7. Hiu di Kolam Salmon



“Aku pulang dulu ke Imlila, ke rumah orangtuaku. Sampai bertemu minggu depan, ya!”

“Yakin kau tak mau pergi bersama kami ke pantai Kataniya nanti sore?”

“Ayolah Darjani. Sekali-kali kita habiskan uang kita untuk minum dilaits yang wangi dan manis itu!”

“Kau tak mau memandang wajah dan dada gadis-gadis yang cantik yang mencari pemandangan matahari tenggelam di tepi danau?”

Memang semua yang diucapkan Baktiadar dan teman-temanya itu impian Bandarjani sejak berhari-hari lalu. Namun Bandarjani tak mau pergi beramai-ramai dengan mereka. Masak sudah berminggu minggu berkumpul sepanjang hari dengan mereka akan menghabiskan waktu akhir bulan dengan mereka juga?

“Maaf,” kata Bandarjani sambil menggeleng dan melambai tangan tanda tak mau turut dalam rencana mereka, “Aku harus pulang ke Imlila. Tadi aku melihat dua orang prajurit sandi Ngalabani pergi ke utara. Aku kuatir terjadi sesuatu di Ngalabani, dan ayahku diminta kembali ke sana. Aku akan mencari tahu soal itu sekarang. Maaf. Lain kali aku akan bersenang-senang lagi bersama kalian.”

Bandarjani juga berpamitan dengan Amuda, minta waktu untuk pulang dulu ke Imlila sampai blegdaba-blegdaba liar dari Ngabesin atau Mesir datang mengisi kandang-kandang kalisli.

“Kabari secepatnya jika sudah sampai kiriman blegdabanya, Tuan.”

“Ya. Cepatlah kemari jika urusanmu di rumah sudah selesai. Paling dua tiga hari lagi, kandang-kandang kalisli di belakang akan terisi. Aku sudah memesan jauh-jauh hari pada Kaulebale, pemasok kita di Ngabesin.”

“Baiklah, Tuan, segera setelah tak ada urusan lagi di Imlila, aku kembali. Salam!”

“Salam.”

Belum turun malam ketika Bandarjani sampai di Imlila, sebuah dusun di sebelah utara dari wilayah kota Dara. Imlila berada di kaki bukit yang merupakan gugusan dari gunung Buyuk Mahalesi. Kabut menyelimuti pepohonan pinus. Udara dingin membuat Bandarjani meninggikan kerah bajunya, membebat lehernya dengan syal tebal, dan menurunkan topi yang membuat rambutnya yang ikal dan tebal itu menutupi telinga. Bergegas ia masuk ke dalam rumah ayahnya Daundari dan menyapa kedua orangtuanya, “Salam, Ayah. Ibu.” Ia membungkuk menyentuhkan jemari tangan kanannya pada kaki ayahnya lalu menyentuhkan jemari yang tadi disentuhkan ke kaki ayahnya itu ke dahinya. Begitu pula pada ibunya ia lakukan hal yang sama.

“Salam. Anakku. Bagaimana keadaanmu?”

Di hadapan kedua orangtuanya, ia mengambil sikap menyembah dengan menempelkan kedua tangan hingga seluruh jari dan telapak tangan seperti bersatu dan diletakkan di depan dadanya.

“Aku baik-baik saja, Ayah, Ibu. Bagaimana pula dengan kalian? Adakah yang mencemaskan kalian? Tadi pagi aku melihat dua prajurit sandi Ngalabani ke arah Imlila. Apakah mereka bertemu kalian?”

“Minumlah dulu, duduklah dulu. Jangan membahas hal-hal yang bukan-bukan.”

Ayahnya mendorong tubuh Bandarjani dengan lembut. Menyuruh Bandarjani pergi ke meja di mana terhidang makanan dan minuman.

“Ayah. Ibu, kalian sudah makan malam? Ayo kita makan malam bersama,” ajak Bandarjani.

“Duduklah. Makanlah. Kami sudah tak selera untuk makan malam,” jawab ibunya lembut.

Bandarjani mengambil piring, mengisinya dengan makanan, lalu duduk dan mulai melahap makanan itu. Dipikir-pikir, dari tadi pagi, ia hanya sempat sarapan. Belum makan siang. Dan belum mandi.

“Bandarjani,” kata ibunya, “Lain kali sebelum makan, mandilah dahulu. Tidak sopan!” Rupanya bau rambutnya yang terkena kotoran burung, bau badannya yang seperti bau kotoran blegdaba, membuat ibunya mengurungkan niat menemani anaknya yang sedang makan sambil berbincang-bincang.

“Aduh. Maaf, Ibu. Saya lupa. Sudah kelaparan. Tadi siang belum sempat makan.”

Meski sudah minta maaf, ibunya tetap beralih ke ruangan lain. Mungkin bersiap tidur.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai saybinu, Nak?” Tanya ayahnya.

“Baik-baik saja, Ayah. Hanya saja sekarang pasokan blegdaba mulai berkurang. Entah karena apa.”

Ayahnya terdiam. Seolah dibiarkan sementara Bandarjani asyik mengunyah makanan. Namun Bandarjani tahu, ada sesuatu yang sedang disembunyikan orangtuanya.

“Apakah ada perang di sebelah selatan, Ayah? Di Ngabesin? Di Mesir? Di Mekah? Atau di Kuristam?” Bandarjani menebak-nebak saja. Ngabesin dan Mesir, negeri penghasil blegdaba terletak di selatan Sasaniyah, Ngerum. Mekah dan Kuristam juga sama letaknya di sebelah selatan. Hanya Medayin dan Kuparman yang terletak sejajar dan sedikit ke utara. Jauh di sana ada Khankhan, juga Rus. Ngalabani sendiri berada di barat Ngerum. Selan dan Serandil jauh ke timur. Di seberang lautan luas.

“Dugaanmu benar. Akan ada perang besar di Kuristam. Dalangnya adalah raja Jobin, raja pengelana yang tak lagi berdiam di Kaos sejak ditaklukkan oleh Amir Ambyah. Raja Jobin selalu menentang Amir Ambyah, tapi ia sendiri saja tak akan kuat. Ia selalu menghasut kerajaan-kerajaan lain. Kali ini ia menyebarkan desas-desus bahwa Kuparman akan mengajukan penarikan pajak dan upeti dari kerajaan Khankhan. Tentu saja raja Ukman Kenahan merasa keberatan. Musim dingin panjang belum berlalu di Khankhan. Hasil pertanian dan peternakan juga belum bisa dipanen. Dengan apa mereka bisa membayar upeti dan pajak pada Kuparman?”

“Ukman Kenahan terpancing dengan desas-desus itu, Ayah?”

“Ya. Ukman Kenahan merasa Medayin tidak memikirkan nasib rakyatnya. Ia ingin memberontak. Kepada semua raja bawahan Kuparman, ia mengirim surat. Termasuk ke Ngalabani.”

“Lalu, mengapa terjadi perang di Kuristam, jika yang dihasut itu Khankhan?”

“Karena Maktal, raja kita di Ngalabani adalah sekutu setia Kuparman, ia memberitahu Ukman Kenahan bahwa tidak pernah ada ucapan dari Nusirwan, Amir Ambyah atau siapapun di Kuparman yang bakal menyengsarakan rakyat Khankhan. Kalau seandainya ada usulan mengajukan jadwal penarikan pajak dan upeti atau bahkan menaikkannya dan raja bawahan merasa keberatan, silakan mengadu pada Nusirwan, Amir Ambyah, atau ratu Dewi Retna Muninggar. Semua akan dibatalkan. Begitulah yang disampaikan oleh Maktal kepada Ukman Kenahan. Dan setelah mendengar nasehat Maktal, Ukman Kenahan minta agar Raja Jobin jujur, mengapa ia menebar desas-desus seperti itu. Raja Jobin tidak terima dianggap berbohong. Ia pun menantang perang Khankhan dengan menghasut kepada Raja Bahman, raja Kuristam, bahwa Kuristam akan diserbu oleh Amir Ambyah dari KhanKhan. Itulah sebabnya akan ada perang di Kuristam.”

“Apakah Kuparman akan diam saja dengan perang yang terjadi di negeri bawahan mereka?”

“Tentu, Kuparman tidak tinggal diam. Semua raja diperintahkan menyebarkan prajurit-prajurit sandi untuk mendatangi orang-orang yang dianggap berpengaruh pada masyarakat tentang bahayanya desas-desus Jobin. Ini untuk mencegah Jobin mendapatkan bantuan dari raja-raja lain. Selain itu mereka juga diperintahkan untuk memberitahu kejadian yang sebenarnya terjadi antara Jobin dan Khankhan agar kita makin waspada pada kebohongan-kebohongan yang diembuskan mereka yang tidak suka dengan Kuparman.”

“Kuparman tidak mengirim pasukan ke Kuristam untuk menangkap raja Jobin?”

Daundriya terkekeh mendengar pertanyaan Bandarjani.

“Untuk apa raja Jobin ditangkap, meski sering memusuhi Amir Ambyah, ia tidak akan punya keberanian lagi berhadapan langsung dengan Kuparman?”

“Jadi mereka akan dibiarkan bertempur habis-habisan berdua?”

“Tentu tidak. Ada upaya-upaya rahasia sedang akan dijalankan.”

“Rahasia?”

“Kau tahu betapa politik itu sangat kotor. Lawan bisa jadi teman jika kepentingannya sama. Teman bisa jadi lawan jika punya pemikiran berbeda. Jobin sebenarnya bukanlah apa-apa karena kekuatannya juga tak seberapa. Ia dibiarkan berkeliaran dan mengancam hanya agar negara-negara jajahan Amir Ambyah terus bahu-membahu sebagai satu kesatuan dari kemaharajaan Wong Agung itu yang terbentang dari Mekkah, Atas Angin hingga Manca dan Nuswantara. Jobin hanya seekor hiu anakan dalam kolam penuh ikan salmon agar nelayan mendapatkan ikan-ikan salmon yang sehat.”

Comments