Menjelang malam, mereka sudah sampai di seberang kota Edim. Besok mereka harus mencari kapal untuk menyeberangkan mereka ke Edim. Mereka memutuskan menginap di sebuah penginapan yang dinamakan Bale Silir.
“Untuk
berapa orang?” Tanya pemilik penginapan Bale Silir. Ia seorang bertubuh tambun,
berkulit kuning, dengan kedua mata sipit. Kumisnya dibiarkan panjang menjuntai
di kedua sisi bibirnya. Persis seperti sungut ikan lele.
“Satu
kamar saja, untuk kami berdua,” sahut Daundari.
“Baiklah.
Akan kami siapkan. Tunggu sebentar, ya, Tuan-tuan. Biar Bangirun menyiapkan
kamar kalian, dan Prono, pekatik di sini, akan membawa keledai dan bagal kalian
ke kandang. O, ya. Perkenalkan, saya Hong Te Jie.”
“Salam,
Tuan Hong Te Jie. Saya Daundari, dan ini anak saya, Bandarjani.”
“Daundari?
Bandarjani? Sepertinya nama-nama Tuan-tuan ini bukan nama orang-orang Turki
atau Sasaniyah.”
“Sama
seperti Anda, Tuan Hong Te Jie. Itu juga bukan nama orang Turki atau Sasaniyah,
benarkah demkian?”
Hong Te
Jie terbahak.
“Benar.
Benar. Saya bukan asli Turki atau Sasaniyah. Saya dari dari Timur Jauh.”
“Saya
sudah menduga dari bentuk fisik Anda, Tuan.” balas Daundari.
“Kalau
Tuan-tuan ini dari mana?” Tanya Hong Te Jie.
Daundari
terdiam. Hong Te Jie melirik pada Bandarjani yang seperti hendak berbicara,
tetapi karena melihat ayahnya tidak menjawab pertanyaan Hong Te Jie, niatnya
untuk menjawab pertanyaan itu pun ia batalkan.
“Tuan-tuan
ini keberatan menjawab pertanyaan saya? Tak apa. Tak apa. Saya bukan orang yang
suka mencampuri urusan tamu-tamu saya. Hehehe.”
Daundari
tersenyum simpul. Bandarjani ikut-ikutan tersenyum.
“Apakah
kami harus membayar uang sewa kamar sekarang?” Tanya Daundari sambil
mengeluarkan kantung kain dari sabuknya sendiri.
“Ya.
Benar. Setengah solid Ngerum, atau lima puluh ripis semalam.”
“Mahal
betul,” protes Daundari.
“Tidak
mahal, Tuan. Dua puluh lima ripis untuk sewa semalam, dua puluh lima ripis lagi
untuk deposit. Siapa tahu kalian, Tuan-tuan, hendak memporak-porandakan kamar.
Hihihi.”
“Kami
bukan pasangan kekasih. Kami adalah ayah dan anak.”
“Ah. Yang
sudah-sudah juga tidak pernah mengaku. Hahaha.”
Daundari
kembali diam. Dikeluarkannya lima puluh ripis dan diserahkan ke tangan Hong Te
Jie, yang tak lama kemudian berseru memanggil Bangirun dan Prono, para
pembantunya. Prono Si Pekatik segera mengambil keledai dan bagal Daundari dan
Bandarjani, setelah sebelumnya mengambil barang-barang perbekalan di kantung
pelana bagal dan meletakkannya di lantai. Bangirun membawa barang-barang itu,
dan mempersilakan Daundari dan Bandarjani mengikutinya ke arah kamar yang
kuncinya telah diserahkan padanya oleh Hong Te Jie.
“Kamar
nomor 33. Ujung sebelah kanan dari taman, setelah melewati kolam,” Bangirun
menjelaskan pada Daundari dan Bandarjani letak kamar penginapan yang
diperuntukkan bagi mereka.
Sebelum
memasuki kamar, Bandarjani bertanya pada ayahnya, “Berapa hari kira-kira
perjalanan kita nanti, Ayah?”
“Kalau
tidak ada hujan atau topan, sehingga kita besok pagi bisa berlayar. Aku pikir
lima-enam hari lagi kita sudah sampai.”
“Lima –
enam hari, aku pikir bisa kurang dari tiga hari,” keluh Bandarjani.
“Kenapa?”
“Tuan
Amuda bilang, dalam seminggu ini, pesanan blegdaba dari Ngabesin bisa jadi
sudah mengisi kadang kalisli rumah penjinakan blegdaba miliknya.”
Daundari
terdiam sejenak, sebelum bicara pada anaknya, “Nak. Urusan kita kali ini lebih
penting dan lebih berbahaya daripada menjinakkan blegdaba.”
“Aku
mengerti, Ayah. Aku mengerti. Hanya saja, tiba-tiba aku teringat soal blegdaba.
Rasanya agak ganjil bagiku seharian tak mendengar embik blegdaba, tak mencium
bau kotorannya,” jawab Bandarjani.
“Barangkali
kau memang sudah ditakdirkan sebagai penjinak blegdaba, ya?” Ledek Daundari
yang segera disambut oleh tawa Bandarjani. Malam itu, ayah dan anak tidur
dengan pulas karena kelelahan. Keduanya tak menyadari sedari tadi ada yang
mengamati mereka sejak Hong Te Jie menanyakan nama Daundari dan Bandarjani di
ruangan depan penginapan. Bahkan ketika Bangirun mengantar mereka menuju kamar
nomor 33, orang yang berperawakan tinggi besar dengan rambut panjang
awut-awutan itu diam-diam mengikuti dari belakang. dari jarak yang tak membuat
Daundari dan Bandarjani merasa dibuntuti. Saat ini, orang itu berdiri di
sebelah pokok bunga di dalam taman di tengah penginapan. Matanya tertuju pada
kamar di ujung kanan di mana Daundari dan Bandarjani tengah bermimpi.
Bangirun
yang malam itu berada di teras untuk mengirimkan makanan pada sebuah kamar,
terkejut melihat sosok orang itu yang dia kira hantu. Ia memekik. Suara
Bangirun ternyata juga mengejutkan orang itu. Ia segera menghampiri Bangirun
sambil berkata, “Aku manusia. Bukan hantu.” Bangirun yang belum berhenti
terkejut, begitu melihat wajah orang itu yang juga ternyata berkulit hitam
malah makin menjerit, “HANTU!”
Orang itu
memegang tangan Bangirun untuk membuktikan bahwa ia manusia, sama seperti
Bangirun. Namun begitu Bangirun merasa tangannya dipegang, ia jatuh pingsan.
Teriakan Bangirun membangunkan para tamu penginapan, juga Hong Te Jie.
“Ada apa
ini? Lho, Bangirun? Kenapa dia?” Teriak Hong Te Jie melihat Bangirun terjatuh
di teras sedang didekatnya terdapat orang bertubuh tinggi besar berambut
awut-awutan.
“Tuan
Alam Daur, apa yang sudah kaulakukan pada Bangirun?”
Pintu
kamar 33 pun terbuka. Daundari melesat ke teras di mana Alam Daur dan Bangirun
serta orang-orang yang terbangun karena keributan itu. Bandarjani mengikuti
dari belakang dengan mata masih setengah terpejam.
Begitu
melihat Alam Daur, Daundari terkejut. Sebuah nama meluncur dari bibirnya, “Raja
Lamdahur?”
Alam Daur
yang disebut Lamdahur itu pun menoleh ke arah suara.
“Patih
Daundari!”
Keduanya
lantas berpelukan.
“Sudah
lama aku tak mendengar kabarmu, Patih Daundari.”
“Ssst.
Jangan panggil aku begitu, jabatan itu sudah lama aku tinggalkan. Bagaimana
pula kabarmu, Raja Lamdahur?”
Lamdahur
melepas pelukannya pada Daundari. Wajahnya berubah dari senang menjadi lemah.
Sorot matanya menampakkan kesedihan.
“Ada
persoalan apakah di Serandil? Apakah ada hubungannya dengan peperangan yang
akan terjadi antara Khankhan dan Kuristam?”
Namun
sebelum Lamdahur menjawab, Hong Te Jie, yang tadi terkejut melihat Bangirun
pingsan dan mengira Lamdahur melakukan sesuatu kepada Bangirun, sudah berada di
dekat mereka. Tangannya yang gemuk memukul bahu Lamdahur.
“Alam
Daur? Apa yang kau telah lakukan pada Bangirun? Apakah kau bermaksud
memperkosanya?”
Orang-orang
masih mengerubungi Bangirun. Ada yang menepuk-nepuk pipinya, ada yang mengulur
rempah-rempah ke depan hidungnya. Bandarjani, melihat Bangirun, gadis Turki
pelayan penginapan itu tergolek pingsan, segera meminta pada lelaki yang
mengulur minyak rempah-rempah di depan hidung Bangirun untuk memberikan minyak
itu ke telapak tangannya.
Lelaki
itu bertanya pada Bandarjani, “Untuk apa?”
Bandarjani
menjawab, “Biar aku balurin sedikit di leher dan punggung gadis ini.”
Lelaki
itu nyengir dan membalas Bandarjani, “Enak saja. Biar aku saja!”
Ia
mengucurkan minyak rempah-rempah ke telapak tangannya dan bermaksud
membalurkannya ke leher dan dada Bangirun.
Tangan
Bandarjani bergerak menampar pipi Bangirun, agak kuat.
Plak!
Bangirun
terbangun dan memekik, “Aduh!”
Lelaki
yang tengah membalurkan minyak rempah-rempah ke leher dan dada Bangirun kaget.
Ia belum sempat menarik tangannya dari leher dan dada Bangirun. Melihat ada
lelaki tengah memegang bagian tubuhnya, Bangirun reflek berusaha bangkit
menjauh dan tangannya melayang menonjok lelaki itu tepat pada hidungnya.
“ADUH!
Sialan!”
Lelaki
itu menjerit sambil memegangi hidungnya yang mengucurkan darah segar. Sementara
itu, Hong Te Jie berusaha mencengkeram leher Lamdahur jika Daundari tak
mencegahnya.
“Cukup,
Tuan Hong Te Jie. Tuan Lamdahur tidak serendah tuduhanmu itu!”
“Siapa
Lamdahur? Dia ini Alam Daur namanya! Dia hendak memperkosa pelayanku, biar aku
hajar dia!” Jerit Hong Te Jie.
Daundari
membentang tangan di hadapan Hong Te Jie. Memisahkan Hong Te Jie dari mendesak
Lamdahur.
“Aku
bilang cukup, Tuan Hong Te Jie. Kau tak tahu siapa yang kau tuduh itu.”
Daundari
juga melihat Bangirun sudah siuman. Ia menunjuk Bangirun sambil berkata,
“Lihat, Tuan Hong Te Jie. Bangirun sudah sadar. Lebih baik kita tanya, apakah
benar Tuan Lamdahur hendak memperkosa dia?”
Mendengar
ucapan Daundari, Bangirun menggelengkan kepala. Ia bangkit dan menarik tangan
Hong Te Jie.
“Tuan
Alam Daur tak bersalah. Saya hanya terkejut melihat dia berada di taman
malam-malam begitu. Saya pikir dia itu hantu. Dan tadi dia mendekat dan
memegang tangan untuk memastikan pada saya kalau dia adalah manusia, tapi saya
sungguh terkejut melihat wajahnya yang terlihat sangat mengerikan.”
Hong Te
Jie merasa lega mendengar penjelasan Bangirun. Namun ia masih ingin memastikan
bahwa Lamdahur tidak hendak berbuat asusila terhadap pelayannya.
“Dia
tidak bermaksud memperkosamu?”
“Saya
tidak tahu. Saya sudah pingsan duluan,” jawab Bangirun.
“Tuan
Hong Te Jie, aku tidak ada niat berbuat macam-macam. Aku hanya cari angin saja
di luar, di taman ini. Tiba-tiba aku dengar Bangirun berteriak – hantu! Aku
yakin dia salah sangka, mengira aku ini hantu, makanya aku kejar dia dan
kutangkap tangannya, untuk membuktikan bahwa aku ini manusia biasa. Eh dia
malah pingsan,” Lamdahur menjelaskan duduk persoalannya mengapa Bangirun bisa
pingsan dan hanya dia yang berada di luar kamar malam itu.
“Tuan
Hong Te Jie, ketahuilah, Lamdahur ini teman saya. Beliau seorang raja dari
Serandil. Beliau tidak mungkin berbuat macam-macam.”
Mendengar
ucapan Daundari, Hong Te Jie masih tidak yakin.
“Tuan
Daundari. Seperti aku bilang tadi waktu kau datang. Aku tidak ingin mencampuri
urusan tamu-tamuku. Mau dia seorang raja yang menyamar, mau pencuri yang
merencanakan perampokan besar-besaran, atau sekadar orang iseng yang ingin
bertemu pacar, silakan saja menginap di Bale Silir ini. Namun jika ia berbuat
iseng terhadapku, terlebih hendak membuat perbuatan tercela terhadap pekerja di
penginapan ini. Ia harus berhadapan denganku.”
Sambil
berkata begitu, Hong Te Jie bersiap dengan sikap kuda-kuda. Tangannya dikepal,
dibuka lengannya ke arah samping badan. Kedua kakinya ditekuk. Yang kiri ke
belakang, yang kanan maju ke depan. Badannya dicondongkan ke depan. Alisnya
membentuk gelombang di atas mata yang dipicingkan. Mata yang sipit itu kian
menyempit.
Melihat
Hong Te Jie bersiap menyerang. Lamdahur juga mengambil ancang-ancang. Daundari
masih bergeming di depan Hong Te Jie dengan membentang tangan. Namun tak lama
kemudian, ia mengatupkan kedua tangannya dan menunduk, sambil berkata, “Tuan
Hong Te Jie, maafkan kami, namun mohon dengarkan penjelasanku sejenak.”
Hong Te
Jie melunak. “Baiklah. Apa yang ingin kau sampaikan, Tuan Daundari?”
“Seperti
tadi saya bilang, Tuan Hong Te Jie, saya bisa buktikan bahwa Tuan Lamdahur ini
adalah seorang raja. Negerinya bernama Serandil. Letaknya sangat jauh di
selatan. Menyeberangi lautan luas. Dia juga teman lama saya. Ayahnya bernama
Prabu Sehalsyah. Ibundanya Retna Basirin, puteri dari Begawan Seh Bakar
Abunisya. Tuan Lamdahur ini juga seorang panglima perang dari Amir Ambyah.
Kedatangan beliau ke Sasaniyah, Turki, ini pasti mengemban amanat penting dari
Maharaja Amir Ambyah. Tuan Lamdahur, coba Anda tunjukkan pedang buatan Mpu
Barajondra yang tak ada duanya itu.”
Sambil
menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah terlihat kurang senang karena
rahasianya dibongkar di hadapan para tamu penginapan Bale Silir, Lamdahur melolos
sebilah pedang yang selalu ia bawa ke mana-mana. Pedang dengan bilah berukuran
besar dengan ujung agak melengkung itu punya pamor slewah (berbeda garis
tempaan antara sebelah bagian) supaya potongannya akan tetap sama tajam jika
memotong pada dua arah yang berlawanan. Tangkainya terbuat dari gading gajah
dengan ukiran seekor singa yang menggigit pundak seekor banteng. Sedang di
ujung tangkai pedang terdapat ukiran berbentuk mahkota dengan satu batu akik
Soleman Dawud berwarna coklat muda bening seperti kristal dari madu.
“Apa
perlu Raja Lamdahur mengeluarkan stempel kerajaan?” Tantang Daundari.
Hong Te
Jie yang baru pertama kali melihat pedang besar dengan ukiran yang rumit dan
cantik itu merasa sudah cukup untuk bisa mempercayai penjelasan Daundari.
“Jadi,
Tuan Alam Daur itu Raja Lamdahur?”
“Alam
Daur itu nama kecil saya, Tuan Hong Te Jie,” jawab Lamdahur.
Hong Te
Jie menundukkan kepala, tangannya mengelus sungutnya yang panjang.
“Jangan
panggil saya – Tuan, sebut saja nama saya.” Ucapnya malu-malu. Lalu lanjutnya,
“Bale Silir mendapat kehormatan dibuat tempat menginap oleh Tuan Lamdahur. Juga
Tuan Daundari.”
Bandarjani
tiba-tiba merangkul Hong Te Jie.
“Tidak
perlu jadi sungkan, Tuan Hong Te Jie. Anda adalah pemilik tempat ini. Siapapun
yang datang hanyalah tamu-tamu Anda. Penyewa kamar. Kalau dirasa tak sopan,
siapapun dia, bisa kau usir!” Ledek Bandarjani pada Hong Te Jie.
“Ah tidak
begitu juga. Tuan muda. Kalau saya main usir, bisa bahaya!”
Mendengar
perkataan Hong Te Jie, mereka semua yang berkumpul di teras dekat taman
tertawa. Tak lama kemudian, mereka bubar. Tinggal Lamdahur dan Daundari serta
Bandarjani yang ada di teras.
“Ini
anakmu, Patih Daundari? Sudah besar.”
“Benar,
Raja Lamdahur. Dia sudah bisa cari uang sendiri.”
“O, ya?
Bekerja sebagai apa? Kepala pasukan perang Sasaniyah? Pasukan Turki? Atau
perwira di Kerajaan Ngalabani?”
“Bukan,
Paman Raja, saya seorang saybinu.” Jawab Bandarjani.
“Saybinu,
apa itu?”
“Penjinak
blegdaba, Yang Mulia Raja Lamdahur, binatang kendaraan pasukan Ngerum.”
“Oh, jadi
dia bekerja untuk Ngerum?”
“Tidak,
Paman Raja, saya bekerja di rumah penjinakan blegdaba di Dara.”
“Kenapa
tidak bekerja untuk Ngerum? Untuk Raja Gulangge? Ayahmu pasti bisa memberikan
rekomendasi. Berapa upah sebagai say—apa tadi?”
“Saybinu,
Paman Raja. Tidak pasti upahnya. Tergantung dari berapa banyak blegdaba yang
bisa saya jinakkan.”

Comments
Post a Comment