“Aku
pulang dulu ke Imlila, ke rumah orangtuaku. Sampai bertemu minggu depan, ya!”
“Yakin
kau tak mau pergi bersama kami ke pantai Kataniya nanti sore?”
“Ayolah
Darjani. Sekali-kali kita habiskan uang kita untuk minum dilaits yang wangi dan
manis itu!”
“Kau tak
mau memandang wajah dan dada gadis-gadis yang cantik yang mencari pemandangan
matahari tenggelam di tepi danau?”
Memang
semua yang diucapkan Baktiadar dan teman-temanya itu impian Bandarjani sejak
berhari-hari lalu. Namun Bandarjani tak mau pergi beramai-ramai dengan mereka.
Masak sudah berminggu minggu berkumpul sepanjang hari dengan mereka akan
menghabiskan waktu akhir bulan dengan mereka juga?
“Maaf,”
kata Bandarjani sambil menggeleng dan melambai tangan tanda tak mau turut dalam
rencana mereka, “Aku harus pulang ke Imlila. Tadi aku melihat dua orang
prajurit sandi Ngalabani pergi ke utara. Aku kuatir terjadi sesuatu di
Ngalabani, dan ayahku diminta kembali ke sana. Aku akan mencari tahu soal itu
sekarang. Maaf. Lain kali aku akan bersenang-senang lagi bersama kalian.”
Bandarjani
juga berpamitan dengan Amuda, minta waktu untuk pulang dulu ke Imlila sampai
blegdaba-blegdaba liar dari Ngabesin atau Mesir datang mengisi kandang-kandang
kalisli.
“Kabari
secepatnya jika sudah sampai kiriman blegdabanya, Tuan.”
“Ya.
Cepatlah kemari jika urusanmu di rumah sudah selesai. Paling dua tiga hari
lagi, kandang-kandang kalisli di belakang akan terisi. Aku sudah memesan
jauh-jauh hari pada Kaulebale, pemasok kita di Ngabesin.”
“Baiklah,
Tuan, segera setelah tak ada urusan lagi di Imlila, aku kembali. Salam!”
“Salam.”
Belum
turun malam ketika Bandarjani sampai di Imlila, sebuah dusun di sebelah utara
dari wilayah kota Dara. Imlila berada di kaki bukit yang merupakan gugusan dari
gunung Buyuk Mahalesi. Kabut menyelimuti pepohonan pinus. Udara dingin membuat
Bandarjani meninggikan kerah bajunya, membebat lehernya dengan syal tebal, dan
menurunkan topi yang membuat rambutnya yang ikal dan tebal itu menutupi
telinga. Bergegas ia masuk ke dalam rumah ayahnya Daundari dan menyapa kedua
orangtuanya, “Salam, Ayah. Ibu.” Ia membungkuk menyentuhkan jemari tangan
kanannya pada kaki ayahnya lalu menyentuhkan jemari yang tadi disentuhkan ke
kaki ayahnya itu ke dahinya. Begitu pula pada ibunya ia lakukan hal yang sama.
“Salam.
Anakku. Bagaimana keadaanmu?”
Di
hadapan kedua orangtuanya, ia mengambil sikap menyembah dengan menempelkan
kedua tangan hingga seluruh jari dan telapak tangan seperti bersatu dan
diletakkan di depan dadanya.
“Aku
baik-baik saja, Ayah, Ibu. Bagaimana pula dengan kalian? Adakah yang
mencemaskan kalian? Tadi pagi aku melihat dua prajurit sandi Ngalabani ke arah
Imlila. Apakah mereka bertemu kalian?”
“Minumlah
dulu, duduklah dulu. Jangan membahas hal-hal yang bukan-bukan.”
Ayahnya
mendorong tubuh Bandarjani dengan lembut. Menyuruh Bandarjani pergi ke meja di
mana terhidang makanan dan minuman.
“Ayah.
Ibu, kalian sudah makan malam? Ayo kita makan malam bersama,” ajak Bandarjani.
“Duduklah.
Makanlah. Kami sudah tak selera untuk makan malam,” jawab ibunya lembut.
Bandarjani
mengambil piring, mengisinya dengan makanan, lalu duduk dan mulai melahap
makanan itu. Dipikir-pikir, dari tadi pagi, ia hanya sempat sarapan. Belum
makan siang. Dan belum mandi.
“Bandarjani,”
kata ibunya, “Lain kali sebelum makan, mandilah dahulu. Tidak sopan!” Rupanya
bau rambutnya yang terkena kotoran burung, bau badannya yang seperti bau
kotoran blegdaba, membuat ibunya mengurungkan niat menemani anaknya yang sedang
makan sambil berbincang-bincang.
“Aduh.
Maaf, Ibu. Saya lupa. Sudah kelaparan. Tadi siang belum sempat makan.”
Meski
sudah minta maaf, ibunya tetap beralih ke ruangan lain. Mungkin bersiap tidur.
“Bagaimana
dengan pekerjaanmu sebagai saybinu, Nak?” Tanya ayahnya.
“Baik-baik
saja, Ayah. Hanya saja sekarang pasokan blegdaba mulai berkurang. Entah karena
apa.”
Ayahnya
terdiam. Seolah dibiarkan sementara Bandarjani asyik mengunyah makanan. Namun
Bandarjani tahu, ada sesuatu yang sedang disembunyikan orangtuanya.
“Apakah
ada perang di sebelah selatan, Ayah? Di Ngabesin? Di Mesir? Di Mekah? Atau di
Kuristam?” Bandarjani menebak-nebak saja. Ngabesin dan Mesir, negeri penghasil
blegdaba terletak di selatan Sasaniyah, Ngerum. Mekah dan Kuristam juga sama
letaknya di sebelah selatan. Hanya Medayin dan Kuparman yang terletak sejajar
dan sedikit ke utara. Jauh di sana ada Khankhan, juga Rus. Ngalabani sendiri
berada di barat Ngerum. Selan dan Serandil jauh ke timur. Di seberang lautan
luas.
“Dugaanmu
benar. Akan ada perang besar di Kuristam. Dalangnya adalah raja Jobin, raja
pengelana yang tak lagi berdiam di Kaos sejak ditaklukkan oleh Amir Ambyah.
Raja Jobin selalu menentang Amir Ambyah, tapi ia sendiri saja tak akan kuat. Ia
selalu menghasut kerajaan-kerajaan lain. Kali ini ia menyebarkan desas-desus
bahwa Kuparman akan mengajukan penarikan pajak dan upeti dari kerajaan
Khankhan. Tentu saja raja Ukman Kenahan merasa keberatan. Musim dingin panjang
belum berlalu di Khankhan. Hasil pertanian dan peternakan juga belum bisa
dipanen. Dengan apa mereka bisa membayar upeti dan pajak pada Kuparman?”
“Ukman
Kenahan terpancing dengan desas-desus itu, Ayah?”
“Ya.
Ukman Kenahan merasa Medayin tidak memikirkan nasib rakyatnya. Ia ingin
memberontak. Kepada semua raja bawahan Kuparman, ia mengirim surat. Termasuk ke
Ngalabani.”
“Lalu,
mengapa terjadi perang di Kuristam, jika yang dihasut itu Khankhan?”
“Karena
Maktal, raja kita di Ngalabani adalah sekutu setia Kuparman, ia memberitahu
Ukman Kenahan bahwa tidak pernah ada ucapan dari Nusirwan, Amir Ambyah atau
siapapun di Kuparman yang bakal menyengsarakan rakyat Khankhan. Kalau
seandainya ada usulan mengajukan jadwal penarikan pajak dan upeti atau bahkan
menaikkannya dan raja bawahan merasa keberatan, silakan mengadu pada Nusirwan,
Amir Ambyah, atau ratu Dewi Retna Muninggar. Semua akan dibatalkan. Begitulah
yang disampaikan oleh Maktal kepada Ukman Kenahan. Dan setelah mendengar
nasehat Maktal, Ukman Kenahan minta agar Raja Jobin jujur, mengapa ia menebar
desas-desus seperti itu. Raja Jobin tidak terima dianggap berbohong. Ia pun
menantang perang Khankhan dengan menghasut kepada Raja Bahman, raja Kuristam,
bahwa Kuristam akan diserbu oleh Amir Ambyah dari KhanKhan. Itulah sebabnya
akan ada perang di Kuristam.”
“Apakah
Kuparman akan diam saja dengan perang yang terjadi di negeri bawahan mereka?”
“Tentu,
Kuparman tidak tinggal diam. Semua raja diperintahkan menyebarkan prajurit-prajurit
sandi untuk mendatangi orang-orang yang dianggap berpengaruh pada masyarakat
tentang bahayanya desas-desus Jobin. Ini untuk mencegah Jobin mendapatkan
bantuan dari raja-raja lain. Selain itu mereka juga diperintahkan untuk
memberitahu kejadian yang sebenarnya terjadi antara Jobin dan Khankhan agar
kita makin waspada pada kebohongan-kebohongan yang diembuskan mereka yang tidak
suka dengan Kuparman.”
“Kuparman
tidak mengirim pasukan ke Kuristam untuk menangkap raja Jobin?”
Daundriya
terkekeh mendengar pertanyaan Bandarjani.
“Untuk
apa raja Jobin ditangkap, meski sering memusuhi Amir Ambyah, ia tidak akan
punya keberanian lagi berhadapan langsung dengan Kuparman?”
“Jadi
mereka akan dibiarkan bertempur habis-habisan berdua?”
“Tentu
tidak. Ada upaya-upaya rahasia sedang akan dijalankan.”
“Rahasia?”
“Kau tahu
betapa politik itu sangat kotor. Lawan bisa jadi teman jika kepentingannya
sama. Teman bisa jadi lawan jika punya pemikiran berbeda. Jobin sebenarnya
bukanlah apa-apa karena kekuatannya juga tak seberapa. Ia dibiarkan berkeliaran
dan mengancam hanya agar negara-negara jajahan Amir Ambyah terus bahu-membahu
sebagai satu kesatuan dari kemaharajaan Wong Agung itu yang terbentang dari
Mekkah, Atas Angin hingga Manca dan Nuswantara. Jobin hanya seekor hiu anakan
dalam kolam penuh ikan salmon agar nelayan mendapatkan ikan-ikan salmon yang
sehat.”

Comments
Post a Comment