2. Kegelisahan di Serandil



Sebenarnya, tak cukup alasan yang membuat Lamdahur gelisah. Sebab jika Sayid Abdul Ngumar diangkat menjadi penguasa atas negara-negara jajahan Kuparman seperti Medayin, Kohkarib, Ngerum, Bangit, Kaos, termasuk juga Serandil, puteranya – Pirngadi- tetap bisa dinobatkan sebagai raja di Serandil. Hanya saja Pirngadi harus melapor dan membayar upeti pada Sayid Abdul Ngumar. Dan karena tak cukup alasan itulah Pirngadi pun menyatakan akan menerima takdir sebagai raja bawahan dari Sayid Abdul Ngumar nanti sebagai jawaban dari apa dikatakannya tadi dalam pertemuan.

Sebaliknya, Pirngadi pun tak tahu alasan yang jelas atas sikap ayahnya yang uring-uringan itu. Ia tahu dari dulu ayahnya dengan Amir Ambyah seperti garam dan asam bagi luka, tetapi juga seperti madu dan gula yang memaniskan sebuah minuman di kala haus berkepanjangan seperti saat kemarau menerjang. Mereka berdua saling mencobai tetapi saling memuji.

Pirngadi pernah mendapatkan cerita bahwa Amir Ambyah pernah mengutus Umarmaya, patihnya yang sakti mandraguna, untuk pergi ke Serandil dan mencuri mahkota yang hendak digunakan dalam penobatan Lamdahur menjadi raja Serandil. Dan Umarmaya jika melakukan sesuatu bahkan mencuri secara sembunyi-sembunyi. Ia datang secara resmi sebagai perwakilan Kuparman ke acara penobatan Lamdahur.

Saat acara itu berlangsung, Umarmaya meminta izin dari Lamdahur untuk diperbolehkan memperhatikan dan meneliti detail dari mahkota yang akan digunakan dalam upacara itu. Lamdahur dengan senang hati mengizinkannya. Begitu mahkota sudah berada di tangannya, Umarmaya segera melesat terbang, menyeberangi laut ke negara Targelur yang berada di sebuah pulau di seberang Serandil. Lamdahur, yang sangat berang, beserta pasukannya mengejar Umarmaya ke Targelur. Ternyata di Targelur, Lamdahur tidak hanya menemukan Umarmaya tetapi juga Wong Agung Jayengrana alias Amir Ambyah. Begitu mengetahui Amir Ambyah adalah dalang kelakuan Umarmaya mencuri mahkotanya, Lamdahur pun tak segan-segan menggempur mereka.

Pertarungan antara Lamdahur dan Amir Ambyah terjadi dengan seru. Keduanya sama hebat, sama kuat. Hingga malam tiba, tak ada dari keduanya yang mengaku kalah. Yang lucu, selesai bertarung, Lamdahur justru mengundang Amir Ambyah datang ke Serandil untuk menyaksikan pesta penobatan dirinya menjadi raja yang tadi terganggu oleh ulah Umarmaya. Amir Ambyah setuju mengikut Lamdahur ke Serandil.

Sesampainya di Serandil, Lamdahur kembali menyerang Amir Ambyah. Sejak saat itu, keduanya sering mengadu kekuatan dan kesaktian. Namun, Serandil membantu Kuparman jika negara itu diserang musuh, ataupun jika hendak melebarkan wilayah. Demikian pula sebaliknya. Dan jika tak ada musuh, maka dipastikan – entah siapa memulai lebih dulu – Serandil dan Kuparman akan saling bertempur. “Benar-benar suatu persahabatan yang aneh,” pikir Pirngadi membayangkan keakraban ayahnya dengan Amir Ambyah.

Pirngadi juga tahu bahwa ayahnya, bagaimanapun kuatnya ia mencoba, tak akan bisa mengalahkan Amir Ambyah. Apalagi Amir Ambyah selalu dikawal oleh Umarmaya, patihnya, ke manapun ia pergi. Umarmaya adalah orang yang pernah mengalahkan ayahnya. Pernah pada suatu saat, ayahnya, ingin menguasai Medayin, waktu itu masih diperintah oleh Raja Nusirwan, mertua dari Amir Ambyah. Karena dukungan dari Sahalsah, raja Sulebar, kepercayaan diri Lamdahur untuk bisa mengalahkan Medayin begitu tinggi.

Lamdahur tidak mengetahui jika Nusirwan telah meminta bantuan dari Amir Ambyah dan Umarmaya. Dalam peperangan itu, Amir Ambyah berhasil mengalahkan Sahalsah, sedangkan Umarmaya setelah mendesak Lamdahur sampai di suatu hutan, akhirnya bisa mengalahkan Lamdahur.

Setelah Lamdahur menyerah dan menyatakan Serandil akan turut di dalam kekuasaan Kuparman, Lamdahur baru mendapatkan cerita mengenai bagaimana Umarmaya itu menjadi sangat digdaya. Hal itu pernah diceritakan kepada Pirngadi.

“Umarmaya itu kesayangan dari para nabi. Dalam mimpi-mimpinya semua nabi itu menganugerahinya berbagai macam kesaktian, antara lain yang dinamakan ilmu kasang. Ilmu yang membuat semua keinginannya bisa dikabulkan. Ia diberi pengetahuan separuh dari bahasa-bahasa yang dipergunakan manusia di dunia ini, karenanya ia menjadi juru bahasa bagi 260 negara. Belum lagi ia bisa berganti rupa apa saja sesuai kehendaknya.” Cerita yang diteruskan kepada Pirngadi adalah cerita yang didapatkan Lamdahur dari perkataan Amir Ambyah.

Selanjutnya, masih dari perkataan Amir Ambyah kepada Lamdahur yang diteruskan pada Pirngadi, ada kisah dimana Amir Ambyah dan Umarmaya bisa diperdaya oleh binatang. Cerita ini sering membuat Pirngadi terpingkal jika kembali mengingatnya.

“Suatu waktu, Sadalsah, raja dari Selan – salah satu negara jajahan Kuparman – murtad. Kau tahu hukuman bagi yang murtad? Mati. Apalagi Sadalsah juga berniat memberontak. Maka kami pun berangkat ke Selan naik kapal. Dalam perjalanan pelayaran, Bandige atau kapten kapal yang kami tumpangi itu, bercerita tentang seekor hewan bernama dual-payal yang hanya berada di pulau bernama Gili Bayan Srani. Kebetulan pulau itu berada di dekat Selan. Dual-payal ini, kata Wirigaluh, si bandige itu, jika menempel pada tubuh seseorang maka ia tidak akan mau lepas. Ini membuat kami berdua sangat penasaran. Kami bujuklah Wirigaluh untuk singgah sebentar di Gili Bayan Srani, mencari apa yang disebut sebagai dual-payal itu. Ternyata dual-payal ini mirip kura-kura, lambat, kelihatan jinak, namun berlengan banyak mirip gurita, lengkap dengan jemari penghisap yang membuat ia mudah menempel di tubuh kami dan sulit dilepaskan. Begitu mereka menempel, kami menjadi seperti orang yang sangat bergairah. Emosi kami meluap. Kami saling ejek. Mereka seolah menjadi para penunggang karapan yang meminta kami beradu renang, beradu lari. Sampai kami benar-benar kehabisan tenaga. Setelah kami kelelahan, mereka baru mau melepaskan diri. Itupun hanya sebentar. Untunglah ada satu peristiwa yang menyelamatkan kami. Umarmaya saat istirahat mengambil sebutir kurma. Dilihatnya Umarmaya menikmati betul kurma yang dibawanya, Dual-payal yang menungganginya minta diberi kurma juga. Umarmaya lalu menaburi racun pada kurma yang hendak diberikan pada Dual-payal itu. Tak berapa lama, matilah binatang sialan itu. Namun, dual-payal yang menunggangiku ternyata kuat sekali. Diberi racun tak mempan. Akhirnya kubenturkan ia ke pohon, ke batu-batu. Sampai ia mati. Pecah badannya. Namun ternyata, darah binatang itu juga mengandung racun yang menyebabkan seluruh tubuh menjadi gatal-gatal.”

Pirngadi tersenyum menyadari bahwa orang sekuat dan sesakti Amir Ambyah dan Umarmaya bisa juga hampir pingsan dikerjai oleh binatang. Demi kisah-kisah yang seru dan lucu tentang persahabatan ayahnya dan Amir Ambyah, Pirngadi ingin sekali bisa bicara lagi dengan ayahnya, untuk membuat ayahnya sadar bahwa tak semestinya raja Serandil itu memusuhi Kobat Sarehas, anak Amir Ambyah itu. Pirngadi bergegas menyusul ayahnya, “AYAH! Ayahanda Raja. Tunggu!”

Comments