“Yang Mulia Raja Lamdahur, maafkan saya,” Bandarjani bermaksud pamit, “Saya sudah mengantuk sekali. Mohon dimaafkan jika saya undur diri untuk tidur. Mungkin juga ada banyak rahasia...”
Daundari
menyela perkataan Bandarjani, “Sudah. Sudah. Sana pergi tidur.”
“Baik,
Ayah. Permisi Yang Mulia Raja.”
Sebenarnya
Bandarjani ingin tahu apa yang hendak dibicarakan oleh ayahnya dengan Raja
Lamdahur, apa daya ayahnya justru tidak ingin pembicaraan mereka didengar
olehnya.
Setelah
Bandarjani menyingkir, Lamdahur memberi isyarat kepada Daundari agar mereka
meninggalkan penginapan. Lamdahur melompat ke atap penginapan, lalu melesat
meninggalkan kota, mengara ke sebuah hutan kecil di pinggiran kota yang
dinamakan Alani Talim. Daundari mengikutinya.
Namun
saat mengikuti Lamdahur, Daundari merasa ada orang lain yang bergerak bersama
dirinya dengan jarak yang cukup sulit untuk disergap olehnya. Kalau Daundari
memperlambat larinya, ia akan tertinggal dari Lamdahur, meski itu bisa
membuatnya menangkap sosok yang mengikutinya. Namun kalau berlari lebih cepat
menempel Lamdahur, ia tak akan bisa mengetahui siapa sosok yang berlari
mengikuti dirinya itu.
“Raja
Lamdahur, tunggu aku!” Teriak Daundari.
Lamdahur,
mendengar teriakan Daundari akhirnya menghentikan larinya, “Ada apa, Patih
Daundari?”
“Ada …”
“Aku
tahu,” kata Lamdahur dengan mata yang tajam mengawasi sekitar, dan katanya
lagi, ”Sebentar, biar kusergap dia!”
Lamdahur
meninggalkan Daundari, bergerak ke arah yang berlawanan dengan arah lari
mereka, dan tak berapa lama terdengar orang berteriak, “Aduh!”
Daundari
kemudian mendengar Lamdahur bersungut-sungut, “Ah. Kau rupanya! Mengapa kau
mengikutiku!”
Daundari
terkesiap. Ia berpikir jangan-jangan Bandarjani yang mengikuti mereka. Ingin
tahu benar anak itu dengan pembicaraan yang akan dilakukan oleh Lamdahur dan
ayahnya. Anak tak tahu sopan santun – pikirnya!
Lamdahur
muncul dengan memiting seseorang. Beberapa kali tangannya yang besar
mengusap-usap rambut lelaki yang dipitingnya. Wajahnya tidak terlalu jelas
karena lelaki itu menunduk. Membiarkan rambutnya yang sebahu dan acak-acakan
menutupi sebagian wajahnya.
“Ada-ada
saja. Kau. Ayo, salam sama paman Patih Daundari!” Desak Lamdahur sambil
melepaskan pitingan dan mendorong bahu lelaki itu ke arah Daundari yang berada
di hadapannya.
“Siapa
dia?” Tanya Daundari pada Lamdahur.
“Siapa
lagi kalau bukan Pirngadi! Sontoloyo! Bikin kaget Pamanmu saja.”
“A..Ampun
Ayah. Ampun Paman.”
Daundari
menyongsong lelaki itu. Merangkulnya.
“Oalah,
Angger mengagetkan saya. Saya pikir musuh dari mana.”
“Coba
kalau tadi Pamanmu yang menyergap serta memukulmu dengan tenaganya. Kau bisa
celaka!” Gerutu Lamdahur.
“Ya. Ya.
Ampun Ayah. Ampun Paman.”
“Tak apa,
Ngger. Anakmas Pirngadi mau ke mana sebenarnya?”
Pirngadi
lantas menceritakan kegusaran ayahnya, Lamdahur, sebelum ia meninggalkan
Serandil. Karena menurut Pirngadi kegusaran ayahnya tak cukup beralasan, maka
ia minta ayahnya bertenang hati. Daundari manggut-manggut mendengar penjelasan
Pirngadi.
“Ya benar
apa yang dikatakan oleh Raden Pirngadi, anakmu, Raja Lamdahur. Apa urusannya,
Medayin, Kuparman, atau Kaos atas tahta di Serandil meskipun memang Serandil
sudah takluk pada mereka. Mau Raden Hirman berkuasa di Kaos, atau bahkan Sayid
Abdul Ngumar yang masih belia itu naik tahta menjadi maharaja, tak sesiapa bisa
mengganggu keputusanmu untuk menjadi Raden Pirngadi naik tahta di Serandil.
Mereka pasti mendukung hal itu.” Daundari mendukung pendapat Pirngadi.
“Tapi aku
kurang setuju jika Sayid Ibnu Ngumar yang masih remaja itu menjadi raja. Aku
lebih setuju jika Pangeran Maryunani, putera tertua Amir Ambyah dari Sekar
Kedhaton yang menjadi raja.”
Pirngadi
dan Daundari sama-sama bertanya pada Lamdahur, “Alasannya?”
Lamdahur
lalu menceritakan kepada keduanya perihal pengangkatan Maryunani sebagai raja
di Kaos sewaktu Amir Ambyah hendak menolong Prabu Nusirwan yang tengah diserang
oleh Raja Jobin. Di tengah perjalanan, rombongan pasukan Amir Ambyah bertemu
dengan pasukan dari Kaos yang hendak memberi bantuan pada Raja Jobin.
Peperangan antar dua pasukan pemberi bantuang itu pun segera berlangsung.
Akhirnya Amir Ambyah menang dan Kaos pun direbut. Puteri Raja Jobin dinikahkan
dengan Maryunani, sedangkan istri Raja Jobin diberikan pada panglima perang
Umarmadi. Setelah itu Amir Ambyah kembali mengejar raja Jobin. Untuk itulah
Maryunani diangkat menjadi raja di Kaos, sementara Amir Ambyah pergi.
“Jadi,”
kata Lamdahur memberi tekanan pada perkataannya, untuk menegaskan pendapatnya,
dan lanjutnya, “Pewaris tahta Amir Ambyah seharusnya adalah Maryunani. Karena
dia pernah menduduki tahta Kaos.”
“Nah.
Kalau pada akhirnya Sayid Ibnu Ngumar yang diangkat, apa pula salahnya, Ayah,
Ia masih kemenakan dari Raden Maryunani juga.” Pirngadi masih mencoba
menyangkal pendapat ayahnya.
Namun
Lamdahur tetap bergeming, sebab menurutnya, “Lain halnya jika Medayin yang
jatuh pada Sayid Ibnu Ngumar. Medayin itu hak Nusirwan, mertua Amir Ambyah,
kakeknya. Meskipun anak Nusirwan tidak hanya Dewi Retna Muninggar. Masih ada
Hirman dan yang lainnya.”
“Jadi,
Raja Lamdahur,” potong Daundari, “Apakah Tuan ingin dan akan ikut campur dengan
persoalan dalam negeri Kuparman?”
Lamdahur
mendengus. Matanya mendelik. Ia merasa pertanyaan Daundari bermaksud untuk
memojokkannya.
“Patih
Daundari, orang Ngalabani, aku tidak peduli dengan itu semua. Aku hanya ingin
setiap negara yang walaupun telah menjadi jajahan Amir Ambyah termasuk negeriku
sendiri, Serandil, dalam keadaan aman dan damai. Aku tidak suka jika Raja Kobat
Sarehas yang diangkat oleh Prabu Nusirwan sebagai petinggi kerajaan Medayin
sehari-hari itu melakukan kelicikan yang luar biasa dan mengatur negara-negara
jajahan juga. Belum lagi dengan tingkah Raja Jobin yang meski tak lagi
berkuasa, tetapi dengan kedigdayaan dan pengaruh yang luar biasa, ia bisa
pergi, menghasut, dan menebarkan peperangan di mana-mana. Kombinasi inilah yang
membuat Atas Angin, Manca, dan Nuswantara selalu kisruh!” Lamdahur berkata
dengan nada yang jengkel.
Menyimak
dengan hati-hati omongan Lamdahur, Daundari melunakkan pendapatnya, kali ini ia
lebih mengedepankan persoalan dalam negerinya, Ngalabani, “Hamba juga punya
niat yang sama, Raja Lamdahur. Itulah sebabnya, hamba kembali mengunjungi
Ngalabani, untuk memberi nasehat pada Raja Maktal, junjungan hamba, agar
memperkuat persaudaran dan kekeluargaan dengan negeri-negeri jajahan lain.
Jangan sampai mengalami apa yang sekarang terjadi dengan Khankhan.”
“Nah!
Nah! Aku suka dengan pendapatmu itu,” Lamdahur akhirnya tersenyum. Ia menjadi
antusias dengan ucapan Daundari mengenai memperkuat persaudaraan dan
kekeluargaan negeri-negeri jajahan Amir Ambyah. Lalu lanjutnya, “Coba kau
jelaskan bagaimana caranya agar negara-negara jajahan Amir Ambyah bisa bersatu
padu! Aku juga ingin mendengar usulanmu.”
Daundari
menjelaskan pada Lamdahur mengenai pentingnya negara-negara jajahan atau
taklukan Amir Ambyah membentuk suatu kerjasama multilateral sebagai negara yang
berpatron pada Kuparman, misalnya, semacam persemakmuran. Bisa juga
negara-negara di bawah Kuparman yang kaya membentuk semacam badan usaha bersama
yang bertujuan untuk memakmurkan negara-negara jajahan atau taklukan Amir
Ambyah lain yang masih berkembang atau bahkan terbelakang. Dengan demikian,
antar negara-negara itu semua bisa saling dukung kekuatan ekonomi misalkan ada
kebutuhan dari Amir Ambyah untuk membantu kampanye perang dari negara Kuparman,
miliknya, atau dari Medayin, milik keluarga mertuanya Nusirwan, untuk
melebarkan wilayah. Selain ekonomi, perlu juga dilakukan kerjasama di bidang
militer antar negara-negara itu. Jika selama ini pasukan masing-masing negara
diminta membantu, mungkin nanti akan terbentuk semacam legiun bersama yang
kemampuannya bisa setara. Untuk ini perlu kerjasama antar sekolah militer di
masing-masing negara, belum lagi soal latihan gabungan bersama, dan sebagainya.
Dua hal ini, yaitu ekonomi dan militer, sangat penting untuk bisa dipererat
kerjasamanya, sebab selama ini yang dihadapi oleh negara-negara bawahan Amir
Ambyah adalah peperangan dan kerugian akibat perang serta penarikan upeti pada
pusat. Padahal mereka mengalami itu semua justru karena menjadi taklukan Amir
Ambyah.
Lamdahur
tersenyum lebar, mengangkat ibu jari tangan kanannya tanda usul Daundari yang
telah ia dengar begitu cemerlang, sementara tangan kirinya menepuk-nepuk bahu
Daundari.
Di
belakang mereka, Pirngadi juga berdecak kagum pada pemikiran Daundari.
“Benar-benar
Patih yang sangat pintar, kau Daundari. Layak kalau Raja Masbahan mempercayakan
Maktal kepadamu selama pembelajaran.”
“Tidak
begitu juga, Raja Lamdahur, Raja Maktal juga cerdas. Sampai sekarang ia jadi
sekutu paling setia dan dibanggakan Amir Ambyah di berbagai medan perang,”
Daundari merendah.
“Aku
setuju jika Serandil membantu negara-negara lain soal peperangan. Ayahku
panglima andalan Amir Ambyah selain Patih Umarmaya,” kata Pirngadi turut campur
dalam pembicaraan ayahnya dan Daundari.
“Paman
Patih Daundari, di mana saudaraku Bandarjani?” tanya Pirngadi kemudian.
“Ah. Dia
istirahat di penginapan. Rasanya saya juga harus pamit, Tuan-tuan, supaya ia
tidak terlalu cemas. Lagi pula besok, kami mesti mengejar pelayaran ke tanah
seberang.”
Lamdahur
tampak masih berpikir, jarinya dinaikkan memain-mainkan janggut dan kumisnya,
alisnya masih tertekuk.
“Tunggu,
Daundari, apakah menurutmu sebaiknya kulupakan soal Kobat Sarehas?”
Pirngadi
merasa detak jantungnya berhenti saat ayahnya masih menyebut nama putera Amir
Ambyah itu.
“Sebaiknya
begitu, Raja Lamdahur. Sebaiknya begitu. Tidak ada gunanya kita menghancurkan
cita-cita kita untuk bersatu padu di tengah pergolakan ini. Bukankah nanti di
kemudian hari, kita juga tidak yakin bahwa Amir Ambyah akan terus berada di
Medayin, atau di Kuparman, atau di Kaos, sekarang saja Amir Ambyah lebih sering
pulang ke Mekah. Lalu anak-anaknya, apakah mereka akan bisa bertahan tanpa
adanya ayahnya, atau penjagaan Umar Maya, atau bahkan kau sendiri, Raja
Lamdahur, apakah kau akan selalu melindungi mereka?”
Pirngadi
tersenyum mendengar jawaban Daundari. Tepat apa yang pernah ayahnya katakan
padanya bahwa Serandil harus berkuasa sepenuhnya akan negerinya sendiri, tanpa
turut campur dari keluarga Amir Ambyah, bahkan raja-raja bawahannya. Meskipun,
Serandil saat ini dianggap sebagai taklukan Amir Ambyah. Lagi pula, ayahnya tak
pernah benar-benar menyerah pada Amir Ambyah.
“Jadi,
aku harus lebih memperhatikan Serandil saja?”
“Menurut
hamba, akan sulit bagi Tuan berbuat seperti itu. Jika tak menuruti perintah
Amir Ambyah, tentu akan dicurigai. Kalau terus-terusan begitu, Serandil bisa
tak terurus. Lebih baik, ini sekadar saran hamba saja, angkat angger Pirngadi
menjadi penatalaksana tertinggi untuk mengurus urusan dalam negeri Serandil.
Seperti halnya Kobat Sarehas di Medayin. Sedangkan Tuan tetap saja berlaku
seperti sekarang ini, supaya tak menimbulkan kecurigaan dari pihak Amir Ambyah
pada Tuan. Dan ini adalah langkah yang paling bijaksana daripada memberontak
atau membunuh keluarga Amir Ambyah.”
Lamdahur
manggut-manggut. Kini giliran Pirngadi yang makin tidak jenak. Ia tidak bisa
membayangkan mengurus Serandil yang selama ini sering ia tinggalkan karena
terus mengikut pasukan Serandil bersama-sama berjuang dengan Amir Ambyah, Umar
Maya, dan pasukan-pasukan negara-negara taklukan seperti Ngerum, Ngalabani,
pasukan dari Raja Samtanus dan Tamtanus, dan yang lain-lain. Terakhir, ia baru
saja turut serta dalam dua perang besar yaitu di Bangid dan di Kaos.

Comments
Post a Comment