5. Alibi dan Ancaman



Bandarjani tetap berusaha menekankan lututnya pada dada blegdaba itu meskipun tubuhnya terombang-ambing di atas punggung blegdaba yang terus berjingkrak, berlari, mobat-mabit ke kanan dan ke kiri, seolah ingin segera terbebas dari mahluk yang menungganginya. Dalam waktu itu, Bandarjani kembali merapal mantra Amir Ambyah untuk Kalisehak, “Hai angin yang sumilir. Kalau belum sampai samudera, jangan coba-coba untuk mampir. Di sini aku terpaksa berdiam, menjaga agar aman pusaka Baginda Soleman – genta madu dan seruling bambu. Siapa saja yang ingin membunyikannya, bersiaplah pada hukuman paling pilu. Diam, diamlah angin. Diam dan tunduk bersamaku.” Dan begitu mantra itu selesai diucapkan, blegdaba jantan itu seolah lemas lalu ambruk. Beruntung Bandarjani berhasil melompat untuk menghindari ia jatuh bersama blegdaba itu ke tanah.

Melihat Bandarjani melompat dan sudah berhasil berdiri di samping blegdaba yang jatuh, Sepek dan gerombolan pengepung Bandarjani segera maju. Bersiap menghajar Bandarjani.

“TUNGGU!”

Perempuan yang Bandarjani duga sebagai pemilik rumah penjinakan memecah riuh rendah suara teriakan Sepek dan para saybinu serta penjaga lain yang merubung Bandarjani. Langkah perempuan itu juga membuat orang-orang di depannya segera menyingkir untuk membuat jalan baginya maju menjumpai Bandarjani. Begitu ia berdiri di hadapan Bandarjani, terlihat bahwa perempuan itu punya paras yang cantik seperti gadis-gadis Turki yang diimpikan Bandarjani untuk bisa digodai di tepi Danau Telamis. Matanya terlihat nyalang meskipun terasa lembut tatapannya. Mata yang terlihat seperti percampuran ras barat dan timur di mana lingkar matanya agak menyipit di bagian ujung luar, tetapi bagian tengah bola matanya berwarna pirus. Rambutnya pun tidak hitam sempurna, tapi ada semburat kemerah-merahan seperti rambut jagung.

Bandarjani menundukkan pandangan. Begitulah ia diajar oleh ayahnya untuk bersikap hormat terhadap perempuan. Kedua tangannya dikatupkan membentuk sikap menyerah. Sebelum perempuan itu bersuara lagi, ia lebih dulu mengucapkan salam, “Salam Puan. Hamba Bandarjani, seorang saybinu dari rumah penjinakan milik Amuda. Mohon maaf sudah membuat kegaduhan di sini.”

Dengan wajah tetap marah, perempuan itu menegurnya, “Oh. Jadi kamu seorang saybinu. Lalu bagaimana bisa kau berada di dibek milikku?”

“Ampun beribu ampun, Puan. Hamba hanya kebetulan lewat dari arah belakang rumah penjinakan ini. Dari Imlila, rumah orang tua hamba, mau kembali ke rumah penjinakan Amuda. Karena embik blegdaba jantan hitam ini, hamba tertarik untuk melihatnya. Dan ternyata…”

“CUKUP!”

Bandarjani terkejut mendengar perempuan itu mencegahnya bicara lebih lanjut mengutarakan alasan palsunya. Ia menduga apakah terlalu kentara ia berdusta sehingga perempuan itu tak ingin mendengarkan lebih lanjut alasannya ataukah perempuan itu memang tipe perempuan yang tak mudah dibohongi?

“Jika kau berniat untuk pindah dari tempat kerjamu di Amuda ke rumah penjinakan milikku, bukan begini caranya! Lagipula, kalau kau ingin menunjukkan kebisaanmu sebagai syabinu bukan di dibek, tapi di kalisli! Sekarang sebutkan apa alasanmu berada di kandang dibek milikku!

Bandarjani melirik. Ia melihat Sepek dan para lelaki yang mengepungnya bertambah merapat. Segala macam benda mulai diayun-ayun tanda siap menyerang. Otot-otot di pipi mereka menegang menahan amarah. Kali ini ia harus mengeluarkan alasan yang bisa membuat orang-orang ini terutama perempuan pemilik rumah penjinakan ini percaya.

“Puan. Dengan segala kerendahan hati, hamba mengaku bersalah.” Bandarjani menghentikan perkataannya untuk melihat reaksi perempuan itu. Ketika dirasa perempuan itu bergeming, ia melanjutkan, “Hamba bersalah karena tanpa izin memasuki rumah pejinakan ini. Namun seperti yang hamba utarakan tadi. Saya mendengar embik blegdaba jantan berwarna hitam ini. Hamba melihat ada yang salah. Blegdaba jantan ini sedang dalam masa berahi. Seharusnya dipisahkan dulu dengan blegdaba jantan lainnya. Sebab jika blegdaba jantan tengah berahi dan berada di tengah-tengah blegdaba jantan lainnya, meskipun ia sudah jinak, ia akan memulai perkelahian dengan blegdaba jantan lainnya. Untuk memperebutkan betina. Jika itu terjadi, berapa kerugian yang akan Puan tanggung dari blegdaba jantan lain yang terluka? Itulah mengapa hamba berada di dibek ini bukan di kalisli untuk berusaha menjinakkan blegdaba ini, supaya bisa dipindahkan. Disendirikan.”

“Begitu?”

Perempuan itu menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari seseorang dalam gerombolan yang mengepung Bandarjani.

“Mana Tohkaran?”

Seseorang lelaki bertubuh tinggi, berkulit legam, berambut keriting, segera mendekat. Wajahnya cukup keras. Meski bagi Bandarjani ia terlihat lucu juga karena bibir dan hidungnya yang bulat nyaris bertemu saking tebalnya kedua belah bibirnya. Dari ciri fisiknya, Bandarjani tahu bahwa Tohkaran pasti orang Ngabesin dan sekitarnya. Makanya ia dianggap paling tahu soal belgada daripada orang lain di rumah penjinakan ini.

“Coba periksa blegdaba itu, Tohkaran. Benarkah ia sedang dalam masa berahi?”

Lelaki yang disebut namanya itu tanpa berkata-kata maju mendekati blegdaba yang terjatuh lemas di dekat kaki Bandarjani. Ia menepuk-nepuk punggung binatang itu, mengelus-elusnya sambil akhirnya tangannya mengarah pada lakang binatang itu dan tak berapa lama terdengar lenguh binatang itu seperti terkejut. Rupanya Tohkaran meremas buah pelir blegdaba itu. Dan karena diremas buah pelirnya, blegdaba itu terhuyung-huyung segera bangkit. Rombongan pengadang Bandarjani surut mundur beberapa langkah. Namun binatang itu tidak menerjang, melainkan memutar badan dan sedikit berlari ke sudut kandang.

“Benar, Puteri Mandi Taim, ia sedang berahi.”

“Tunggu apa lagi, lekas pisahkan ia!” Perintah Mandi Taim lagi padanya. Kini, wajah tegang penuh amarah dari para pengadang Bandarjani mulai mengendur. Meski tak terlihat senang, tapi setidaknya mereka sepertnya sudah mulai mempercayai cerita Bandarjani. Beberapa orang membantu Tohkaran menangkap dan mengarahkan blegdaba jantan hitam itu ke luar dari dibek.

Puteri Mandi Taim masih bergeming di depan Bandarjani.

“Aku tidak akan meminta maaf atau berterima kasih kepadamu sebab kedatanganmu ke mari pagi-pagi begini sudah merusak suasana di hatiku. Menurutku, kau juga tak perlu repot-repot menundukkan blegdaba itu jika kerja anak buahku becus. Sekarang, silakan kau lanjutkan perjalananmu ke Amuda. Aku harus mengembalikan suasana hatiku yang berantakan gara-gara keributan di pagi hari ini. Para emban, segera siapkan sarapan untukku!” Rampung berkata, Mandi Taim melengos dan tak memperdulikan lagi keberadaan Bandarjani.

Ketus benar Mandi Taim ini! Pikir Bandarjani. Namun dengan dipersilakan pergi, ia sudah cukup bersyukur bahwa aksinya hendak mencuri blegdaba tak dicurigai seisi rumah penjinakan ini.

Bandarjani hendak melangkahkan kaki ketika Sepek menepuk bahunya dan berkata, “Jangan coba-coba menipuku ya, Anak muda!” Bandarjani terkesiap mendengar ucapan Sepek. Apakah sebenarnya Sepek tahu bahwa ia memang hendak mencuri blegdaba di sini? Tepukan Sepek kembali terjadi di bahunya. Sepek tak mau melepaskan Bandarjani. Beberapa kali tepuk, tangan berat Sepek kemudian diam di bahu Bandarjani. Jari-jarinya membentuk sebuah cengkeraman.

“Kalau benar kau datang dari arah Ilmila, tentu pintu kandang dibek sebelah selatan ini tak akan terbuka. Seharusnya, pintu sebelah utaralah yang kaubuka. Namun aku menghormati keputusan Puteri Mandi Taim melepasmu. Pulanglah. Jangan coba-coba kembali untuk mencuri blegdaba yang kuawasi! Kalau kau datang lagi, kau akan langsung berhadapan denganku.”

Bandarjani terdiam. Ia biarkan Sepek meremas-remas pundaknya dalam sebuah cengkeraman yang sedikit-sedikit terasa bertambah kencang dan keras. Ia tahu Sepek tak akan menyakitinya lebih dari itu saat ini.

Comments