah padahal langit tidak sedang mendung dan tidak ada satu larik pun tetesan hujan jatuh dari gemawan yang berwarna putih bersih itu. Ia makin menjadi-jadi memaki saat mencium bau di jemarinya yang sempat menyentuh bagian rambut yang basah itu.

“Awas kau burung sialan! Kalau saja aku punya garga, sudah kukejar ke manapun kau terbang!”

Garga adalah tunggangan Mraja Baladikum, kakak dari Aspandriya, Raja Biraji. Sama seperti wujud wabru, tak banyak orang yang tahu seperti apa sebenarnya garga itu. Secara gampang orang bilang garga itu kuda terbang. Di dunia ini, hanya Mraja Baladikum raja kerajaan Ngambarsirat itulah yang punya tunggangan garga. Setelah perang besar di Biraji, di mana Mraja Baladikum dan garga tunggangannya dipukul oleh gada Amir Ambyah hingga tak berbentuk lagi, tak ada yang bisa menggambarkan bentuk garga secara tepat. Ada yang bilang mirip kuda tetapi berekor ular, ada yang bilang kepalanya garuda tapi kakinya singa, bahkan ada yang menyebut garga itu bersayap mirip kelelawar tetapi badannya bulat dan berekor seperti berudu katak.

Amir Ambyah sebenarnya sudah terdesak ketika Aspandriya dan Mraja Baladikum bersatu padu menantangnya. Aspandriya dan Mraja Baladikum itu seperti Duryudana dan Dursasana dalam kisah wayang Mahabarata. Selalu seia sekata dalam perbuatan jahat. Aspandriya, dengan bendera atau panji tunggul wulungnya nyaris membuat habis pasukan-pasukan bantuan raja-raja bawahan yang mengepung Biraji setiap pagi. Mraja Baladikum yang bisa menyerang dari udara karena menunggangi garga, membuat pasukan Kuparman dan negara-negara lain itu selalu kehabisan cara untuk menyerang Biraji. Saat ditombak atau dipanah, Mraja Baladikum dengan garganya bisa makin tinggi mengudara sehingga membuat tombak dan panah itu jatuh lagi ke bawah begitu tak bisa menjangkaunya. Belum lagi kalau Mraja Baladikum tiba-tiba menukik tanpa bisa diketahui arah datangnya karena bersembunyi di balik gemawan, pasukan koalisi Kuparman tak siap dan akhirnya tak mampu mengatasi serangan gada Mraja Baladikum. Beratus-ratus kepala bisa remuk sekali pukul olehnya.

Beruntunglah, waktu itu Kakek Maskun, Resi Guru sekaligus kakek dari Raja Maktal, raja kerajaan Ngalabani yang pernah dikalahkan Wong Agung, datang dan memberitahukan kelemahan Aspandriya dan Mraja Baladikum. Umarmaya disuruhnya menggunakan topi yang didapatnya dari negeri Ngajerak, yang mana sebenarnya topi itu adalah wasiat Baginda Nabi Soleman. Dengan menggunakan topi itu, Umarmaya tidak akan terlihat oleh Mraja Baladikum dari angkasa dengan begitu ia bisa leluasa mendekati Aspandriya. Namun untuk bisa mendekati Aspandriya, Umarmaya juga diharuskan menggunakan jubah yang pernah diberikan oleh nabi Kilir. Dengan menggunakan jubah itu, seluruh tubuhnya akan tak kasatmata. Tak bisa dilihat siapapun. Dan untuk mengalahkan Aspandriya, Umarmaya harus terlebih dahulu merusak panji tunggul wulung pusaka dari Aspandriya. Bendera atau panji itu berwarna hitam dengan bulan purnama berwarna putih perak di tengahnya. Apabila Aspandriya mengibarkan panji itu, angin besar datang menyapu apapun yang ada di hadapannya. Gajah, kuda, unta, blegdaba, pasukan, bisa berantakan tercerai berai ke berbagai arah.

Mengikuti nasehat dari Kakek Guru Maskun, Umarmaya berhasil mendekati Aspandriya dan merusak panji tunggul wulung membuat Aspandriya tak bisa lagi mengusir pasukan yang datang menyerbu, sementara Mraja Baladikum terpaksa memundurkan garis pertahanannya supaya Aspandriya masih bisa terlindung olehnya sementara pasukan koalisi Kuparman makin merasuk ke kota-kota negara Biraji. Saat Amir Ambyah bisa membunuh Aspandriya, Mraja Baladikum dengan kemarahan yang luar biasa segera menerjang Amir Ambyah. Bukannya menghindar, Amir Ambyah justru bersiap untuk memukul sekencang-kencangnya Mraja Baladikum dan garganya dengan gada. Dan benar saja, tak berapa lama terjadilah tabrakan yang amat keras antara tubuh garga yang ditunggangi Mraja Baladikum dengan hantaman gada Amir Ambyah! Kekuatan dahsyat hantaman gada Amir Ambyah seperti sebuah tamparan tangan menimpa seekor nyamuk belaka. Garga dan Mraja Baladikum remuk tak berbentuk. Tinggal serpihan daging berlumuran darah.

Bandarjani memandang kosong ke arah langit biru di atasnya. Udara siang itu masih terasa sejuk karena angin yang membawa naik uap air Danau Telamis. Namun pikiran dan hati Bandarjani sudah panas. Pikiran Bandarjani masih terpaku pada bagaimana cara menambah jumlah ratusan ripis yang bakal dimiliki dari upah penjualan blegdaba yang tiga ekor hasil penjinakannya di rumah penjinakan Amuda. Sementara hatinya jengkel gara-gara tahi burung yang menimpa kepalanya.

Bandarjani memutuskan untuk bergegas. Siapa tahu siang ini di kandang-kandang kalisli di rumah penjinakan blegdaba milik Amuda akan berdatangan blegdaba-blegdaba liar dari Ngabesin atau Mesir. Namun baru beberapa langkah, ia melihat dua ekor kuda dipacu kencang mengarah ke utara, berlawanan dengan arah perjalanan Bandarjani yang ke selatan. Blaik! Bisa-bisa aku ditabrak mereka! Pikir Bandarjani segera menyingkir dari jalan. Dengan jarak yang makin dekat, Bandarjani bisa melihat bahwa kedua orang itu ternyata dua orang perempuan. Yang satu bersenjata pedang, yang satunya berselempang tali kentular, semacam selendang tetapi biasanya mengandung benang-benang dari serat baja. Bandarjani tahu hal itu karena tali kentular biasa diperlengkapkan bagi prajurit-prajurit perempuan negara Ngalabani, tanah leluhurnya. Dua orang prajurit perempuan Ngalabani pergi ke sebelah utara? Prajurit perempuan biasanya ditugaskan untuk menjaga para puteri raja atau permaisuri. Namun jika di luar istana dan tak terlihat ada keluarga kerajaan, pasti mereka tengah ditugasi menjadi sandi untuk menyampaikan pesan dari raja atau keluarga kerajaan lain untuk pejabat-pejabat Ngalabani yang berada di negeri-negeri lain. Tak salah lagi! Tebaknya Mereka pasti akan ke rumah orangtuaku, begitu pikir Bandarjani. Memang wajar Bandarjani berpikir demikian, karena Daundari ayahnya adalah mantan patih Ngalabani. Segera pikiran Bandarjani terpecah, apakah ia harus membatalkan niatnya pulang ke rumah penjinakan blegdaba milik Amuda, atau ia perlu menyelidiki apa maksud dari kedatangan prajurit-prajurit sandi itu. Demi ratusan ripis untuk berlibur, aku harus segera sampai dulu ke Amuda, begitu tekad Bandarjani.

Sampai di rumah penjinakan blegdaba milik Amuda, Bandarjani segera menuju kandang dibek di mana kemarin ia telah mempersiapkan blegdaba-blegdaba yang telah dijinakkan dan dilatihnya.

“HEI!” Teriak Bandarjani pada siapa saja yang mendengar, yang kemudian dilanjutkannya, “SIAPA YANG TELAH MEMINDAHKAN BLEGDABA HASIL JINAKANKU?”

Mendengar Bandarjani teriak-teriak, Amuda pemilik rumah penjinakan segera menghampirinya. “Jangan teriak-teriak, Bandarjani. Kenapa kau baru datang sesiang ini? Tadi pagi, aku mencari-carimu. Semua blegdaba di kandang dibek sudah dipindahkan ke kadang dinmar di depan.”

“Lalu, upah bagian saya mana Tuan?”

“Upah? Upah apa?”

“Upah penjinakan blegdaba. Tiga ekor…”

“Oh. Tadi sudah aku berikan pada Baktiadar.”

“Baktiadar?”

“Ya. Baktiadar, Si Gundul itu. Masak kamu lupa teman sendiri?”

Bandarjani nyengir. Maklum, sesama saybuni di rumah penjinakan blegdaba milik Amuda ini tak ada yang memanggil antara sesama mereka dengan nama yang benar. Bandarjani dipanggil teman-temannya sebagai Darjani. Baktiadar, mengapa Bandarjani lupa bahwa nama panjangnya adalah Baktiadar, seringnya disebut Si Gundul saja. Sebab ia satu-satunya yang berkepala plontos, tanpa rambut sehelaipun. Menurutnya, dulu ia pernah kena penyakit yang dibawa oleh orang-orang dari Jarak. Penyakit kulit yang membuat kulit kepala terasa begitu gatal, lalu menjadi seperti bersisik, dan akhirnya rambut orang yang terkena penyakit itu, seperti Baktiadar, mulai rontok sedikit demi sedikit sampai benar-benar botak. Namun tak semua orang percaya dengan cerita Baktiadar soal kebotakannya itu. Apalagi jika dihubung-hubungkan dengan orang dari Jarak. Orang-orang Jarak sebagaimana orang dari Timur Tengah dan jazirah Arab rata-rata berambut ikal dan tebal. Bukan saja rambut di kepala, di muka seperti kumis dan janggut pun mereka punya. Belum lagi di dada dan di punggung, bahkan sampai ke bidang pantat. Memang ada yang botak, tapi biasanya tidak seplontos kepala Baktiadar.

Bandarjani pernah dengar desas-desus bahwa Baktiadar adalah anggota komplotan penjahat pimpinan Kistaham. Dulu, komplotan Kistaham begitu merajai jalur perdagangan antara Medayin ke Kaos dan lurus ke Jarak. Mereka mencari sasaran petugas pajak yang hendak menyetor upeti dan pajak dari Jarak dan Medayin ke Kaos. Padahal itu jalur di mana Amir Ambyah dan Umarmaya yang digdaya itu sering berlalu-lalang. Namun bagi penjahat seperti Kistaham, tempat teraman untuk berbuat jahat justru di tempat yang selalu diawasi. Mereka sudah tahu jadwal patroli prajurit, kapan giliran jaga, di mana titik paling lama dijangkau oleh petugas keamanan jika terjadi kejahatan. Semua sudah digambar, direkam, dan dihafal oleh Kistaham dan komplotannya. Saking hebatnya komplotan itu, pernah mereka berhasil masuk ke dapur istana Amir Ambyah! Tentu saja hal ini membuat murka Amir Ambyah dan Umarmaya, bagaimana bisa istana raja malah kemalingan. Karena dianggap teledor, akibat masuknya komplotan Kistaham ke dapur istana, dua orang juru masak yaitu Jamsikin dan Samsikin kena getahnya. Mereka diberhentikan. Terlebih mereka dianggap ikut berkomplot karena ditemukan adanya racun di dalam makanan yang hendak disediakan untuk keluarga kerajaan. Atas saran Prabu Nusirwan, mertua Amir Ambyah, seluruh keluarga diboyong pergi ke Mekah sementara. Saat istana dirasa kosong, Kistaham dan komplotannya kembali masuk ke istana. Saat itulah Umarmaya yang tak kasatmata, karena mengenakan jubah nabi Kilir, menangkap mereka semua. Kistaham dan komplotannya digelandang Umarmaya ke Mekah untuk meminta maaf pada Amir Ambyah. Untuk mengurangi kekesalannya, Kistaham dan kelompoknya satu per satu dipermalukan dengan cara digunduli kepalanya dengan pedang Amir Ambyah yang merupakan wasiat dari Abdul Muthalib, yang berjasa memperkenalkan Amir Ambyah dengan para nabi dan mengajarkan padanya agama nabi Ibrahim. Karena pamor kesaktian yang dimiliki oleh pedang itu, Kistaham dan anggota kelompoknya tak pernah bisa tumbuh rambut lagi.

Bagi Bandarjani dan teman-teman yang lain, melihat kebotakan Baktiadar yang benar-benar tak menyisakan bekas tumbuhnya rambut itu, cerita yang kedua itu lebih cocok untuk menjelaskan asal usul mengapa Baktiadar itu gundul.

Bandarjani segera mencari Baktiadar.

“Ndul! Gundul! Di mana kau?”

Baktiadar yang merasa dipanggil segera menyahut. Suaranya terdengar jauh.

“Aku di sini, Darjani! Kemarilah!”

Di kejauhan, di kandang kalisli di halaman paling belakang, Bandarjani melihat seseorang berkepala gundul melambai ke arahnya. Bandarjani setengah berlari menuju kepada Baktiadar. Begitu jarak mereka dekat, Baktiadar melemparkan kantung kain kecil berisi uang ripis, upah bagian Bandarjani. Sigap kedua tangan Bandarjani mencari arah jatuh kantung kain itu, dan begitu kantung kain mendarat, kedua tangan itu menangkup seperti mulut buaya menyambar kaki blegdaba yang berenang.

Diguncang-guncangnya oleh Bandarjani kantung kain dalam tangkupan tangannya. Terasa ringan. Pandangannya terarah pada Baktiadar. Kedua mata Bandarjani membelalak sebentar lalu kedua alisnya terangkat. Mulutnya membuka tanpa suara. Baktiadar, meski tak ada kata yang terucap di bibir Bandarjani, seolah mengerti bahwa yang ditanyakan Bandarjani kepadanya adalah - berapa isinya?

Tangan Baktiadar terangkat dengan lima jemari mengembang, lalu jari telunjuknya ditekuk, bertemu dengan ibu jarinya yang juga ditekuk sehingga ke duanya membentuk lingkaran. Jari tengah, jari manis, dan jari kelingking tetap teracung. Tiga! Isyarat Baktiadar pada Bandarjani.

Bandarjani menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kecewa. Upaya berminggu-minggu hanya menghasilkan tiga ratus ripis saja. Jumlah yang setara dengan tiga dinar Mekah atau tiga solid Ngerum. Padahal untuk bisa berlibur dengan tenang dan senang paling tidak membutuhkan uang satu dirham yang sepadan dengan tujuh dinar atau tujuh ratus ripis. Usai memperlihatkan rasa kecewanya, Bandarjani melambai ke arah teman-temannya.

Comments