8. Kembali ke Ngalabani



                Bandarjani mengangguk-angguk sebelum Daundriya akhirnya meminta Bandarjani tidak bertanya lagi dengan menggerakkan tangan ke kanan-kiri di depan wajahnya, lalu mengepalkan seluruh jemari sebelum akhirnya jari telunjuk diluruskan kembali dan dipasang di depan wajahnya tanda meminta orang untuk diam.

“Jangan bicara lagi. Segera habiskan makananmu. Sudah itu mandi, lalu tidur. Dan besok kita bersiap untuk pergi ke Ngalabani.”

“Ke Ngalabani?”

“Sssttt!”

Orang-orang di wilayah Sasaniyah sejak dulu memang tidak terlalu menyukai orang-orang Ngalabani. Namun tidak seperti mereka membenci bangsa dan negara Gerik, tetangganya yang hanya dipisahkan oleh Laut Agiyan. Dari dulu, sebelum dikuasai Ngerum, Gerik dan Sasaniyah selalu bermusuhan. Bangsa Gerik merasa lebih tua peradabannya daripada Sasaniyah sehingga mereka menganggap orang-orang dari wilayah Sasaniyah adalah warga dunia kelas dua di bawah mereka. Setelah Ngerum melakukan ekspansi besar-besaran menguasai Gerik dan Sasaniyah secara bersamaan, perbedaan semacam itu ditiadakan. Semua orang yang adalah warga negara Ngerum berkedudukan sama. Termasuk orang-orang di negeri-negeri taklukan. Baik orang Gerik, maupun orang Sasaniyah. Ngalabani yang letaknya di sebelah barat Gerik, dulunya hanya sebuah bandar di balik sebuah bukit. Orang-orang dari Afrika serta para pendatang dari selatan lebih banyak berdiam di sana. Setelah Gerik menyatakan diri takluk dari Ngerum, mereka yang merupakan pendatang di Ngalabani melakukan pemberontakan untuk bisa terlepas dari Gerik. Dan karena orang-orang yang ingin Ngalabani pisah itu menguasai bukit di barat Gerik, peperangan pasukan Gerik yang dibantu oleh pasukan Ngerum melawan Ngalabani berlangsung lama, dan banyak memakan korban dari pasukan Gerik dan Ngerum. Karena itu, orang-orang dari Sasaniyah dan Turki terpaksa dikerahkan untuk turut memadamkan pemberontakan di Ngalabani. Jadi ketidaksukaan orang-orang Sasaniyah dan Turki terhadap orang-orang Ngalabani sebenarnya karena peristiwa pendirian kerajaan Ngalabani oleh Kakek Maskun. Sebab itu, jika ada orang-orang di Sasaniyah atau Turki bicara soal kegawatan yang terjadi di Ngalabani tentu dianggap sebagai orang yang tidak peka terhadap pengorbanan leluhur-leluhur mereka yang diminta berperang untuk Ngerum. Maka ketika Bandarjani berkata keras-keras soal pergi ke Ngalabani, Daundari memintanya mengecilkan suara, bahkan menyuruhnya berhenti bicara.

Meski diminta diam, Bandarjani malah mengembangkan senyum begitu lebar. Matanya pun berkilat-kilat, seperti anak kecil melihat sepiring penuh manisan di meja makan. Dari sikap Bandarjani itu, Daundari tahu bahwa anaknya begitu bahagia akan bisa melihat lagi tanah kelahirannya. Namun selain itu, Bandarjani merasa libur kali ini akan sangat berbeda daripada berleha-leha di Pantai Kataniya, ia akan menyeberangi Laut Agiyan, dengan ribuan rumah berwarna putih yang kontras dengan langit dan laut yang biru terang di pantai-pantai Gerika, melewati kota tua Lesandriya, melihat reruntuhan kuil di Saloniki, dan ratusan pemandangan indah lainnya. Belum lagi, tak hanya gadis Sasaniyah atau Turki yang akan ia pandang sepanjang jalan, juga gadis-gadis Gerik yang terkenal dengan rambutnya yang pirang dan bergelombang, gadis-gadis Firom dengan kulit agak kecoklatan, dan tentu gadis-gadis Ngalabani yang kecantikannya seolah dari semua gadis tadi diambil sisi baiknya lalu dicampur lagi dengan kecantikan Jazirah Selatan, meski untuk warna kulit dibuat lebih gelap.

 

***

 

Pagi hari sekali, Jarah Banun, ibu dari Bandarjani sudah menyibukkan diri di dapur, untuk menyiapkan sarapan. Daundari setelah melakukan doa pagi, juga menemani istrinya di dekat dapur sambil menyesap secangkir kopi. Jarah Banun, meski sudah berumur, masih jelas garis-garis kecantikannya. Jauh sebelum peristiwa pengusiran Daundari oleh Amir Ambyah, Jarah Banun yang merupakan putri raja Mesir yang bernama Kasan Basri, bertemu dan jatuh hati pada Daundari yang saat itu menyamar sebagai Samadikun, salah satu pedagang di pasar malam bersama dengan temannya Semangun, yang adalah nama samaran dari putera mahkota Ngalabani, Maktal. Saat itu, Jarah Banun sebenarnya sudah dijodohkan dengan kerabat raja Mesir yang bernama Bandarsyah, tetapi ia tidak suka, makanya ia terus mengulur waktu pertunangan apalagi pernikahan dengan Bandarsyah dengan beraneka alasan. Maktal dan Daundari masuk ke Mesir dan menyamar sebagai Semangun dan Samadikun karena suatu upaya yang dilancarkan secara diam-diam oleh pihak kerajaan Ngalabani untuk menyelamatkan beberapa orang penting yang diculik dan dijebloskan ke penjara bawah tanah oleh Kasan Basri, raja Mesir, ayah Jarah Banun. Semangun dan Samadikun yang tahu bahwa Jarah Banun adalah puteri dari Kasan Basri dan telah jatuh hati pada Samadikun, memanfaatkannya untuk bisa membawa mereka ke tempat orang-orang penting itu dipenjarakan. Geger di penjara pun akhirnya terjadi. Semangun dan Samadikun berhasil menjebol penjara bawah tanah Mesir dan membebaskan para tawanan. Begitu mengetahui bahwa Jarah Banun terlibat dalam peristiwa itu, Kasan Basri meminta agar Bandarsyah menangkap Semangun dan Samadikun dengan hadiah akan segera dinikahkan dengan Jarah Banun. Dalam perkelahian antara Bandarsyah dan pasukan Mesir dengan Semangun dan Samadikun, Bandarsyah mati. Sedangkan di istana, mengetahui bahwa ayahnya, Kasan Basri, berupaya mempercepat pernikahannya dengan Bandarsyah, Jarah Banun menjadi histeris. Tak disangka-sangka, Kasan Basri yang terkejut dengan reaksi Jarah Banun, mati karena jantungan. Akhirnya, Jarah Banun lari dari istana dan menikah dengan Daundari alias Samadikun.

Saat Jarah Banun mulai meletakkan piring, cangkir, dan akhirnya makanan di ruang keluarga, Daundari melangkah ke halaman belakang untuk mempersiapkan seekor bagal, sejenis keledai tetapi biasanya dipergunakan untuk membajak ladang, untuk mengangkut barang-barang yang hendak mereka bawa dalam perjalanan ke Ngalabani, agar begitu selesai Bandarjani selesai sarapan, mereka bisa segera pergi.

Saat terdengar suara Jarah Banun memberitahukan bahwa sarapan sudah siap, Daundari tahu bahwa Bandarjani sudah bangun, sudah mandi, dan sudah berada di ruang keluarga untuk menyantap sarapan bersamanya. Bagal juga sudah selesai diberi pelana, dipasang sanggurdi, dan diberi kain tebal dengan banyak kantung untuk membawa peralatan dan barang-barang lain. Dituntunnya bagal itu ke halaman depan rumah sambil Daundari membalas teriakan Jarah Banun, “Ya. Ya. Aku juga sudah selesai.”

Setelah sarapan, sama seperti ketika malam tadi, Bandarjani memberi hormat pada ibunya dengan cara menyentuhkan jemarinya ke jemari kaki ibunya, lalu disentuhkannya ke dahi, dan mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.

“Aku pamit pergi, Ibu.”

“Hati-hati, Anakku. Kau sudah dewasa sekarang. Bisa saling jaga diri dengan ayahmu di perjalanan.”

“Tenang saja, Ibu. Kalau ada perampok mengadang, akan kuberi mantra terkuat dari Hisyam, mantra pembuat hewan liar tertidur. Hahaha.”

“Kamu itu. Diminta serius, bercanda saja kerjaannya,” kata Jarah Banun sambil tersenyum melihat kelakuan puteranya.

Daundari menghampiri Jarah Banun lalu memeluknya. Memandang pada mata Jarah Banun yang mulai berkaca-kaca.

“Aku pergi dulu. Tidak perlu dirisaukan akan terjadi apa-apa pada kita. Kau tahu, Samadikun dulu pernah berpetualang bersama-sama Semangun sampai ke Mesir. Jadi, janganlah terlampau kuatir.”

“Tapi, itu dulu, Kakanda, zaman kau masih muda dan perkasa.”

“Eh. Ibu mau mengatakan bahwa ayah sudah tua renta?” Bandarjani menyela.

“Tuh. Dengarkan anakmu. Biar begini, gadis-gadis Turki, Sasaniyah, Firom, atau Ngerum, dan Ngalabani, masih naksir sama ketampananku. Hehe.”

“Awas saja kalau macam-macam di jalan! Tidak aku kasih pintu kalau pulang. Huh!” Jarah Banun merajuk.

“Sudah. Sudah. Ayah jangan menggoda Ibu. Dan Ibu juga jangan kecentilan. Malu sama umur!” Bandarjani meledek ayah dan ibunya.

“Ayo, Bandarjani, kita berangkat!” Ajak Daundari setelah mencium kening Jarah Banun.

Dan hari masih menyimpan tetes-tetes embun yang jatuh dari daun ketika mereka, ayah dan anak itu, berangkat. Daundari dan Bandarjani berjalan menuntun bagal yang berisi barang-barang perbekalan.

Menjelang siang, mereka sudah sampai di pintu tembok benteng kota Dara. Meskipun bandar kecil, karena letak Dara yang strategis, Kerajaan Ngerum membuat benteng di sekeliling wilayah Dara. Dalam hitungan jam, mereka sudah akan berada di kota terdekat dari Dara yaitu Marbin, yang bisa dikatakan pintu wilayah Sasaniyah dan Turki. Meski tidak terlalu kentara, mereka memperhatikan orang yang berpapasan dengan mereka seperti mengatakan sesuatu tentang mereka. Makin lama, makin banyak orang yang berbisik-bisik sambil memandang mereka seperti terheran-heran atau merasa ada yang aneh pada ayah dan anak. Karena penasaran, akhirnya Daundari menghampiri seorang ibu yang menjual manisan di sebuah kedai pada sebuah pasar tak jauh selepas gerbang tembok benteng kota.

“Maaf, Ibu, apakah ada yang terlihat aneh bagi Ibu pada diri saya dan anak saya sehingga ibu memandang kami seperti ada yang salah di mata Ibu?”

“O. Itu..Itu…” kata ibu tersebut menunjuk bagal di belakang mereka berdua.

“Itu? Bagal kami, maksudnya?”

“Benar. Kalian membawa bagal dengan muatan yang sedikit, namun kalian berdua berjalan kaki. Apakah kalian tidak berpikir kalau lebih baik kalian menaiki bagal itu supaya perjalanan kalian akan cepat sampai?”

“Ah. Rupanya begitu. Terima kasih atas nasehatnya.”

Daundari kemudian membicarakan hal ini pada Bandarjani.

“Sebaiknya, ayah saja yang sudah tua menaiki bagal itu. Biar aku berjalan kaki saja,” kata Bandarjani. Daundari setuju. Akhirnya Daundari menaiki bagal sedangkan Bandarjani menuntun bagal bermuatan ayahnya dan perbekalan yang mereka bawa menuju Marbin.

Memasuki Marbin, Bandarjani melihat orang-orang yang berpapasan dengan mereka terlihat kasak-kusuk seolah ada yang aneh pada dirinya. Beberapa orang menggunakan alis dan mata mereka yang terangkat-angkat ke atas untuk menunjuk-nunjuk Bandarjani. Sebagian lainnya menggunakan bibir yang dimonyong-monyongkan, sedang lainnya berani menggunakan telunjuknya. Bandarjani penasaran. Apakah ada keanehan pada dirinya? Pada seorang lelaki yang tengah memandikan kuda, Bandarjani memberanikan diri untuk bertanya, “Paman. Paman. Apakah ada keanehan pada diri kami hingga Paman tadi berbisik-bisik dengan teman Paman sambil menunjuk-nunjuk ke arah kami?”

“O. Itu. Memang kami lihat orang yang duduk di atas bagal itu sudah tua. Namun, dengan perjalanan yang sepertinya masih jauh, apakah ia tidak berpikir bahwa menyuruh kau berjalan akan membuatmu lelah juga. Nanti belum sampai tujuan, bagal dan kau yang kelelahan justru akan membuat perjalanan kalian jadi lebih terhambat. Bayangkan, bagal dan kau sama-sama perlu istirahat. Lebih baik salah kau yang naik bagal dan ia berjalan kaki dulu sebelum malam tiba.”

“Begitu ya menurutmu, Paman?”

“Ya. Begitu lebih baik.”

“Tidak terlihat aneh?”

“Tidak.”

Bandarjani memberitahukan hal itu pada Daundari. Sambil mengerutkan kening, karena tidak yakin, Daundari menyetujui usulan orang yang memandikan kuda itu untuk membiarkan Bandarjani menunggangi bagal sedangkan ia berjalan kaki.

Namun di Kaysarya, kota yang terletak di dekat Selat Laut Agiyan, mereka kembali mendengar orang-orang membicarakan mereka. Tepatnya, orang-orang itu mengumpat pada Bandarjani yang menunggang bagal dan membiarkan Daundari yang tua berjalan menuntung bagal. Bandarjani dongkol dengan umpatan-umpatan itu. Salah satu yang mengumpat pada Bandarjani adalah seorang yang tengah memandikan sapi, mungkin seorang gembala yang baru menggembalakan sapi-sapi miliknya dari padang rumput dan hendak memasukkan sapi-sapi itu pada kandangnya.

“Hei. Paman yang memandikan sapi. Aku dengar tadi kau mengumpat padaku. Ada apakah gerangan sampai kau berkata bahwa aku tak punya hati nurani segala?”

“Ampun. Ampun, kalau saya salah bicara. Barangkali engkau punya kedudukan lebih tinggi dari orang tua yang menuntun bagal itu, atau orang tua itu mempunyai hutang kepadamu. Namun, apakah pantas seorang tua menuntun bagal sedangkan engkau yang muda dan masih gagah menaikinya. Itulah kenapa aku menyebutmu tak punya hati nurani. Kalau saja sapi-sapi ini milikku sendiri, sudah aku beri satu agar orang tua itu bisa menunggangi sapi bersama dengan bagal yang kautunggangi itu.”

“Maafkan juga aku, Paman. Tadi pagi, aku dan ayahku berjalan bersama dan tak ada dari kami yang menunggang bagal itu. Namun menurut orang di Dara, lebih baik seorang dari kami menunggang bagal agar perjalanan kami bisa cepat. Maka aku minta ayahku naik bagal dan aku berjalan kaki. Namun di Marbin, katanya, itu aneh sekali. Lebih baik aku yang naik bagal, sedang ayahku yang berjalan kaki. Hal itu menurut mereka lazim dilakukan di Marbin. Dan ternyata di sini, di Kaysarya, malah hal itu dianggap tak pantas, ya?”

“Bukan saja tak pantas. Namun kau sebagai orang yang lebih muda dianggap tak punya perasaan terhadap ayahmu yang sudah berumur itu.”

“Lalu kami harus bagaimana?”

“Lebih baik kalian berdua naiki saja bagal itu. Itu akan membuat kalian lebih cepat sampai tujuan.”

Bandarjani ingin membicarakan usulan orang yang memandikan sapi pada ayahnya, namun ayahnya justru tertawa terbahak-bahak.

“Sudahlah Bandarjani, jangan bikin lelucon yang tak lucu. Coba kau pikir jika kita berdua menaiki bagal bersama-sama. Apakah nanti di Edim, kota seberang Selat Agiyan itu, kita justru tidak akan dianggap berniat membunuh bagal kita itu?”

Bandarjani menggaruk-garuk kepalanya mendengar alasan ayahnya menolak usul dari orang yang memandikan sapi itu.

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Ayah?”

Daundari menunjuk sabuk kain Bandarjani, lalu bicara, “Bukankah kau punya beberapa ratus ripis yang kau simpan pada kantung kain di dalam sabuk kainmu itu? Kenapa tidak coba kau tanya pada orang yang memandikan sapi itu di mana kita bisa membeli bagal atau keledai atau kuda untuk kau atau aku naiki supaya kita bisa berkendara bersama-sama nanti?”

Mendengar ucapan ayahnya, Bandarjani menggaruk-garuk kepalanya lebih keras dari tadi.

“Ah, Ayah. Itu uangku sendiri.”

Meski begitu, akhirnya dengan petunjuk dari orang yang tengah memandikan sapi itu, Bandarjani membeli seekor keledai muda dengan harga seratus ripis. Penjualnya mengatakan kalau memang harga keledai muda itu jauh lebih mahal daripada keledai yang lain. Hal itu karena keledai itu beberapa tahun silam pernah hilang dari sisi induk betinanya. Ketika ditemukan kembali, orang-orang mengatakan bahwa keledai muda itu adalah keledai yang sangat beruntung karena sempat ditunggangi seorang guru agama yang diramalkan akan menjadi pembebas negerinya dari penjajahan. Saat keledai muda dengan guru agama itu memasuki kota yang memiliki kuil besar, seluruh penduduk kota itu menyambut mereka dengan melemparkan dedaunan pohon palem ke jalan yang akan mereka lalui. Meski bagi orang yang menjual keledai itu, cerita yang disampaikan orang-orang itu tidak penting, namun cerita itu bisa menambah nilai jual dari keledai muda yang ia tawarkan pada Bandarjani.

“Siapa tahu ramalan terhadap guru agama itu bisa menular padaku, Ayah,” kata Bandarjani berbangga hati, menutupi penyesalannya karena membeli keledai lebih mahal, sewaktu ayahnya mengatakan bahwa harga keledai muda itu seharusnya sekitar lima puluh atau tujuh puluh ripis saja. Daundari hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar alasan Bandarjani.

“Sudahlah, Ayah. Yang penting sekarang kita bisa berkendara berdua. Jadi orang-orang tidak akan lagi kasak-kusuk, menunjuk-nunjuk, lalu mengatakan hal yang tidak-tidak pada kita selama perjalanan ini.”

“Ya. Ya. Benar katamu.”

“Lagi pula, uang yang digunakan untuk membeli itu uangku sendiri, Ayah.”

Comments