1. Perginya Lamdahur



Kobat Sarehas, putera kedua dari Amir Ambyah, sepertinya seorang yang sangat istimewa. Padahal ia sama sekali bukan musuh berbahaya bagi siapapun. Bahkan ia pun tak pernah bertempur di palagan. Namun, di mana pun ia berada, kakaknya – Maryunani – akan selalu melindunginya dari macam-macam bahaya yang mengancamnya. Begitu pula dengan Dewi Retna Muninggar, sang ibunda, yang mengasihi dirinya lebih dari Maryunani, kakaknya itu. Hal ini karena Maryunani adalah putra dari Sekar Kedhaton, istri pertama Amir Ambyah, sedangkan Kobat Sarehas adalah buah rahimnya sendiri. Kobat Sarehas juga bukan teman yang mudah untuk diajak bersiasat. Ia malah seorang yang licik. Hal ini dapat terlihat saat ia memperbolehkan puteranya, Sayid Abdul Ngumar, yang masih remaja, untuk melawan Perid, raja dari Parangakik, sewaktu terjadi kekacauan di Kaos. Akibat dari tindakannya itu, simpati dan dukungan rakyat terhadap kakaknya menurun. Padahal sang kakak sudah dirancang untuk menjadi pengganti Amir Ambyah sebagai raja di Kaos, kelak di kemudian hari.

Keputusan Kobat Sarehas memerintahkan Sayid Abdul Ngumar untuk melawan Perid juga mencederai hati Lamdahur, raja Serandil. Ia adalah lawan yang diinginkan oleh Perid dalam peperangan itu. Karena itu Lamdahur-lah yang berhak untuk memenggal kepala Perid, bukan Sayid Abdul Ngumar. Dan seharusnya juga Lamdahur yang akan dielu-elukan di depan Amir Ambyah setelah kejadian itu. Bukan anak Kobat Sarehas.

Efek dari kemenangan Sayid Abdul Ngumar atas pemberontakan Perid, membuat seluruh keluarga besar Amir Ambyah dan juga raja-raja bawahan bersepakat untuk mengangkat Sayid Abdul Ngumar sebagai penguasa atas negara-negara jajahan Kuparman, kelak sepeninggal Amir Ambyah. Termasuk Serandil.

Lamdahur begitu menyayangi Pirngadi, puteranya. Pirngadi seharusnya juga mendapat tempat dan perhatian seperti Sayid Abdul Ngumar karena ia pernah menyelamatkan Dewi Retna Muninggar, Kobat Sarehas, dan Maryunani dari sergapan para pemburu kekuasaan saat Amir Ambyah dan rombongan para raja dan raja muda tengah berada di tempat lain untuk menyelamatkan Prabu Nusirwan, mertua Amir Ambyah yang juga ayah dari Dewi Retna Muninggar, kakek Kobat Sarehas. Mereka yang ingin merebut kekuasaan itu berani maju menggempur karena mendengar isu bahwa Amir Ambyah dan Umar Maya sudah meninggal dalam pertempuran di Ngabesin.

“Betapa kasihan jika Pirngadi tak bisa menjadi raja di Serandil, negerinya sendiri?” Lamdahur kecewa dengan sikap Amir Ambyah yang membiarkan simpati dan dukungan raja-raja bawahan kepada Sayid Abdul Ngumar. Ia juga merasa lebih kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa berbuat apa-apa mengingat Wong Agung Kuparman atau Amir Ambyah itu sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Berkali-kali Amir Ambyah menyelamatkan nyawanya, pun sebaliknya. Ia tak bisa membenci Amir Ambyah. Maka yang hanya bisa merasa marah dengan kelicikan Kobat Sarehas.

“Ia harus disadarkan bahwa kelicikannya adalah suatu kesalahan terbesar,” pikirnya. Namun bagaimana bisa menyentil dan menasehati anak kesayangan Retna Muninggar?

Berhari-hari Lamdahur merenung. Bahkan Pirngadi puteranya begitu terkejut dengan perubahan sikap ayahnya itu. Pada suatu waktu dalam pertemuan tak resmi kerajaan Serandil, Pirngadi bertanya kepada ayahnya, “Yang Mulia Ayahanda Raja, apakah yang sedang mengganggu pikiranmu saat ini? Beberapa hari ini, hamba perhatikan ayah begitu murung. Begitu bingung.”

Walaupun Lamdahur tinggi besar berkulit gelap serta berambut awut-awutan seperti raksasa dari rimba, namun ia bapak yang penuh kasih bagi anaknya. Tatapannya yang biasanya garang kini terlihat lembut begitu Pirngadi selesai bertanya. Ia menjawab, “Setelah perang dengan Perid di Kaos, aku merasa kecewa dengan Puseur Bumi, Anakku.”

“Wah. Ini pasti ada sesuatu yang benar-benar ganjil dalam pikiranmu, Ayah. Puseur Bumi, keraton Wong Agung, adalah pusat pemerintahan kita, kenapa bisa membuat ayah kecewa? Apakah ada kebijakan dari Maharaja yang membuat Serandil dianggap tak punya andil?”

“Bukan. Bukan soal kebijakan atau bahkan perintah-perintah Wong Agung. Kau tahu, disuruh mati pun aku rela kalau itu yang minta Amir Ambyah sendiri.”

“Lantas apa?”

Lamdahur meminta Pirngadi mendekat. Mereka berbincang dengan suara yang pelan. Seperti takut apa yang ia bicarakan dengan anaknya akan terdengar sampai Puseur Bumi yang jauh. Setelah ayahnya berbicara, Pirngadi tampak menggeleng-gelengkan kepala.

“Jika memang itu yang terjadi, saya terima, Ayah.”

Lamdahur mendelik dengan perkataan puteranya. Tangannya mengepal, otot-otot di pipinya bergerak tanda ia menahan amarah.

“Bodoh!”

Teriak Lamdahur sebelum beranjak dari duduknya dan bergegas meninggalkan ruang balairung membiarkan Pirngadi yang terheran serta tak menduga bahwa perkataannya itu menimbulkan reaksi yang hebat dari ayahnya. Pirngadi merasa setelah peristiwa ini, hubungan antara Serandil dan Kuparman akan semakin bergolak.

Comments