4. Kepergok Sepek



Pagi ini, udara danau Telamis yang sejuk terbawa angin ke arah gunung Buyuk Mahalesi di sebelah utara Dara. Hal ini membuat Sepek, penjaga sebuah rumah penjinakan blegdaba, yang sedang duduk di depan kandang dinmar semakin mengantuk. Ia tidak menyadari di balik pohon, ada sesosok lelaki tengah mengamati rumah penjinakan yang ia jaga. Tahu kalau penjaganya hampir lelap tertidur, lelaki itu bergerak cepat dengan tanpa suara menuju ke halaman belakang rumah penjinakan itu. Tepatnya ke kandang dibek.

Berhenti sejenak, lelaki itu, dengan matanya yang bundar besar, mengamati beberapa ekor blegdaba yang mulai mendengus-dengus keras karena terkejut akan kehadirannya. Mata lelaki itu menutup dan mulutnya mulai berkomat-kamit merapal mantra menenangkan hewan, “Kanjeng Nuriya putri Siti Bilkis, perbolehkan hamba menyentuh peliharaanmu. Biarkan tenang yang galak, yang buas. Biar mereka tak bakal beringas. Buatlah mereka jadi jinak. Berbudi halus seperti dirimu, Kanjeng Putri Nuriya, putri kekasih tercinta Baginda Soleman.” Perlahan, setelah merapal mantra, lelaki itu yang tak lain adalah Bandarjani, membuka mata. Memperhatikan kembali tingkah laku blegdaba-blegdaba yang ada di kandang dibek itu. Dan entah karena keinginan kuat atau memang mantra itu manjur, dengusan-dengusan dari blegdaba-blegdaba itu mereda. Mereka kini sibuk mencari apa saja yang bisa mereka makan. Rerumputan kering atau jerami sisa-sisa pakan mereka kemarin.

Pelan-pelan, Bandarjani membuka pintu kandang dibek, untuk bisa mendekati blegdaba-blegdaba itu. Beberapa ekor blegdaba tetap bergeming sambil memakan rumput atau jerami. Beberapa lainnya mulai terlihat ketakutan dan berusaha menyingkir dari langkah-langkah Bandarjani. Hal itu membuat Bandarjani ingat harus membaca sebuah mantra lagi, mantra yang paling kuat untuk menundukkan binatang buas sekalipun. Mantra ini tidak ditulis dalam buku Upaya Menangkap Wabruk yang ia pelajari, namun didapat dari cerita ayahnya, Daundari, tentang kehebatan Amir Ambyah atau Wong Agung Jayengrana mengalahkan Kalisehak, kuda tunggangan nabi Iskak. Ceritanya dulu, Umarmaya, sahabat sekaligus patih dari Amir Ambyah, tersesat pada sebuah taman tua saat mencari seekor kuda untuk menggantikan kuda milik seseorang yang ia pinjam dan terluka dalam suatu perjalanan. Ternyata di taman itu terdapat seekor kuda yang demikian trengginas. Bermaksud ingin menangkapnya, Umarmaya justru terluka akibat terjangan kuda itu. Umarmaya pun minta bantuan dari Amir Ambyah untuk menundukkan kuda yang ternyata adalah kuda Kalisehak milik Baginda Nabi Iskak. Sebenarnya telah disebutkan ada wasiat dari Baginda Nabi Iskak bahwa barangsiapa dapat menunggangi Kalisehak, maka ia berhak memilikinya. Sebab Kalisehak bukan sembarang kuda. Ia bisa berlari cepat melebihi kecepatan angin.

Mantra yang diucap oleh Amir Ambyah adalah begini, “Hai angin yang sumilir. Kalau belum sampai samudera, jangan coba-coba untuk mampir. Di sini aku terpaksa berdiam, menjaga agar aman pusaka Baginda Soleman – genta madu dan seruling bambu. Siapa saja yang ingin membunyikannya, bersiaplah pada hukuman paling pilu. Diam, diamlah angin. Diam dan tunduk bersamaku.” Seusai Amir Ambyah merapal mantra seperti itu, Kalisehak berhenti menerjangkan kaki. Kepalanya tunduk. Kedua kaki depannya ditekuk, supaya punggungnya turun. Ia mempersilakan Amir Ambyah menyentuh surainya. Bahkan ia biarkan juga Amir Ambyah menaiki punggungnya. Setelah posisi duduknya pas, Kalisehak berdiri tegak kembali, siap untuk dikendarai kemana pun Amir Ambyah ingin pergi.

Mantra yang pernah dirapal Amir Ambyah itu pula yang kini hendak diucapkan oleh Bandarjani sambil sebelah tangannya menggapai ke arah seekor blegdaba yang terlihat dominan di kandang dibek itu. Ia tahu, kalau yang dominan berhasil ia bawa dan tunggangi, beberapa ekor blegdaba yang hanya pengikut dalam kelompok akan turut serta. Blegdaba jantan berwarna hitam dengan tanduk melengkung sempurna itu mulai menundukkan kepala. Bandarjani terlihat senang. Mantra itu ternyata berhasil, pikirnya. Namun dugaan Bandarjani keliru. Blegdaba jantan itu segera bergerak maju. Ia hendak menanduk Bandarjani!

Bajingan! Bandarjani menyumpah sambil menggeser kuda-kudanya menghindari terjangan blegdaba hitam itu. Tubuhnya nyaris beradu dengan kepala bertanduk itu. Blegdaba itu mendengus keras lalu mengembik seperti kambing gunung. Wah, bahaya! Suara-suara keributan seperti ini bisa membangunkan para saybinu dan penjaga rumah penjinakan. Mau tak mau Bandarjanji harus memilih untuk kabur atau merapal mantra untuk Kalisehak sekali lagi.

Blegdaba jantan itu memutar badannya begitu tahu tandukannya tak menemu tubuh Bandarjani. Ia kembali menerjang, namun Bandarjani sangat waspada. Begitu jarak mereka sudah sangat dekat, Bandarjani membuang tubuhnya ke samping arah terjangan sambil melompat berusaha untuk menunggangi punggung blegdaba itu. Ini langkah terakhir yang dipilihnya untuk segera menyelesaikan pertarungan konyol antara dirinya sebagai saybinu dengan blegdaba sebagai hewan yang harus ia jinakkan. Jika Bandarjani berhasil menunggangi blegdaba itu, langkah selanjutnya adalah menekan kedua lututnya keras-keras pada kedua bidang dada binatang itu sampai blegdaba jantan itu merasa kesakitan atau sesak napas. Dengan demikian ia akan patuh dan berhenti mengamuk. Namun itu tidak memerlukan waktu yang sebentar. Blegdaba adalah binatang kuat. Dikejar berjam-jam lamanya oleh singa atau macan saja sudah biasa. Bahkan ketika tiga ekor singa betina sudah merusak tubuhnya saja, blegdaba masih bisa melawan dengan menendang atau menanduk singa-singa itu. Namun bukan seorang saybinu namanya jika tak bisa menundukkan seekor blegdaba yang mengamuk.

Selain berbekal mantra, saybinu juga punya keahlian pitingan pada leher dan seperti yang sedang dilakukan oleh Bandarjani menekan dengan kaki pada bagian dada blegdaba untuk membuat lemas binatang itu akibat kekurangan udara. Namun karena kekuatan fisik blegdaba, pekerjaan seperti ini tidak bisa dilakukan dalam hitungan menit. Bandarjani kini hanya bisa berharap aksinya tak segera ketahuan. Semoga para saybinu dan penjaga rumah penjinakan ini hanya mengira bahwa ada seekor atau beberapa blegdaba mengalami kepanikan di dalam kandang, dan ini adalah hal yang sangat biasa terjadi setiap hari di kalisli atau dibek seperti ini. Bandarjani juga berharap perlawanan dari blegdaba jantan ini akan cepat berakhir.

Namun lagi-lagi harapan Bandarjani pupus. Sepek yang tadi terkantuk-kantuk di dekat kandang dinmar terbangun karena embikan blegdaba jantan itu. Tubuhnya besar segera bergerak cepat melintasi halaman belakang dan begitu sampai pada pintu dibek yang terbuka, Sepek berteriak, “HAI! SIAPA KAMU! MAU KAU APAKAN BLEGDABA ITU?”

Teriakan Sepek membangunkan para saybinu di pondokan mereka. Segera saja beberapa buah jendela dan pintu pondokan saybinu di rumah penjinakan itu dibuka para penghuninya yang segera menampakkan wajah-wajah sayu dan rambut-rambut yang kusut tanda mereka baru saja terbangun dari tidurnya. Tak berapa lama, mereka sudah mulai mengerubungi kandang dibek itu. Banyak dari mereka sudah memegang aneka macam benda untuk menggebuki dan melukai pencuri yang memasuki dibek mereka. Ada yang membawa potongan kayu, ada yang membawa sepatu, cemeti, rotan pemukul kasur, pedang, parang, dan batu. Ada juga yang hanya bersenjatakan tinju.

Bandarjani mulai merasa kecut, tapi ia terus menekankan lutut pada dada blegdaba ini. Wajah Bandarjani memerah, demikian pula dengan blegdaba jantan yang ditungganginya. Meski ditekan, blegdaba jantan itu terus mengentak-entakkan kaki. Menerjang ke sana-sini. Sehingga membuat para pengepung tak berani masuk ke dalam dibek. Takut mereka akan terkena terjangan dan sepakan blegdaba yang masih mengamuk itu.

Kepalang! Pikir Bandarjani. Ia harus bisa menundukkan blegdaba ini agar bisa berbicara dengan Sepek dan gerombolan yang mengepungnya, mengemukakan alasan mengapa ia bisa berada di dibek mereka. Sekilas mata Bandarjani melihat pintu rumah utama rumah penjinakan hewan ini dibuka. Seorang perempuan berperawakan sedang diiringi beberapa orang menuju ke arah dibek. Bandarjani tak bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa perempuan, yang sepertinya pemilik rumah penjinakan hewan ini, karena ia sangat berkonsentrasi pada blegdaba yang ditungganginya.

Comments