Bandarjani mengangguk-angguk sebelum Daundriya akhirnya meminta Bandarjani tidak bertanya lagi dengan menggerakkan tangan ke kanan-kiri di depan wajahnya, lalu mengepalkan seluruh jemari sebelum akhirnya jari telunjuk diluruskan kembali dan dipasang di depan wajahnya tanda meminta orang untuk diam.
“Jangan
bicara lagi. Segera habiskan makananmu. Sudah itu mandi, lalu tidur. Dan besok
kita bersiap untuk pergi ke Ngalabani.”
“Ke
Ngalabani?”
“Sssttt!”
Orang-orang
di wilayah Sasaniyah sejak dulu memang tidak terlalu menyukai orang-orang
Ngalabani. Namun tidak seperti mereka membenci bangsa dan negara Gerik,
tetangganya yang hanya dipisahkan oleh Laut Agiyan. Dari dulu, sebelum dikuasai
Ngerum, Gerik dan Sasaniyah selalu bermusuhan. Bangsa Gerik merasa lebih tua
peradabannya daripada Sasaniyah sehingga mereka menganggap orang-orang dari
wilayah Sasaniyah adalah warga dunia kelas dua di bawah mereka. Setelah Ngerum
melakukan ekspansi besar-besaran menguasai Gerik dan Sasaniyah secara
bersamaan, perbedaan semacam itu ditiadakan. Semua orang yang adalah warga
negara Ngerum berkedudukan sama. Termasuk orang-orang di negeri-negeri
taklukan. Baik orang Gerik, maupun orang Sasaniyah. Ngalabani yang letaknya di
sebelah barat Gerik, dulunya hanya sebuah bandar di balik sebuah bukit.
Orang-orang dari Afrika serta para pendatang dari selatan lebih banyak berdiam
di sana. Setelah Gerik menyatakan diri takluk dari Ngerum, mereka yang
merupakan pendatang di Ngalabani melakukan pemberontakan untuk bisa terlepas
dari Gerik. Dan karena orang-orang yang ingin Ngalabani pisah itu menguasai
bukit di barat Gerik, peperangan pasukan Gerik yang dibantu oleh pasukan Ngerum
melawan Ngalabani berlangsung lama, dan banyak memakan korban dari pasukan
Gerik dan Ngerum. Karena itu, orang-orang dari Sasaniyah dan Turki terpaksa
dikerahkan untuk turut memadamkan pemberontakan di Ngalabani. Jadi
ketidaksukaan orang-orang Sasaniyah dan Turki terhadap orang-orang Ngalabani
sebenarnya karena peristiwa pendirian kerajaan Ngalabani oleh Kakek Maskun.
Sebab itu, jika ada orang-orang di Sasaniyah atau Turki bicara soal kegawatan
yang terjadi di Ngalabani tentu dianggap sebagai orang yang tidak peka terhadap
pengorbanan leluhur-leluhur mereka yang diminta berperang untuk Ngerum. Maka
ketika Bandarjani berkata keras-keras soal pergi ke Ngalabani, Daundari
memintanya mengecilkan suara, bahkan menyuruhnya berhenti bicara.
Meski
diminta diam, Bandarjani malah mengembangkan senyum begitu lebar. Matanya pun
berkilat-kilat, seperti anak kecil melihat sepiring penuh manisan di meja
makan. Dari sikap Bandarjani itu, Daundari tahu bahwa anaknya begitu bahagia
akan bisa melihat lagi tanah kelahirannya. Namun selain itu, Bandarjani merasa
libur kali ini akan sangat berbeda daripada berleha-leha di Pantai Kataniya, ia
akan menyeberangi Laut Agiyan, dengan ribuan rumah berwarna putih yang kontras
dengan langit dan laut yang biru terang di pantai-pantai Gerika, melewati kota
tua Lesandriya, melihat reruntuhan kuil di Saloniki, dan ratusan pemandangan
indah lainnya. Belum lagi, tak hanya gadis Sasaniyah atau Turki yang akan ia
pandang sepanjang jalan, juga gadis-gadis Gerik yang terkenal dengan rambutnya
yang pirang dan bergelombang, gadis-gadis Firom dengan kulit agak kecoklatan,
dan tentu gadis-gadis Ngalabani yang kecantikannya seolah dari semua gadis tadi
diambil sisi baiknya lalu dicampur lagi dengan kecantikan Jazirah Selatan,
meski untuk warna kulit dibuat lebih gelap.
***
Pagi hari
sekali, Jarah Banun, ibu dari Bandarjani sudah menyibukkan diri di dapur, untuk
menyiapkan sarapan. Daundari setelah melakukan doa pagi, juga menemani istrinya
di dekat dapur sambil menyesap secangkir kopi. Jarah Banun, meski sudah
berumur, masih jelas garis-garis kecantikannya. Jauh sebelum peristiwa
pengusiran Daundari oleh Amir Ambyah, Jarah Banun yang merupakan putri raja
Mesir yang bernama Kasan Basri, bertemu dan jatuh hati pada Daundari yang saat
itu menyamar sebagai Samadikun, salah satu pedagang di pasar malam bersama
dengan temannya Semangun, yang adalah nama samaran dari putera mahkota
Ngalabani, Maktal. Saat itu, Jarah Banun sebenarnya sudah dijodohkan dengan
kerabat raja Mesir yang bernama Bandarsyah, tetapi ia tidak suka, makanya ia
terus mengulur waktu pertunangan apalagi pernikahan dengan Bandarsyah dengan
beraneka alasan. Maktal dan Daundari masuk ke Mesir dan menyamar sebagai
Semangun dan Samadikun karena suatu upaya yang dilancarkan secara diam-diam
oleh pihak kerajaan Ngalabani untuk menyelamatkan beberapa orang penting yang
diculik dan dijebloskan ke penjara bawah tanah oleh Kasan Basri, raja Mesir,
ayah Jarah Banun. Semangun dan Samadikun yang tahu bahwa Jarah Banun adalah
puteri dari Kasan Basri dan telah jatuh hati pada Samadikun, memanfaatkannya
untuk bisa membawa mereka ke tempat orang-orang penting itu dipenjarakan. Geger
di penjara pun akhirnya terjadi. Semangun dan Samadikun berhasil menjebol
penjara bawah tanah Mesir dan membebaskan para tawanan. Begitu mengetahui bahwa
Jarah Banun terlibat dalam peristiwa itu, Kasan Basri meminta agar Bandarsyah
menangkap Semangun dan Samadikun dengan hadiah akan segera dinikahkan dengan
Jarah Banun. Dalam perkelahian antara Bandarsyah dan pasukan Mesir dengan
Semangun dan Samadikun, Bandarsyah mati. Sedangkan di istana, mengetahui bahwa
ayahnya, Kasan Basri, berupaya mempercepat pernikahannya dengan Bandarsyah,
Jarah Banun menjadi histeris. Tak disangka-sangka, Kasan Basri yang terkejut
dengan reaksi Jarah Banun, mati karena jantungan. Akhirnya, Jarah Banun lari
dari istana dan menikah dengan Daundari alias Samadikun.
Saat
Jarah Banun mulai meletakkan piring, cangkir, dan akhirnya makanan di ruang
keluarga, Daundari melangkah ke halaman belakang untuk mempersiapkan seekor
bagal, sejenis keledai tetapi biasanya dipergunakan untuk membajak ladang,
untuk mengangkut barang-barang yang hendak mereka bawa dalam perjalanan ke
Ngalabani, agar begitu selesai Bandarjani selesai sarapan, mereka bisa segera
pergi.
Saat
terdengar suara Jarah Banun memberitahukan bahwa sarapan sudah siap, Daundari
tahu bahwa Bandarjani sudah bangun, sudah mandi, dan sudah berada di ruang
keluarga untuk menyantap sarapan bersamanya. Bagal juga sudah selesai diberi
pelana, dipasang sanggurdi, dan diberi kain tebal dengan banyak kantung untuk
membawa peralatan dan barang-barang lain. Dituntunnya bagal itu ke halaman
depan rumah sambil Daundari membalas teriakan Jarah Banun, “Ya. Ya. Aku juga
sudah selesai.”
Setelah
sarapan, sama seperti ketika malam tadi, Bandarjani memberi hormat pada ibunya
dengan cara menyentuhkan jemarinya ke jemari kaki ibunya, lalu disentuhkannya
ke dahi, dan mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.
“Aku
pamit pergi, Ibu.”
“Hati-hati,
Anakku. Kau sudah dewasa sekarang. Bisa saling jaga diri dengan ayahmu di
perjalanan.”
“Tenang
saja, Ibu. Kalau ada perampok mengadang, akan kuberi mantra terkuat dari
Hisyam, mantra pembuat hewan liar tertidur. Hahaha.”
“Kamu
itu. Diminta serius, bercanda saja kerjaannya,” kata Jarah Banun sambil
tersenyum melihat kelakuan puteranya.
Daundari
menghampiri Jarah Banun lalu memeluknya. Memandang pada mata Jarah Banun yang
mulai berkaca-kaca.
“Aku
pergi dulu. Tidak perlu dirisaukan akan terjadi apa-apa pada kita. Kau tahu,
Samadikun dulu pernah berpetualang bersama-sama Semangun sampai ke Mesir. Jadi,
janganlah terlampau kuatir.”
“Tapi,
itu dulu, Kakanda, zaman kau masih muda dan perkasa.”
“Eh. Ibu
mau mengatakan bahwa ayah sudah tua renta?” Bandarjani menyela.
“Tuh.
Dengarkan anakmu. Biar begini, gadis-gadis Turki, Sasaniyah, Firom, atau
Ngerum, dan Ngalabani, masih naksir sama ketampananku. Hehe.”
“Awas
saja kalau macam-macam di jalan! Tidak aku kasih pintu kalau pulang. Huh!”
Jarah Banun merajuk.
“Sudah.
Sudah. Ayah jangan menggoda Ibu. Dan Ibu juga jangan kecentilan. Malu sama
umur!” Bandarjani meledek ayah dan ibunya.
“Ayo,
Bandarjani, kita berangkat!” Ajak Daundari setelah mencium kening Jarah Banun.
Dan hari
masih menyimpan tetes-tetes embun yang jatuh dari daun ketika mereka, ayah dan
anak itu, berangkat. Daundari dan Bandarjani berjalan menuntun bagal yang
berisi barang-barang perbekalan.
Menjelang
siang, mereka sudah sampai di pintu tembok benteng kota Dara. Meskipun bandar
kecil, karena letak Dara yang strategis, Kerajaan Ngerum membuat benteng di
sekeliling wilayah Dara. Dalam hitungan jam, mereka sudah akan berada di kota
terdekat dari Dara yaitu Marbin, yang bisa dikatakan pintu wilayah Sasaniyah
dan Turki. Meski tidak terlalu kentara, mereka memperhatikan orang yang berpapasan
dengan mereka seperti mengatakan sesuatu tentang mereka. Makin lama, makin
banyak orang yang berbisik-bisik sambil memandang mereka seperti terheran-heran
atau merasa ada yang aneh pada ayah dan anak. Karena penasaran, akhirnya
Daundari menghampiri seorang ibu yang menjual manisan di sebuah kedai pada
sebuah pasar tak jauh selepas gerbang tembok benteng kota.
“Maaf,
Ibu, apakah ada yang terlihat aneh bagi Ibu pada diri saya dan anak saya
sehingga ibu memandang kami seperti ada yang salah di mata Ibu?”
“O.
Itu..Itu…” kata ibu tersebut menunjuk bagal di belakang mereka berdua.
“Itu?
Bagal kami, maksudnya?”
“Benar.
Kalian membawa bagal dengan muatan yang sedikit, namun kalian berdua berjalan
kaki. Apakah kalian tidak berpikir kalau lebih baik kalian menaiki bagal itu
supaya perjalanan kalian akan cepat sampai?”
“Ah.
Rupanya begitu. Terima kasih atas nasehatnya.”
Daundari
kemudian membicarakan hal ini pada Bandarjani.
“Sebaiknya,
ayah saja yang sudah tua menaiki bagal itu. Biar aku berjalan kaki saja,” kata
Bandarjani. Daundari setuju. Akhirnya Daundari menaiki bagal sedangkan
Bandarjani menuntun bagal bermuatan ayahnya dan perbekalan yang mereka bawa
menuju Marbin.
Memasuki
Marbin, Bandarjani melihat orang-orang yang berpapasan dengan mereka terlihat
kasak-kusuk seolah ada yang aneh pada dirinya. Beberapa orang menggunakan alis
dan mata mereka yang terangkat-angkat ke atas untuk menunjuk-nunjuk Bandarjani.
Sebagian lainnya menggunakan bibir yang dimonyong-monyongkan, sedang lainnya
berani menggunakan telunjuknya. Bandarjani penasaran. Apakah ada keanehan pada
dirinya? Pada seorang lelaki yang tengah memandikan kuda, Bandarjani
memberanikan diri untuk bertanya, “Paman. Paman. Apakah ada keanehan pada diri
kami hingga Paman tadi berbisik-bisik dengan teman Paman sambil menunjuk-nunjuk
ke arah kami?”
“O. Itu.
Memang kami lihat orang yang duduk di atas bagal itu sudah tua. Namun, dengan
perjalanan yang sepertinya masih jauh, apakah ia tidak berpikir bahwa menyuruh
kau berjalan akan membuatmu lelah juga. Nanti belum sampai tujuan, bagal dan
kau yang kelelahan justru akan membuat perjalanan kalian jadi lebih terhambat.
Bayangkan, bagal dan kau sama-sama perlu istirahat. Lebih baik salah kau yang
naik bagal dan ia berjalan kaki dulu sebelum malam tiba.”
“Begitu
ya menurutmu, Paman?”
“Ya.
Begitu lebih baik.”
“Tidak
terlihat aneh?”
“Tidak.”
Bandarjani
memberitahukan hal itu pada Daundari. Sambil mengerutkan kening, karena tidak
yakin, Daundari menyetujui usulan orang yang memandikan kuda itu untuk
membiarkan Bandarjani menunggangi bagal sedangkan ia berjalan kaki.
Namun di
Kaysarya, kota yang terletak di dekat Selat Laut Agiyan, mereka kembali
mendengar orang-orang membicarakan mereka. Tepatnya, orang-orang itu mengumpat
pada Bandarjani yang menunggang bagal dan membiarkan Daundari yang tua berjalan
menuntung bagal. Bandarjani dongkol dengan umpatan-umpatan itu. Salah satu yang
mengumpat pada Bandarjani adalah seorang yang tengah memandikan sapi, mungkin
seorang gembala yang baru menggembalakan sapi-sapi miliknya dari padang rumput
dan hendak memasukkan sapi-sapi itu pada kandangnya.
“Hei.
Paman yang memandikan sapi. Aku dengar tadi kau mengumpat padaku. Ada apakah
gerangan sampai kau berkata bahwa aku tak punya hati nurani segala?”
“Ampun.
Ampun, kalau saya salah bicara. Barangkali engkau punya kedudukan lebih tinggi
dari orang tua yang menuntun bagal itu, atau orang tua itu mempunyai hutang
kepadamu. Namun, apakah pantas seorang tua menuntun bagal sedangkan engkau yang
muda dan masih gagah menaikinya. Itulah kenapa aku menyebutmu tak punya hati
nurani. Kalau saja sapi-sapi ini milikku sendiri, sudah aku beri satu agar
orang tua itu bisa menunggangi sapi bersama dengan bagal yang kautunggangi
itu.”
“Maafkan
juga aku, Paman. Tadi pagi, aku dan ayahku berjalan bersama dan tak ada dari
kami yang menunggang bagal itu. Namun menurut orang di Dara, lebih baik seorang
dari kami menunggang bagal agar perjalanan kami bisa cepat. Maka aku minta
ayahku naik bagal dan aku berjalan kaki. Namun di Marbin, katanya, itu aneh
sekali. Lebih baik aku yang naik bagal, sedang ayahku yang berjalan kaki. Hal
itu menurut mereka lazim dilakukan di Marbin. Dan ternyata di sini, di
Kaysarya, malah hal itu dianggap tak pantas, ya?”
“Bukan
saja tak pantas. Namun kau sebagai orang yang lebih muda dianggap tak punya
perasaan terhadap ayahmu yang sudah berumur itu.”
“Lalu
kami harus bagaimana?”
“Lebih
baik kalian berdua naiki saja bagal itu. Itu akan membuat kalian lebih cepat
sampai tujuan.”
Bandarjani
ingin membicarakan usulan orang yang memandikan sapi pada ayahnya, namun
ayahnya justru tertawa terbahak-bahak.
“Sudahlah
Bandarjani, jangan bikin lelucon yang tak lucu. Coba kau pikir jika kita berdua
menaiki bagal bersama-sama. Apakah nanti di Edim, kota seberang Selat Agiyan
itu, kita justru tidak akan dianggap berniat membunuh bagal kita itu?”
Bandarjani
menggaruk-garuk kepalanya mendengar alasan ayahnya menolak usul dari orang yang
memandikan sapi itu.
“Lalu apa
yang harus kita lakukan, Ayah?”
Daundari
menunjuk sabuk kain Bandarjani, lalu bicara, “Bukankah kau punya beberapa ratus
ripis yang kau simpan pada kantung kain di dalam sabuk kainmu itu? Kenapa tidak
coba kau tanya pada orang yang memandikan sapi itu di mana kita bisa membeli
bagal atau keledai atau kuda untuk kau atau aku naiki supaya kita bisa
berkendara bersama-sama nanti?”
Mendengar
ucapan ayahnya, Bandarjani menggaruk-garuk kepalanya lebih keras dari tadi.
“Ah,
Ayah. Itu uangku sendiri.”
Meski
begitu, akhirnya dengan petunjuk dari orang yang tengah memandikan sapi itu, Bandarjani
membeli seekor keledai muda dengan harga seratus ripis. Penjualnya mengatakan
kalau memang harga keledai muda itu jauh lebih mahal daripada keledai yang
lain. Hal itu karena keledai itu beberapa tahun silam pernah hilang dari sisi
induk betinanya. Ketika ditemukan kembali, orang-orang mengatakan bahwa keledai
muda itu adalah keledai yang sangat beruntung karena sempat ditunggangi seorang
guru agama yang diramalkan akan menjadi pembebas negerinya dari penjajahan.
Saat keledai muda dengan guru agama itu memasuki kota yang memiliki kuil besar,
seluruh penduduk kota itu menyambut mereka dengan melemparkan dedaunan pohon
palem ke jalan yang akan mereka lalui. Meski bagi orang yang menjual keledai
itu, cerita yang disampaikan orang-orang itu tidak penting, namun cerita itu
bisa menambah nilai jual dari keledai muda yang ia tawarkan pada Bandarjani.
“Siapa
tahu ramalan terhadap guru agama itu bisa menular padaku, Ayah,” kata
Bandarjani berbangga hati, menutupi penyesalannya karena membeli keledai lebih
mahal, sewaktu ayahnya mengatakan bahwa harga keledai muda itu seharusnya
sekitar lima puluh atau tujuh puluh ripis saja. Daundari hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar alasan Bandarjani.
“Sudahlah,
Ayah. Yang penting sekarang kita bisa berkendara berdua. Jadi orang-orang tidak
akan lagi kasak-kusuk, menunjuk-nunjuk, lalu mengatakan hal yang tidak-tidak
pada kita selama perjalanan ini.”
“Ya. Ya.
Benar katamu.”

Comments
Post a Comment