10. Saran Daundari

             


“Yang Mulia Raja Lamdahur, maafkan saya,” Bandarjani bermaksud pamit, “Saya sudah mengantuk sekali. Mohon dimaafkan jika saya undur diri untuk tidur. Mungkin juga ada banyak rahasia...”

Daundari menyela perkataan Bandarjani, “Sudah. Sudah. Sana pergi tidur.”

“Baik, Ayah. Permisi Yang Mulia Raja.”

Sebenarnya Bandarjani ingin tahu apa yang hendak dibicarakan oleh ayahnya dengan Raja Lamdahur, apa daya ayahnya justru tidak ingin pembicaraan mereka didengar olehnya.

Setelah Bandarjani menyingkir, Lamdahur memberi isyarat kepada Daundari agar mereka meninggalkan penginapan. Lamdahur melompat ke atap penginapan, lalu melesat meninggalkan kota, mengara ke sebuah hutan kecil di pinggiran kota yang dinamakan Alani Talim. Daundari mengikutinya.

Namun saat mengikuti Lamdahur, Daundari merasa ada orang lain yang bergerak bersama dirinya dengan jarak yang cukup sulit untuk disergap olehnya. Kalau Daundari memperlambat larinya, ia akan tertinggal dari Lamdahur, meski itu bisa membuatnya menangkap sosok yang mengikutinya. Namun kalau berlari lebih cepat menempel Lamdahur, ia tak akan bisa mengetahui siapa sosok yang berlari mengikuti dirinya itu.

“Raja Lamdahur, tunggu aku!” Teriak Daundari.

Lamdahur, mendengar teriakan Daundari akhirnya menghentikan larinya, “Ada apa, Patih Daundari?”

“Ada …”

“Aku tahu,” kata Lamdahur dengan mata yang tajam mengawasi sekitar, dan katanya lagi, ”Sebentar, biar kusergap dia!”

Lamdahur meninggalkan Daundari, bergerak ke arah yang berlawanan dengan arah lari mereka, dan tak berapa lama terdengar orang berteriak, “Aduh!”

Daundari kemudian mendengar Lamdahur bersungut-sungut, “Ah. Kau rupanya! Mengapa kau mengikutiku!”

Daundari terkesiap. Ia berpikir jangan-jangan Bandarjani yang mengikuti mereka. Ingin tahu benar anak itu dengan pembicaraan yang akan dilakukan oleh Lamdahur dan ayahnya. Anak tak tahu sopan santun – pikirnya!

Lamdahur muncul dengan memiting seseorang. Beberapa kali tangannya yang besar mengusap-usap rambut lelaki yang dipitingnya. Wajahnya tidak terlalu jelas karena lelaki itu menunduk. Membiarkan rambutnya yang sebahu dan acak-acakan menutupi sebagian wajahnya.

“Ada-ada saja. Kau. Ayo, salam sama paman Patih Daundari!” Desak Lamdahur sambil melepaskan pitingan dan mendorong bahu lelaki itu ke arah Daundari yang berada di hadapannya.

“Siapa dia?” Tanya Daundari pada Lamdahur.

“Siapa lagi kalau bukan Pirngadi! Sontoloyo! Bikin kaget Pamanmu saja.”

“A..Ampun Ayah. Ampun Paman.”

Daundari menyongsong lelaki itu. Merangkulnya.

“Oalah, Angger mengagetkan saya. Saya pikir musuh dari mana.”

“Coba kalau tadi Pamanmu yang menyergap serta memukulmu dengan tenaganya. Kau bisa celaka!” Gerutu Lamdahur.

“Ya. Ya. Ampun Ayah. Ampun Paman.”

“Tak apa, Ngger. Anakmas Pirngadi mau ke mana sebenarnya?”

Pirngadi lantas menceritakan kegusaran ayahnya, Lamdahur, sebelum ia meninggalkan Serandil. Karena menurut Pirngadi kegusaran ayahnya tak cukup beralasan, maka ia minta ayahnya bertenang hati. Daundari manggut-manggut mendengar penjelasan Pirngadi.

“Ya benar apa yang dikatakan oleh Raden Pirngadi, anakmu, Raja Lamdahur. Apa urusannya, Medayin, Kuparman, atau Kaos atas tahta di Serandil meskipun memang Serandil sudah takluk pada mereka. Mau Raden Hirman berkuasa di Kaos, atau bahkan Sayid Abdul Ngumar yang masih belia itu naik tahta menjadi maharaja, tak sesiapa bisa mengganggu keputusanmu untuk menjadi Raden Pirngadi naik tahta di Serandil. Mereka pasti mendukung hal itu.” Daundari mendukung pendapat Pirngadi.

“Tapi aku kurang setuju jika Sayid Ibnu Ngumar yang masih remaja itu menjadi raja. Aku lebih setuju jika Pangeran Maryunani, putera tertua Amir Ambyah dari Sekar Kedhaton yang menjadi raja.”

Pirngadi dan Daundari sama-sama bertanya pada Lamdahur, “Alasannya?”

Lamdahur lalu menceritakan kepada keduanya perihal pengangkatan Maryunani sebagai raja di Kaos sewaktu Amir Ambyah hendak menolong Prabu Nusirwan yang tengah diserang oleh Raja Jobin. Di tengah perjalanan, rombongan pasukan Amir Ambyah bertemu dengan pasukan dari Kaos yang hendak memberi bantuan pada Raja Jobin. Peperangan antar dua pasukan pemberi bantuang itu pun segera berlangsung. Akhirnya Amir Ambyah menang dan Kaos pun direbut. Puteri Raja Jobin dinikahkan dengan Maryunani, sedangkan istri Raja Jobin diberikan pada panglima perang Umarmadi. Setelah itu Amir Ambyah kembali mengejar raja Jobin. Untuk itulah Maryunani diangkat menjadi raja di Kaos, sementara Amir Ambyah pergi.

“Jadi,” kata Lamdahur memberi tekanan pada perkataannya, untuk menegaskan pendapatnya, dan lanjutnya, “Pewaris tahta Amir Ambyah seharusnya adalah Maryunani. Karena dia pernah menduduki tahta Kaos.”

“Nah. Kalau pada akhirnya Sayid Ibnu Ngumar yang diangkat, apa pula salahnya, Ayah, Ia masih kemenakan dari Raden Maryunani juga.” Pirngadi masih mencoba menyangkal pendapat ayahnya.

Namun Lamdahur tetap bergeming, sebab menurutnya, “Lain halnya jika Medayin yang jatuh pada Sayid Ibnu Ngumar. Medayin itu hak Nusirwan, mertua Amir Ambyah, kakeknya. Meskipun anak Nusirwan tidak hanya Dewi Retna Muninggar. Masih ada Hirman dan yang lainnya.”

“Jadi, Raja Lamdahur,” potong Daundari, “Apakah Tuan ingin dan akan ikut campur dengan persoalan dalam negeri Kuparman?”

Lamdahur mendengus. Matanya mendelik. Ia merasa pertanyaan Daundari bermaksud untuk memojokkannya.

“Patih Daundari, orang Ngalabani, aku tidak peduli dengan itu semua. Aku hanya ingin setiap negara yang walaupun telah menjadi jajahan Amir Ambyah termasuk negeriku sendiri, Serandil, dalam keadaan aman dan damai. Aku tidak suka jika Raja Kobat Sarehas yang diangkat oleh Prabu Nusirwan sebagai petinggi kerajaan Medayin sehari-hari itu melakukan kelicikan yang luar biasa dan mengatur negara-negara jajahan juga. Belum lagi dengan tingkah Raja Jobin yang meski tak lagi berkuasa, tetapi dengan kedigdayaan dan pengaruh yang luar biasa, ia bisa pergi, menghasut, dan menebarkan peperangan di mana-mana. Kombinasi inilah yang membuat Atas Angin, Manca, dan Nuswantara selalu kisruh!” Lamdahur berkata dengan nada yang jengkel.

Menyimak dengan hati-hati omongan Lamdahur, Daundari melunakkan pendapatnya, kali ini ia lebih mengedepankan persoalan dalam negerinya, Ngalabani, “Hamba juga punya niat yang sama, Raja Lamdahur. Itulah sebabnya, hamba kembali mengunjungi Ngalabani, untuk memberi nasehat pada Raja Maktal, junjungan hamba, agar memperkuat persaudaran dan kekeluargaan dengan negeri-negeri jajahan lain. Jangan sampai mengalami apa yang sekarang terjadi dengan Khankhan.”

“Nah! Nah! Aku suka dengan pendapatmu itu,” Lamdahur akhirnya tersenyum. Ia menjadi antusias dengan ucapan Daundari mengenai memperkuat persaudaraan dan kekeluargaan negeri-negeri jajahan Amir Ambyah. Lalu lanjutnya, “Coba kau jelaskan bagaimana caranya agar negara-negara jajahan Amir Ambyah bisa bersatu padu! Aku juga ingin mendengar usulanmu.”

Daundari menjelaskan pada Lamdahur mengenai pentingnya negara-negara jajahan atau taklukan Amir Ambyah membentuk suatu kerjasama multilateral sebagai negara yang berpatron pada Kuparman, misalnya, semacam persemakmuran. Bisa juga negara-negara di bawah Kuparman yang kaya membentuk semacam badan usaha bersama yang bertujuan untuk memakmurkan negara-negara jajahan atau taklukan Amir Ambyah lain yang masih berkembang atau bahkan terbelakang. Dengan demikian, antar negara-negara itu semua bisa saling dukung kekuatan ekonomi misalkan ada kebutuhan dari Amir Ambyah untuk membantu kampanye perang dari negara Kuparman, miliknya, atau dari Medayin, milik keluarga mertuanya Nusirwan, untuk melebarkan wilayah. Selain ekonomi, perlu juga dilakukan kerjasama di bidang militer antar negara-negara itu. Jika selama ini pasukan masing-masing negara diminta membantu, mungkin nanti akan terbentuk semacam legiun bersama yang kemampuannya bisa setara. Untuk ini perlu kerjasama antar sekolah militer di masing-masing negara, belum lagi soal latihan gabungan bersama, dan sebagainya. Dua hal ini, yaitu ekonomi dan militer, sangat penting untuk bisa dipererat kerjasamanya, sebab selama ini yang dihadapi oleh negara-negara bawahan Amir Ambyah adalah peperangan dan kerugian akibat perang serta penarikan upeti pada pusat. Padahal mereka mengalami itu semua justru karena menjadi taklukan Amir Ambyah.

Lamdahur tersenyum lebar, mengangkat ibu jari tangan kanannya tanda usul Daundari yang telah ia dengar begitu cemerlang, sementara tangan kirinya menepuk-nepuk bahu Daundari.

Di belakang mereka, Pirngadi juga berdecak kagum pada pemikiran Daundari.

“Benar-benar Patih yang sangat pintar, kau Daundari. Layak kalau Raja Masbahan mempercayakan Maktal kepadamu selama pembelajaran.”

“Tidak begitu juga, Raja Lamdahur, Raja Maktal juga cerdas. Sampai sekarang ia jadi sekutu paling setia dan dibanggakan Amir Ambyah di berbagai medan perang,” Daundari merendah.

“Aku setuju jika Serandil membantu negara-negara lain soal peperangan. Ayahku panglima andalan Amir Ambyah selain Patih Umarmaya,” kata Pirngadi turut campur dalam pembicaraan ayahnya dan Daundari.

“Paman Patih Daundari, di mana saudaraku Bandarjani?” tanya Pirngadi kemudian.

“Ah. Dia istirahat di penginapan. Rasanya saya juga harus pamit, Tuan-tuan, supaya ia tidak terlalu cemas. Lagi pula besok, kami mesti mengejar pelayaran ke tanah seberang.”

Lamdahur tampak masih berpikir, jarinya dinaikkan memain-mainkan janggut dan kumisnya, alisnya masih tertekuk.

“Tunggu, Daundari, apakah menurutmu sebaiknya kulupakan soal Kobat Sarehas?”

Pirngadi merasa detak jantungnya berhenti saat ayahnya masih menyebut nama putera Amir Ambyah itu.

“Sebaiknya begitu, Raja Lamdahur. Sebaiknya begitu. Tidak ada gunanya kita menghancurkan cita-cita kita untuk bersatu padu di tengah pergolakan ini. Bukankah nanti di kemudian hari, kita juga tidak yakin bahwa Amir Ambyah akan terus berada di Medayin, atau di Kuparman, atau di Kaos, sekarang saja Amir Ambyah lebih sering pulang ke Mekah. Lalu anak-anaknya, apakah mereka akan bisa bertahan tanpa adanya ayahnya, atau penjagaan Umar Maya, atau bahkan kau sendiri, Raja Lamdahur, apakah kau akan selalu melindungi mereka?”

Pirngadi tersenyum mendengar jawaban Daundari. Tepat apa yang pernah ayahnya katakan padanya bahwa Serandil harus berkuasa sepenuhnya akan negerinya sendiri, tanpa turut campur dari keluarga Amir Ambyah, bahkan raja-raja bawahannya. Meskipun, Serandil saat ini dianggap sebagai taklukan Amir Ambyah. Lagi pula, ayahnya tak pernah benar-benar menyerah pada Amir Ambyah.

“Jadi, aku harus lebih memperhatikan Serandil saja?”

“Menurut hamba, akan sulit bagi Tuan berbuat seperti itu. Jika tak menuruti perintah Amir Ambyah, tentu akan dicurigai. Kalau terus-terusan begitu, Serandil bisa tak terurus. Lebih baik, ini sekadar saran hamba saja, angkat angger Pirngadi menjadi penatalaksana tertinggi untuk mengurus urusan dalam negeri Serandil. Seperti halnya Kobat Sarehas di Medayin. Sedangkan Tuan tetap saja berlaku seperti sekarang ini, supaya tak menimbulkan kecurigaan dari pihak Amir Ambyah pada Tuan. Dan ini adalah langkah yang paling bijaksana daripada memberontak atau membunuh keluarga Amir Ambyah.”

Lamdahur manggut-manggut. Kini giliran Pirngadi yang makin tidak jenak. Ia tidak bisa membayangkan mengurus Serandil yang selama ini sering ia tinggalkan karena terus mengikut pasukan Serandil bersama-sama berjuang dengan Amir Ambyah, Umar Maya, dan pasukan-pasukan negara-negara taklukan seperti Ngerum, Ngalabani, pasukan dari Raja Samtanus dan Tamtanus, dan yang lain-lain. Terakhir, ia baru saja turut serta dalam dua perang besar yaitu di Bangid dan di Kaos.

Comments