Seekor
burung terbang melintas di atas kepala Bandarjani yang siang ini mengarahkan
kembali pulang ke rumah penjinakan blegdaba milik Amuda majikannya. Tak sekadar
melintas, burung itu menjatuhkan miliknya yang paling tak berharga tepat di
atas rambut ikal Bandarjani.
“Ais!
Sial! Sial!”
Bandarjani
menggerutu begitu merasa sedikit rambutnya basah padahal langit tidak sedang
mendung dan tidak ada satu larik pun tetesan hujan jatuh dari gemawan yang
berwarna putih bersih itu. Ia makin menjadi-jadi memaki saat mencium bau di
jemarinya yang sempat menyentuh bagian rambut yang basah itu.
“Awas kau
burung sialan! Kalau saja aku punya garga, sudah kukejar ke manapun kau
terbang!”
Garga
adalah tunggangan Mraja Baladikum, kakak dari Aspandriya, Raja Biraji. Sama
seperti wujud wabru, tak banyak orang yang tahu seperti apa sebenarnya garga
itu. Secara gampang orang bilang garga itu kuda terbang. Di dunia ini, hanya
Mraja Baladikum raja kerajaan Ngambarsirat itulah yang punya tunggangan garga.
Setelah perang besar di Biraji, di mana Mraja Baladikum dan garga tunggangannya
dipukul oleh gada Amir Ambyah hingga tak berbentuk lagi, tak ada yang bisa
menggambarkan bentuk garga secara tepat. Ada yang bilang mirip kuda tetapi
berekor ular, ada yang bilang kepalanya garuda tapi kakinya singa, bahkan ada
yang menyebut garga itu bersayap mirip kelelawar tetapi badannya bulat dan
berekor seperti berudu katak.
Amir
Ambyah sebenarnya sudah terdesak ketika Aspandriya dan Mraja Baladikum bersatu
padu menantangnya. Aspandriya dan Mraja Baladikum itu seperti Duryudana dan
Dursasana dalam kisah wayang Mahabarata. Selalu seia sekata dalam perbuatan
jahat. Aspandriya, dengan bendera atau panji tunggul wulungnya nyaris membuat
habis pasukan-pasukan bantuan raja-raja bawahan yang mengepung Biraji setiap
pagi. Mraja Baladikum yang bisa menyerang dari udara karena menunggangi garga,
membuat pasukan Kuparman dan negara-negara lain itu selalu kehabisan cara untuk
menyerang Biraji. Saat ditombak atau dipanah, Mraja Baladikum dengan garganya
bisa makin tinggi mengudara sehingga membuat tombak dan panah itu jatuh lagi ke
bawah begitu tak bisa menjangkaunya. Belum lagi kalau Mraja Baladikum tiba-tiba
menukik tanpa bisa diketahui arah datangnya karena bersembunyi di balik
gemawan, pasukan koalisi Kuparman tak siap dan akhirnya tak mampu mengatasi
serangan gada Mraja Baladikum. Beratus-ratus kepala bisa remuk sekali pukul
olehnya.
Beruntunglah,
waktu itu Kakek Maskun, Resi Guru sekaligus kakek dari Raja Maktal, raja
kerajaan Ngalabani yang pernah dikalahkan Wong Agung, datang dan memberitahukan
kelemahan Aspandriya dan Mraja Baladikum. Umarmaya disuruhnya menggunakan topi
yang didapatnya dari negeri Ngajerak, yang mana sebenarnya topi itu adalah
wasiat Baginda Nabi Soleman. Dengan menggunakan topi itu, Umarmaya tidak akan
terlihat oleh Mraja Baladikum dari angkasa dengan begitu ia bisa leluasa
mendekati Aspandriya. Namun untuk bisa mendekati Aspandriya, Umarmaya juga
diharuskan menggunakan jubah yang pernah diberikan oleh nabi Kilir. Dengan
menggunakan jubah itu, seluruh tubuhnya akan tak kasatmata. Tak bisa dilihat
siapapun. Dan untuk mengalahkan Aspandriya, Umarmaya harus terlebih dahulu
merusak panji tunggul wulung pusaka dari Aspandriya. Bendera atau panji itu
berwarna hitam dengan bulan purnama berwarna putih perak di tengahnya. Apabila
Aspandriya mengibarkan panji itu, angin besar datang menyapu apapun yang ada di
hadapannya. Gajah, kuda, unta, blegdaba, pasukan, bisa berantakan tercerai
berai ke berbagai arah.
Mengikuti
nasehat dari Kakek Guru Maskun, Umarmaya berhasil mendekati Aspandriya dan
merusak panji tunggul wulung membuat Aspandriya tak bisa lagi mengusir pasukan
yang datang menyerbu, sementara Mraja Baladikum terpaksa memundurkan garis
pertahanannya supaya Aspandriya masih bisa terlindung olehnya sementara pasukan
koalisi Kuparman makin merasuk ke kota-kota negara Biraji. Saat Amir Ambyah
bisa membunuh Aspandriya, Mraja Baladikum dengan kemarahan yang luar biasa
segera menerjang Amir Ambyah. Bukannya menghindar, Amir Ambyah justru bersiap
untuk memukul sekencang-kencangnya Mraja Baladikum dan garganya dengan gada.
Dan benar saja, tak berapa lama terjadilah tabrakan yang amat keras antara
tubuh garga yang ditunggangi Mraja Baladikum dengan hantaman gada Amir Ambyah!
Kekuatan dahsyat hantaman gada Amir Ambyah seperti sebuah tamparan tangan
menimpa seekor nyamuk belaka. Garga dan Mraja Baladikum remuk tak berbentuk.
Tinggal serpihan daging berlumuran darah.
Bandarjani
memandang kosong ke arah langit biru di atasnya. Udara siang itu masih terasa
sejuk karena angin yang membawa naik uap air Danau Telamis. Namun pikiran dan
hati Bandarjani sudah panas. Pikiran Bandarjani masih terpaku pada bagaimana
cara menambah jumlah ratusan ripis yang bakal dimiliki dari upah penjualan
blegdaba yang tiga ekor hasil penjinakannya di rumah penjinakan Amuda.
Sementara hatinya jengkel gara-gara tahi burung yang menimpa kepalanya.
Bandarjani
memutuskan untuk bergegas. Siapa tahu siang ini di kandang-kandang kalisli di
rumah penjinakan blegdaba milik Amuda akan berdatangan blegdaba-blegdaba liar
dari Ngabesin atau Mesir. Namun baru beberapa langkah, ia melihat dua ekor kuda
dipacu kencang mengarah ke utara, berlawanan dengan arah perjalanan Bandarjani
yang ke selatan. Blaik! Bisa-bisa aku ditabrak mereka! Pikir Bandarjani segera
menyingkir dari jalan. Dengan jarak yang makin dekat, Bandarjani bisa melihat
bahwa kedua orang itu ternyata dua orang perempuan. Yang satu bersenjata
pedang, yang satunya berselempang tali kentular, semacam selendang tetapi
biasanya mengandung benang-benang dari serat baja. Bandarjani tahu hal itu
karena tali kentular biasa diperlengkapkan bagi prajurit-prajurit perempuan
negara Ngalabani, tanah leluhurnya. Dua orang prajurit perempuan Ngalabani
pergi ke sebelah utara? Prajurit perempuan biasanya ditugaskan untuk menjaga
para puteri raja atau permaisuri. Namun jika di luar istana dan tak terlihat
ada keluarga kerajaan, pasti mereka tengah ditugasi menjadi sandi untuk
menyampaikan pesan dari raja atau keluarga kerajaan lain untuk pejabat-pejabat
Ngalabani yang berada di negeri-negeri lain. Tak salah lagi! Tebaknya Mereka
pasti akan ke rumah orangtuaku, begitu pikir Bandarjani. Memang wajar
Bandarjani berpikir demikian, karena Daundari ayahnya adalah mantan patih
Ngalabani. Segera pikiran Bandarjani terpecah, apakah ia harus membatalkan
niatnya pulang ke rumah penjinakan blegdaba milik Amuda, atau ia perlu
menyelidiki apa maksud dari kedatangan prajurit-prajurit sandi itu. Demi
ratusan ripis untuk berlibur, aku harus segera sampai dulu ke Amuda, begitu
tekad Bandarjani.
Sampai di
rumah penjinakan blegdaba milik Amuda, Bandarjani segera menuju kandang dibek
di mana kemarin ia telah mempersiapkan blegdaba-blegdaba yang telah dijinakkan
dan dilatihnya.
“HEI!”
Teriak Bandarjani pada siapa saja yang mendengar, yang kemudian dilanjutkannya,
“SIAPA YANG TELAH MEMINDAHKAN BLEGDABA HASIL JINAKANKU?”
Mendengar
Bandarjani teriak-teriak, Amuda pemilik rumah penjinakan segera menghampirinya.
“Jangan teriak-teriak, Bandarjani. Kenapa kau baru datang sesiang ini? Tadi
pagi, aku mencari-carimu. Semua blegdaba di kandang dibek sudah dipindahkan ke
kadang dinmar di depan.”
“Lalu,
upah bagian saya mana Tuan?”
“Upah?
Upah apa?”
“Upah
penjinakan blegdaba. Tiga ekor…”
“Oh. Tadi
sudah aku berikan pada Baktiadar.”
“Baktiadar?”
“Ya.
Baktiadar, Si Gundul itu. Masak kamu lupa teman sendiri?”
Bandarjani
nyengir. Maklum, sesama saybuni di rumah penjinakan blegdaba milik Amuda ini
tak ada yang memanggil antara sesama mereka dengan nama yang benar. Bandarjani
dipanggil teman-temannya sebagai Darjani. Baktiadar, mengapa Bandarjani lupa
bahwa nama panjangnya adalah Baktiadar, seringnya disebut Si Gundul saja. Sebab
ia satu-satunya yang berkepala plontos, tanpa rambut sehelaipun. Menurutnya,
dulu ia pernah kena penyakit yang dibawa oleh orang-orang dari Jarak. Penyakit
kulit yang membuat kulit kepala terasa begitu gatal, lalu menjadi seperti
bersisik, dan akhirnya rambut orang yang terkena penyakit itu, seperti
Baktiadar, mulai rontok sedikit demi sedikit sampai benar-benar botak. Namun
tak semua orang percaya dengan cerita Baktiadar soal kebotakannya itu. Apalagi
jika dihubung-hubungkan dengan orang dari Jarak. Orang-orang Jarak sebagaimana
orang dari Timur Tengah dan jazirah Arab rata-rata berambut ikal dan tebal.
Bukan saja rambut di kepala, di muka seperti kumis dan janggut pun mereka
punya. Belum lagi di dada dan di punggung, bahkan sampai ke bidang pantat.
Memang ada yang botak, tapi biasanya tidak seplontos kepala Baktiadar.
Bandarjani
pernah dengar desas-desus bahwa Baktiadar adalah anggota komplotan penjahat
pimpinan Kistaham. Dulu, komplotan Kistaham begitu merajai jalur perdagangan
antara Medayin ke Kaos dan lurus ke Jarak. Mereka mencari sasaran petugas pajak
yang hendak menyetor upeti dan pajak dari Jarak dan Medayin ke Kaos. Padahal
itu jalur di mana Amir Ambyah dan Umarmaya yang digdaya itu sering
berlalu-lalang. Namun bagi penjahat seperti Kistaham, tempat teraman untuk
berbuat jahat justru di tempat yang selalu diawasi. Mereka sudah tahu jadwal
patroli prajurit, kapan giliran jaga, di mana titik paling lama dijangkau oleh
petugas keamanan jika terjadi kejahatan. Semua sudah digambar, direkam, dan
dihafal oleh Kistaham dan komplotannya. Saking hebatnya komplotan itu, pernah
mereka berhasil masuk ke dapur istana Amir Ambyah! Tentu saja hal ini membuat
murka Amir Ambyah dan Umarmaya, bagaimana bisa istana raja malah kemalingan.
Karena dianggap teledor, akibat masuknya komplotan Kistaham ke dapur istana,
dua orang juru masak yaitu Jamsikin dan Samsikin kena getahnya. Mereka
diberhentikan. Terlebih mereka dianggap ikut berkomplot karena ditemukan adanya
racun di dalam makanan yang hendak disediakan untuk keluarga kerajaan. Atas
saran Prabu Nusirwan, mertua Amir Ambyah, seluruh keluarga diboyong pergi ke
Mekah sementara. Saat istana dirasa kosong, Kistaham dan komplotannya kembali
masuk ke istana. Saat itulah Umarmaya yang tak kasatmata, karena mengenakan
jubah nabi Kilir, menangkap mereka semua. Kistaham dan komplotannya digelandang
Umarmaya ke Mekah untuk meminta maaf pada Amir Ambyah. Untuk mengurangi
kekesalannya, Kistaham dan kelompoknya satu per satu dipermalukan dengan cara
digunduli kepalanya dengan pedang Amir Ambyah yang merupakan wasiat dari Abdul
Muthalib, yang berjasa memperkenalkan Amir Ambyah dengan para nabi dan
mengajarkan padanya agama nabi Ibrahim. Karena pamor kesaktian yang dimiliki
oleh pedang itu, Kistaham dan anggota kelompoknya tak pernah bisa tumbuh rambut
lagi.
Bagi Bandarjani
dan teman-teman yang lain, melihat kebotakan Baktiadar yang benar-benar tak
menyisakan bekas tumbuhnya rambut itu, cerita yang kedua itu lebih cocok untuk
menjelaskan asal usul mengapa Baktiadar itu gundul.
Bandarjani
segera mencari Baktiadar.
“Ndul!
Gundul! Di mana kau?”
Baktiadar
yang merasa dipanggil segera menyahut. Suaranya terdengar jauh.
“Aku di
sini, Darjani! Kemarilah!”
Di
kejauhan, di kandang kalisli di halaman paling belakang, Bandarjani melihat
seseorang berkepala gundul melambai ke arahnya. Bandarjani setengah berlari
menuju kepada Baktiadar. Begitu jarak mereka dekat, Baktiadar melemparkan
kantung kain kecil berisi uang ripis, upah bagian Bandarjani. Sigap kedua
tangan Bandarjani mencari arah jatuh kantung kain itu, dan begitu kantung kain
mendarat, kedua tangan itu menangkup seperti mulut buaya menyambar kaki
blegdaba yang berenang.
Diguncang-guncangnya
oleh Bandarjani kantung kain dalam tangkupan tangannya. Terasa ringan.
Pandangannya terarah pada Baktiadar. Kedua mata Bandarjani membelalak sebentar
lalu kedua alisnya terangkat. Mulutnya membuka tanpa suara. Baktiadar, meski
tak ada kata yang terucap di bibir Bandarjani, seolah mengerti bahwa yang
ditanyakan Bandarjani kepadanya adalah - berapa isinya?
Tangan
Baktiadar terangkat dengan lima jemari mengembang, lalu jari telunjuknya
ditekuk, bertemu dengan ibu jarinya yang juga ditekuk sehingga ke duanya
membentuk lingkaran. Jari tengah, jari manis, dan jari kelingking tetap
teracung. Tiga! Isyarat Baktiadar pada Bandarjani.
Bandarjani
menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kecewa. Upaya berminggu-minggu hanya
menghasilkan tiga ratus ripis saja. Jumlah yang setara dengan tiga dinar Mekah
atau tiga solid Ngerum. Padahal untuk bisa berlibur dengan tenang dan senang
paling tidak membutuhkan uang satu dirham yang sepadan dengan tujuh dinar atau
tujuh ratus ripis. Usai memperlihatkan rasa kecewanya, Bandarjani melambai ke
arah teman-temannya.

Comments
Post a Comment