9. Peristiwa di Bale Silir



                Menjelang malam, mereka sudah sampai di seberang kota Edim. Besok mereka harus mencari kapal untuk menyeberangkan mereka ke Edim. Mereka memutuskan menginap di sebuah penginapan yang dinamakan Bale Silir.

“Untuk berapa orang?” Tanya pemilik penginapan Bale Silir. Ia seorang bertubuh tambun, berkulit kuning, dengan kedua mata sipit. Kumisnya dibiarkan panjang menjuntai di kedua sisi bibirnya. Persis seperti sungut ikan lele.

“Satu kamar saja, untuk kami berdua,” sahut Daundari.

“Baiklah. Akan kami siapkan. Tunggu sebentar, ya, Tuan-tuan. Biar Bangirun menyiapkan kamar kalian, dan Prono, pekatik di sini, akan membawa keledai dan bagal kalian ke kandang. O, ya. Perkenalkan, saya Hong Te Jie.”

“Salam, Tuan Hong Te Jie. Saya Daundari, dan ini anak saya, Bandarjani.”

“Daundari? Bandarjani? Sepertinya nama-nama Tuan-tuan ini bukan nama orang-orang Turki atau Sasaniyah.”

“Sama seperti Anda, Tuan Hong Te Jie. Itu juga bukan nama orang Turki atau Sasaniyah, benarkah demkian?”

Hong Te Jie terbahak.

“Benar. Benar. Saya bukan asli Turki atau Sasaniyah. Saya dari dari Timur Jauh.”

“Saya sudah menduga dari bentuk fisik Anda, Tuan.” balas Daundari.

“Kalau Tuan-tuan ini dari mana?” Tanya Hong Te Jie.

Daundari terdiam. Hong Te Jie melirik pada Bandarjani yang seperti hendak berbicara, tetapi karena melihat ayahnya tidak menjawab pertanyaan Hong Te Jie, niatnya untuk menjawab pertanyaan itu pun ia batalkan.

“Tuan-tuan ini keberatan menjawab pertanyaan saya? Tak apa. Tak apa. Saya bukan orang yang suka mencampuri urusan tamu-tamu saya. Hehehe.”

Daundari tersenyum simpul. Bandarjani ikut-ikutan tersenyum.

“Apakah kami harus membayar uang sewa kamar sekarang?” Tanya Daundari sambil mengeluarkan kantung kain dari sabuknya sendiri.

“Ya. Benar. Setengah solid Ngerum, atau lima puluh ripis semalam.”

“Mahal betul,” protes Daundari.

“Tidak mahal, Tuan. Dua puluh lima ripis untuk sewa semalam, dua puluh lima ripis lagi untuk deposit. Siapa tahu kalian, Tuan-tuan, hendak memporak-porandakan kamar. Hihihi.”

“Kami bukan pasangan kekasih. Kami adalah ayah dan anak.”

“Ah. Yang sudah-sudah juga tidak pernah mengaku. Hahaha.”

Daundari kembali diam. Dikeluarkannya lima puluh ripis dan diserahkan ke tangan Hong Te Jie, yang tak lama kemudian berseru memanggil Bangirun dan Prono, para pembantunya. Prono Si Pekatik segera mengambil keledai dan bagal Daundari dan Bandarjani, setelah sebelumnya mengambil barang-barang perbekalan di kantung pelana bagal dan meletakkannya di lantai. Bangirun membawa barang-barang itu, dan mempersilakan Daundari dan Bandarjani mengikutinya ke arah kamar yang kuncinya telah diserahkan padanya oleh Hong Te Jie.

“Kamar nomor 33. Ujung sebelah kanan dari taman, setelah melewati kolam,” Bangirun menjelaskan pada Daundari dan Bandarjani letak kamar penginapan yang diperuntukkan bagi mereka.

Sebelum memasuki kamar, Bandarjani bertanya pada ayahnya, “Berapa hari kira-kira perjalanan kita nanti, Ayah?”

“Kalau tidak ada hujan atau topan, sehingga kita besok pagi bisa berlayar. Aku pikir lima-enam hari lagi kita sudah sampai.”

“Lima – enam hari, aku pikir bisa kurang dari tiga hari,” keluh Bandarjani.

“Kenapa?”

“Tuan Amuda bilang, dalam seminggu ini, pesanan blegdaba dari Ngabesin bisa jadi sudah mengisi kadang kalisli rumah penjinakan blegdaba miliknya.”

Daundari terdiam sejenak, sebelum bicara pada anaknya, “Nak. Urusan kita kali ini lebih penting dan lebih berbahaya daripada menjinakkan blegdaba.”

“Aku mengerti, Ayah. Aku mengerti. Hanya saja, tiba-tiba aku teringat soal blegdaba. Rasanya agak ganjil bagiku seharian tak mendengar embik blegdaba, tak mencium bau kotorannya,” jawab Bandarjani.

“Barangkali kau memang sudah ditakdirkan sebagai penjinak blegdaba, ya?” Ledek Daundari yang segera disambut oleh tawa Bandarjani. Malam itu, ayah dan anak tidur dengan pulas karena kelelahan. Keduanya tak menyadari sedari tadi ada yang mengamati mereka sejak Hong Te Jie menanyakan nama Daundari dan Bandarjani di ruangan depan penginapan. Bahkan ketika Bangirun mengantar mereka menuju kamar nomor 33, orang yang berperawakan tinggi besar dengan rambut panjang awut-awutan itu diam-diam mengikuti dari belakang. dari jarak yang tak membuat Daundari dan Bandarjani merasa dibuntuti. Saat ini, orang itu berdiri di sebelah pokok bunga di dalam taman di tengah penginapan. Matanya tertuju pada kamar di ujung kanan di mana Daundari dan Bandarjani tengah bermimpi.

Bangirun yang malam itu berada di teras untuk mengirimkan makanan pada sebuah kamar, terkejut melihat sosok orang itu yang dia kira hantu. Ia memekik. Suara Bangirun ternyata juga mengejutkan orang itu. Ia segera menghampiri Bangirun sambil berkata, “Aku manusia. Bukan hantu.” Bangirun yang belum berhenti terkejut, begitu melihat wajah orang itu yang juga ternyata berkulit hitam malah makin menjerit, “HANTU!”

Orang itu memegang tangan Bangirun untuk membuktikan bahwa ia manusia, sama seperti Bangirun. Namun begitu Bangirun merasa tangannya dipegang, ia jatuh pingsan. Teriakan Bangirun membangunkan para tamu penginapan, juga Hong Te Jie.

“Ada apa ini? Lho, Bangirun? Kenapa dia?” Teriak Hong Te Jie melihat Bangirun terjatuh di teras sedang didekatnya terdapat orang bertubuh tinggi besar berambut awut-awutan.

“Tuan Alam Daur, apa yang sudah kaulakukan pada Bangirun?”

Pintu kamar 33 pun terbuka. Daundari melesat ke teras di mana Alam Daur dan Bangirun serta orang-orang yang terbangun karena keributan itu. Bandarjani mengikuti dari belakang dengan mata masih setengah terpejam.

Begitu melihat Alam Daur, Daundari terkejut. Sebuah nama meluncur dari bibirnya, “Raja Lamdahur?”

Alam Daur yang disebut Lamdahur itu pun menoleh ke arah suara.

“Patih Daundari!”

Keduanya lantas berpelukan.

“Sudah lama aku tak mendengar kabarmu, Patih Daundari.”

“Ssst. Jangan panggil aku begitu, jabatan itu sudah lama aku tinggalkan. Bagaimana pula kabarmu, Raja Lamdahur?”

Lamdahur melepas pelukannya pada Daundari. Wajahnya berubah dari senang menjadi lemah. Sorot matanya menampakkan kesedihan.

“Ada persoalan apakah di Serandil? Apakah ada hubungannya dengan peperangan yang akan terjadi antara Khankhan dan Kuristam?”

Namun sebelum Lamdahur menjawab, Hong Te Jie, yang tadi terkejut melihat Bangirun pingsan dan mengira Lamdahur melakukan sesuatu kepada Bangirun, sudah berada di dekat mereka. Tangannya yang gemuk memukul bahu Lamdahur.

“Alam Daur? Apa yang kau telah lakukan pada Bangirun? Apakah kau bermaksud memperkosanya?”

Orang-orang masih mengerubungi Bangirun. Ada yang menepuk-nepuk pipinya, ada yang mengulur rempah-rempah ke depan hidungnya. Bandarjani, melihat Bangirun, gadis Turki pelayan penginapan itu tergolek pingsan, segera meminta pada lelaki yang mengulur minyak rempah-rempah di depan hidung Bangirun untuk memberikan minyak itu ke telapak tangannya.

Lelaki itu bertanya pada Bandarjani, “Untuk apa?”

Bandarjani menjawab, “Biar aku balurin sedikit di leher dan punggung gadis ini.”

Lelaki itu nyengir dan membalas Bandarjani, “Enak saja. Biar aku saja!”

Ia mengucurkan minyak rempah-rempah ke telapak tangannya dan bermaksud membalurkannya ke leher dan dada Bangirun.

Tangan Bandarjani bergerak menampar pipi Bangirun, agak kuat.

Plak!

Bangirun terbangun dan memekik, “Aduh!”

Lelaki yang tengah membalurkan minyak rempah-rempah ke leher dan dada Bangirun kaget. Ia belum sempat menarik tangannya dari leher dan dada Bangirun. Melihat ada lelaki tengah memegang bagian tubuhnya, Bangirun reflek berusaha bangkit menjauh dan tangannya melayang menonjok lelaki itu tepat pada hidungnya.

“ADUH! Sialan!”

Lelaki itu menjerit sambil memegangi hidungnya yang mengucurkan darah segar. Sementara itu, Hong Te Jie berusaha mencengkeram leher Lamdahur jika Daundari tak mencegahnya.

“Cukup, Tuan Hong Te Jie. Tuan Lamdahur tidak serendah tuduhanmu itu!”

“Siapa Lamdahur? Dia ini Alam Daur namanya! Dia hendak memperkosa pelayanku, biar aku hajar dia!” Jerit Hong Te Jie.

Daundari membentang tangan di hadapan Hong Te Jie. Memisahkan Hong Te Jie dari mendesak Lamdahur.

“Aku bilang cukup, Tuan Hong Te Jie. Kau tak tahu siapa yang kau tuduh itu.”

Daundari juga melihat Bangirun sudah siuman. Ia menunjuk Bangirun sambil berkata, “Lihat, Tuan Hong Te Jie. Bangirun sudah sadar. Lebih baik kita tanya, apakah benar Tuan Lamdahur hendak memperkosa dia?”

Mendengar ucapan Daundari, Bangirun menggelengkan kepala. Ia bangkit dan menarik tangan Hong Te Jie.

“Tuan Alam Daur tak bersalah. Saya hanya terkejut melihat dia berada di taman malam-malam begitu. Saya pikir dia itu hantu. Dan tadi dia mendekat dan memegang tangan untuk memastikan pada saya kalau dia adalah manusia, tapi saya sungguh terkejut melihat wajahnya yang terlihat sangat mengerikan.”

Hong Te Jie merasa lega mendengar penjelasan Bangirun. Namun ia masih ingin memastikan bahwa Lamdahur tidak hendak berbuat asusila terhadap pelayannya.

“Dia tidak bermaksud memperkosamu?”

“Saya tidak tahu. Saya sudah pingsan duluan,” jawab Bangirun.

“Tuan Hong Te Jie, aku tidak ada niat berbuat macam-macam. Aku hanya cari angin saja di luar, di taman ini. Tiba-tiba aku dengar Bangirun berteriak – hantu! Aku yakin dia salah sangka, mengira aku ini hantu, makanya aku kejar dia dan kutangkap tangannya, untuk membuktikan bahwa aku ini manusia biasa. Eh dia malah pingsan,” Lamdahur menjelaskan duduk persoalannya mengapa Bangirun bisa pingsan dan hanya dia yang berada di luar kamar malam itu.

“Tuan Hong Te Jie, ketahuilah, Lamdahur ini teman saya. Beliau seorang raja dari Serandil. Beliau tidak mungkin berbuat macam-macam.”

Mendengar ucapan Daundari, Hong Te Jie masih tidak yakin.

“Tuan Daundari. Seperti aku bilang tadi waktu kau datang. Aku tidak ingin mencampuri urusan tamu-tamuku. Mau dia seorang raja yang menyamar, mau pencuri yang merencanakan perampokan besar-besaran, atau sekadar orang iseng yang ingin bertemu pacar, silakan saja menginap di Bale Silir ini. Namun jika ia berbuat iseng terhadapku, terlebih hendak membuat perbuatan tercela terhadap pekerja di penginapan ini. Ia harus berhadapan denganku.”

Sambil berkata begitu, Hong Te Jie bersiap dengan sikap kuda-kuda. Tangannya dikepal, dibuka lengannya ke arah samping badan. Kedua kakinya ditekuk. Yang kiri ke belakang, yang kanan maju ke depan. Badannya dicondongkan ke depan. Alisnya membentuk gelombang di atas mata yang dipicingkan. Mata yang sipit itu kian menyempit.

Melihat Hong Te Jie bersiap menyerang. Lamdahur juga mengambil ancang-ancang. Daundari masih bergeming di depan Hong Te Jie dengan membentang tangan. Namun tak lama kemudian, ia mengatupkan kedua tangannya dan menunduk, sambil berkata, “Tuan Hong Te Jie, maafkan kami, namun mohon dengarkan penjelasanku sejenak.”

Hong Te Jie melunak. “Baiklah. Apa yang ingin kau sampaikan, Tuan Daundari?”

“Seperti tadi saya bilang, Tuan Hong Te Jie, saya bisa buktikan bahwa Tuan Lamdahur ini adalah seorang raja. Negerinya bernama Serandil. Letaknya sangat jauh di selatan. Menyeberangi lautan luas. Dia juga teman lama saya. Ayahnya bernama Prabu Sehalsyah. Ibundanya Retna Basirin, puteri dari Begawan Seh Bakar Abunisya. Tuan Lamdahur ini juga seorang panglima perang dari Amir Ambyah. Kedatangan beliau ke Sasaniyah, Turki, ini pasti mengemban amanat penting dari Maharaja Amir Ambyah. Tuan Lamdahur, coba Anda tunjukkan pedang buatan Mpu Barajondra yang tak ada duanya itu.”

Sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah terlihat kurang senang karena rahasianya dibongkar di hadapan para tamu penginapan Bale Silir, Lamdahur melolos sebilah pedang yang selalu ia bawa ke mana-mana. Pedang dengan bilah berukuran besar dengan ujung agak melengkung itu punya pamor slewah (berbeda garis tempaan antara sebelah bagian) supaya potongannya akan tetap sama tajam jika memotong pada dua arah yang berlawanan. Tangkainya terbuat dari gading gajah dengan ukiran seekor singa yang menggigit pundak seekor banteng. Sedang di ujung tangkai pedang terdapat ukiran berbentuk mahkota dengan satu batu akik Soleman Dawud berwarna coklat muda bening seperti kristal dari madu.

“Apa perlu Raja Lamdahur mengeluarkan stempel kerajaan?” Tantang Daundari.

Hong Te Jie yang baru pertama kali melihat pedang besar dengan ukiran yang rumit dan cantik itu merasa sudah cukup untuk bisa mempercayai penjelasan Daundari.

“Jadi, Tuan Alam Daur itu Raja Lamdahur?”

“Alam Daur itu nama kecil saya, Tuan Hong Te Jie,” jawab Lamdahur.

Hong Te Jie menundukkan kepala, tangannya mengelus sungutnya yang panjang.

“Jangan panggil saya – Tuan, sebut saja nama saya.” Ucapnya malu-malu. Lalu lanjutnya, “Bale Silir mendapat kehormatan dibuat tempat menginap oleh Tuan Lamdahur. Juga Tuan Daundari.”

Bandarjani tiba-tiba merangkul Hong Te Jie.

“Tidak perlu jadi sungkan, Tuan Hong Te Jie. Anda adalah pemilik tempat ini. Siapapun yang datang hanyalah tamu-tamu Anda. Penyewa kamar. Kalau dirasa tak sopan, siapapun dia, bisa kau usir!” Ledek Bandarjani pada Hong Te Jie.

“Ah tidak begitu juga. Tuan muda. Kalau saya main usir, bisa bahaya!”

Mendengar perkataan Hong Te Jie, mereka semua yang berkumpul di teras dekat taman tertawa. Tak lama kemudian, mereka bubar. Tinggal Lamdahur dan Daundari serta Bandarjani yang ada di teras.

“Ini anakmu, Patih Daundari? Sudah besar.”

“Benar, Raja Lamdahur. Dia sudah bisa cari uang sendiri.”

“O, ya? Bekerja sebagai apa? Kepala pasukan perang Sasaniyah? Pasukan Turki? Atau perwira di Kerajaan Ngalabani?”

“Bukan, Paman Raja, saya seorang saybinu.” Jawab Bandarjani.

“Saybinu, apa itu?”

“Penjinak blegdaba, Yang Mulia Raja Lamdahur, binatang kendaraan pasukan Ngerum.”

“Oh, jadi dia bekerja untuk Ngerum?”

“Tidak, Paman Raja, saya bekerja di rumah penjinakan blegdaba di Dara.”

“Kenapa tidak bekerja untuk Ngerum? Untuk Raja Gulangge? Ayahmu pasti bisa memberikan rekomendasi. Berapa upah sebagai say—apa tadi?”

“Saybinu, Paman Raja. Tidak pasti upahnya. Tergantung dari berapa banyak blegdaba yang bisa saya jinakkan.”

Daundari berdehem. Memberi tanda agar Bandarjani menyingkir.

Comments